Dari Kisah Salman Al-Farisi, Prof. Suwendi Ingatkan Sivitas Akademika UPNVJ tentang Keseimbangan Hidup

HumasUPNVJ – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) menjadi momentum refleksi bagi sivitas akademika untuk memahami kembali makna keberagamaan yang tidak hanya berorientasi pada ritual, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama.

Dalam tausyiahnya, Prof. Dr. K.H. Suwendi, M.Ag., Guru Besar UIN Jakarta, mengajak sivitas akademika UPNVJ untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW melalui keseimbangan menjalankan peran manusia sebagai hamba Allah (abdullah) sekaligus khalifah di muka bumi.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M yang mengusung tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW dalam Membangun Generasi Bela Negara yang Religius, Berintegritas, dan Berakhlak Mulia” tersebut berlangsung pada Senin (28/9/2026) di Auditorium Bhinneka Tunggal Ika Lantai 4 UPNVJ.

Mengawali tausyiahnya, Prof. Suwendi mengangkat kisah persaudaraan antara Salman Al-Farisi dan Abu Darda’ sebagai contoh pentingnya keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Dalam kisah yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari tersebut, Salman mengingatkan Abu Darda’ bahwa manusia memiliki tanggung jawab yang harus dipenuhi secara seimbang.

“Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak atasmu, dirimu mempunyai hak atasmu, dan keluargamu mempunyai hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap orang yang mempunyai hak akan haknya,” demikian pesan Salman Al-Farisi yang dikutip dalam materi tausyiah Prof. Suwendi.

Menurut Prof. Suwendi, pesan tersebut menggambarkan bahwa keberagamaan tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia kepada Allah SWT, tetapi juga mencakup tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sosial.

Ia menjelaskan, manusia dalam perspektif Islam memiliki dua kedudukan utama, yaitu sebagai hamba Allah yang menunjukkan ketundukan dan kepasrahan kepada Allah SWT, serta sebagai khalifah di muka bumi yang memiliki peran untuk menjaga, mengelola, dan memberikan manfaat bagi kehidupan.

Ibadah Harus Melahirkan Kepedulian Sosial

Dalam pemaparannya, Prof. Suwendi menekankan bahwa kualitas keberagamaan seseorang tidak cukup hanya diukur dari pelaksanaan ibadah secara personal, tetapi juga dari dampaknya terhadap kehidupan sosial.

Ia menjelaskan adanya perbedaan paradigma keberagamaan, mulai dari pendekatan formalistik yang menekankan aspek lahiriah dan aturan ibadah, pendekatan substansialistik yang menekankan makna dan nilai di balik ibadah, hingga pendekatan terpadu yang menggabungkan keduanya.

“Islam menghendaki, di samping saleh secara individual, juga saleh secara sosial, keduanya berjalan beriringan dalam praktik keberagamaan,” menjadi salah satu pesan yang ditekankan dalam materi tausyiah tersebut.

Prof. Suwendi mengaitkan pesan tersebut dengan Surah Al-Ma’un yang mengingatkan bahwa keberagamaan tidak boleh berhenti pada ritual semata. Menurutnya, ibadah harus menghadirkan kepedulian terhadap kelompok yang membutuhkan, seperti membantu sesama dan membangun solidaritas sosial.

Ia juga menyampaikan hadis Nabi Muhammad SAW mengenai pentingnya mencintai sesama sebagai bagian dari kesempurnaan iman.

“Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri,” demikian pesan hadis yang disampaikan dalam materi tausyiah.

Menjaga Akhlak di Tengah Kemajuan Zaman

Lebih lanjut, Prof. Suwendi mengingatkan bahwa seseorang dapat kehilangan makna keberagamaannya apabila ibadah yang dilakukan tidak tercermin dalam perilaku sehari-hari. Ia mengangkat hadis Nabi SAW tentang orang yang disebut “bangkrut”, yaitu mereka yang membawa banyak amal ibadah tetapi masih melakukan tindakan yang merugikan dan menyakiti orang lain.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa akhlak memiliki posisi penting dalam kehidupan seorang muslim. Kejujuran, menjaga lisan, menghormati orang lain, serta menghindari tindakan yang merugikan sesama merupakan bagian dari implementasi nilai Islam dalam kehidupan sosial.

Moderasi Beragama dan Semangat Bela Negara

Dalam bagian akhir tausyiahnya, Prof. Suwendi juga membahas pentingnya moderasi beragama sebagai cara pandang dalam menjalankan kehidupan beragama di tengah masyarakat yang beragam.

Ia menjelaskan bahwa moderasi beragama merupakan sikap menjalankan ajaran agama dengan tetap menjaga martabat manusia dan membangun kemaslahatan umum berdasarkan prinsip adil, berimbang, serta menaati konstitusi sebagai kesepakatan kehidupan berbangsa.

Menurutnya, terdapat empat indikator penting dalam moderasi beragama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan menghargai tradisi.

Nilai tersebut sejalan dengan semangat bela negara yang menjadi identitas UPNVJ. Bela negara, menurut pesan yang disampaikan dalam tausyiah, tidak hanya diwujudkan melalui tindakan besar, tetapi juga melalui sikap sehari-hari seperti menjaga integritas, menghargai keberagaman, bekerja secara bertanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini, UPNVJ mengajak seluruh sivitas akademika untuk menjadikan keteladanan Rasulullah SAW sebagai inspirasi dalam membangun pribadi yang unggul secara keilmuan sekaligus kuat dalam karakter, kepedulian sosial, dan tanggung jawab kebangsaan.

Berita Sebelumnya

UPNVJ Gelar Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Perkuat Karakter Generasi Bela Negara Berakhlak Mulia

Berita Selanjutnya

Mahasiswa FK UPNVJ Raih Juara 1 Lomba Esai Ilmiah MESENTERICA 2026 Bahas Inovasi AI di Bidang Imunologi