HumasUPNVJ – Focus Group Discussion (FGD) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) bersama Gerakan Bela Negara Indonesia (GBNI) menghasilkan sejumlah arah strategis untuk memperkuat aktualisasi nilai bela negara di tengah masyarakat. Forum yang berlangsung di Kampus UPNVJ Pondok Labu, Jakarta Selatan, Sabtu (15/8/2026), merumuskan empat fokus utama, yakni penguatan nilai bela negara secara lintas sektor, implementasi melalui pendekatan nirmiliter dan penguatan karakter, pengembangan Aktualisasi Bela Negara (ABN), serta pemberdayaan masyarakat di wilayah pedesaan dan daerah yang membutuhkan penguatan.

FGD menjadi bagian dari rangkaian Pelantikan Dewan Pengurus Pusat dan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) GBNI. Diskusi mempertemukan pengurus GBNI, akademisi, serta pengelola pembelajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) untuk membahas bentuk implementasi bela negara yang lebih konkret, kontekstual, dan berdampak.

Salah satu poin utama yang mengemuka ialah perlunya memperkuat penanaman nilai bela negara melalui kolaborasi lintas sektor. Forum menilai upaya tersebut tidak dapat hanya dilakukan oleh satu institusi, tetapi membutuhkan keterlibatan perguruan tinggi, pemerintah, organisasi masyarakat, sekolah, pesantren, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Pendekatan nirmiliter juga menjadi salah satu fokus pembahasan. Bela negara diarahkan pada penguatan karakter, kedisiplinan, etika, tanggung jawab sosial, serta kemampuan menghadapi tantangan kehidupan masyarakat.

ABN UPNVJ Jadi Salah Satu Praktik yang Dibahas

Dalam FGD, Dr. Azwar menyampaikan pengalaman UPNVJ melalui program Aktualisasi Bela Negara (ABN). Program tersebut menjadi salah satu bentuk implementasi nilai bela negara yang dikembangkan agar mahasiswa tidak hanya memahami konsep kebangsaan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kegiatan yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

Praktik tersebut memperkuat posisi UPNVJ sebagai Kampus Bela Negara yang mengintegrasikan nilai kebangsaan dalam pembelajaran dan pengembangan karakter mahasiswa.

Penguatan aktualisasi juga dilakukan melalui pembelajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK).

Aniek Irawati menjelaskan bahwa secara substansi pembelajaran, MKWK diarahkan menghasilkan proyek yang dikaitkan dengan implementasi nilai bela negara. Proyek tersebut dapat dikembangkan melalui kolaborasi yang memberi dampak bagi mahasiswa maupun masyarakat.

Metode pembelajaran juga dapat memanfaatkan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), untuk mendukung proses pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat secara relevan serta bertanggung jawab.

Melalui pendekatan berbasis proyek, mahasiswa didorong tidak hanya menguasai materi akademik, tetapi juga mengidentifikasi persoalan, bekerja sama, membangun kepedulian sosial, dan menghasilkan solusi yang dapat diterapkan di masyarakat.

Desa Menjadi Salah Satu Sasaran Aktualisasi

FGD juga menempatkan wilayah pedesaan dan daerah yang membutuhkan penguatan sebagai salah satu sasaran penting aktualisasi bela negara.

Penguatan di wilayah tersebut tidak hanya diarahkan pada aspek karakter, tetapi juga dapat menyentuh sektor ekonomi, sosial, kesehatan, serta kehidupan bermasyarakat. Pendekatan ini bertujuan agar nilai bela negara hadir melalui kontribusi konkret terhadap kebutuhan masyarakat.

Forum turut membahas pentingnya penggunaan kearifan lokal dalam setiap program. Pendekatan bela negara di satu daerah dinilai tidak harus sama dengan daerah lain, tetapi dapat menyesuaikan karakter sosial, budaya, dan kebutuhan masyarakat setempat.

Arahkan Program hingga Sekolah dan Organisasi Masyarakat

Selain menghasilkan fokus substantif, FGD juga merumuskan sejumlah sasaran tindak lanjut bagi GBNI.

Salah satunya ialah memperkuat keberadaan organisasi di berbagai provinsi dengan mengutamakan program Aktualisasi Bela Negara yang dapat menyasar sekolah, organisasi masyarakat, pesantren, dan komunitas di desa.

Pelaksanaan program diarahkan melalui kerja sama lintas sektor dengan unsur pemerintah maupun nonpemerintah.

Dalam pemaparan program kerja, Dr. Kukuh menjelaskan bahwa sejumlah bentuk aktualisasi bela negara telah dilakukan, antara lain pembinaan kedisiplinan bagi aparatur sipil negara (ASN), pendidikan bela negara untuk siswa sekolah dasar, serta kegiatan pembinaan bagi santri di pondok pesantren.

Program lainnya meliputi pelatihan bagi penghafal Al-Qur'an atau hafiz yang dipersiapkan berkontribusi kepada masyarakat, kegiatan Peraturan Baris-Berbaris (PBB), pembentukan tata krama, serta etika penggunaan media sosial.

Praktik-praktik tersebut menjadi bahan pembahasan untuk melihat model yang dapat dikolaborasikan lebih lanjut dengan UPNVJ.

Untitled_design_(5).png

Dorong Tindak Lanjut Kolaborasi UPNVJ–GBNI

FGD juga menghasilkan dorongan agar pembahasan tidak berhenti pada forum, tetapi diteruskan dalam bentuk rencana tindak lanjut.

Salah satu usulan ialah memperkuat kerja sama antara UPNVJ dan GBNI dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, termasuk pembinaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan sasaran yang lebih inklusif, termasuk kelompok berkebutuhan khusus.

Selain itu, pemanfaatan media digital dinilai penting untuk memperluas jangkauan edukasi bela negara. Aniek mengusulkan agar kanal komunikasi digital, terutama Instagram, dapat dioptimalkan untuk menyampaikan pesan bela negara dengan format yang lebih dekat dengan generasi muda.

Hasil FGD tersebut menegaskan bahwa aktualisasi bela negara membutuhkan pendekatan yang multidimensi. Pendidikan karakter, pemberdayaan masyarakat, pemanfaatan teknologi, kearifan lokal, dan kolaborasi lintas sektor menjadi bagian yang saling berkaitan.

Bagi UPNVJ, forum tersebut memperkuat komitmen Kampus Bela Negara untuk menghadirkan nilai kebangsaan dalam bentuk yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.