Raih Juara 1 Duta GenRe Indonesia 2026, Shofwah UPNVJ Perjuangkan Aspirasi dan Kesehatan Reproduksi Remaja

HumasUPNVJ – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ). Roidah A’isyi Shofwah, mahasiswa Program Studi S1 Hubungan Internasional UPNVJ, berhasil meraih Juara 1 Putri Duta Generasi Berencana (GenRe) Indonesia 2026 setelah melewati rangkaian seleksi tingkat nasional yang diikuti perwakilan dari berbagai provinsi di Indonesia.

Bagi Shofwah, kemenangan tersebut bukan sekadar pencapaian di atas panggung. Gelar Duta GenRe Indonesia justru menjadi bentuk apresiasi sekaligus dorongan untuk memperluas pengabdian kepada remaja melalui Forum GenRe dan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R).

“Bagi saya, kemenangan bukanlah satu-satunya tujuan, tapi apresiasi dan motivasi untuk mengabdi secara berkelanjutan untuk membangun Forum GenRe serta Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R),” ujar Shofwah. Menurutnya, pencapaian tersebut memberinya semangat untuk terus melanjutkan perjuangan sekaligus menampung aspirasi remaja dari berbagai kalangan.

Perjalanan Panjang Menuju Tingkat Nasional

Prestasi nasional yang diraih Shofwah tidak diperoleh dalam waktu singkat. Perjalanannya sebagai Duta GenRe dimulai pada 2024 ketika ia menjadi Duta GenRe Kecamatan Sukmajaya. Pada tahun yang sama, ia kemudian terpilih sebagai Juara 1 Duta GenRe Kota Depok.

Setahun berikutnya, Shofwah melanjutkan kiprahnya dan berhasil meraih Juara 1 Duta GenRe Jawa Barat 2025. Setelah menjalani sekitar satu tahun masa pengabdian di tingkat provinsi, ia akhirnya memperoleh kesempatan melaju ke tingkat nasional hingga berhasil menjadi Juara 1 Duta GenRe Indonesia 2026.

Proses seleksi tingkat nasional pun berlangsung ketat. Para finalis harus melewati seleksi administrasi, menyusun laporan pembinaan dan reaktivasi PIK-R, menjalani reels challenge setiap pekan, wawancara, motion challenge, hingga akhirnya mencapai tahap grand final.

Namun sejak awal, Shofwah mengaku tidak menjadikan gelar juara sebagai satu-satunya target.

“Sedari awal, saya selalu berkomitmen, apa pun hasil yang saya dapatkan, semoga ilmu dan pengalamannya dapat bermanfaat dan bisa saya bagikan ke orang-orang sekitar,” ungkapnya.

Prinsip tersebut membuat Shofwah memandang kompetisi sebagai ruang belajar. Ia memperoleh banyak pengalaman tidak hanya dari materi dan pembekalan, tetapi juga dari perjumpaannya dengan finalis dari berbagai provinsi, anggota PIK-R, hingga remaja di sekolah luar biasa (SLB), pesantren, dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Reaktivasi PIK-R Jadi Tantangan Terberat

Di balik pencapaiannya, terdapat proses panjang yang tidak banyak terlihat publik. Shofwah menyebut reaktivasi PIK-R sebagai salah satu tahapan yang paling berat selama seleksi nasional.

Setiap finalis diwajibkan membina lima PIK-R sekaligus mereaktivasi lima PIK-R, sehingga total terdapat 10 PIK-R yang harus diberdayakan. Proses tersebut juga harus dibuktikan melalui berbagai dokumen dan laporan serta dokumentasi kegiatan.

Reaktivasi, menurut Shofwah, bukan sekadar membentuk kelompok baru, melainkan menghidupkan kembali PIK-R yang tercatat tidak aktif dalam Sistem Informasi Keluarga Kemendukbangga/BKKBN. Prosesnya membutuhkan koordinasi berlapis dari tingkat provinsi, kota, kecamatan, kelurahan hingga organisasi perangkat daerah yang menangani keluarga berencana.

Di tengah proses itu, Shofwah harus berkeliling ke sejumlah wilayah di Jawa Barat sembari menjalankan kewajibannya sebagai mahasiswa magang. Hari kerja ia gunakan untuk menjalankan tugas magang, sedangkan akhir pekan banyak dihabiskan untuk menyelesaikan tahapan seleksi Duta GenRe.

Tantangan semakin besar ketika rangkaian seleksi berlangsung bersamaan dengan Rapat Kerja Nasional di tempatnya magang, Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia. Shofwah harus berada di Medan selama 10 hari sebagai bagian dari kepanitiaan yang menangani pemerintah dari 98 kota di Indonesia, sambil tetap mengerjakan tugas-tugas seleksi nasional setiap pekan.

Keterbatasan waktu membuatnya harus mencari celah untuk merekam video, melakukan penyuntingan, menyusun laporan, hingga menyelesaikan berbagai tahapan seleksi lainnya. Setelah kembali dari Medan, aktivitasnya berlanjut dengan perjalanan rutin Depok–Bandung untuk mengikuti pembinaan Duta GenRe di tingkat Jawa Barat.

Bawa Isu Partisipasi Pemuda hingga Pencegahan Kekerasan Seksual

Bagi Shofwah, Duta GenRe bukan sekadar gelar maupun kompetisi. Bersama Forum GenRe dan PIK-R, ia ingin memperjuangkan partisipasi pemuda yang inklusif dan bermakna (Meaningful and Inclusive Youth Participation), kesetaraan gender, serta pencegahan kekerasan pada remaja, khususnya kekerasan seksual.

Upaya tersebut dilakukan dengan menjangkau remaja dari berbagai latar belakang, termasuk komunitas di kampung pemulung, sekolah luar biasa, panti asuhan, pesantren, dan PKBM.

Dalam kompetisi, Shofwah juga membawa inovasi “Remaja Keren Peduli Kesehatan Reproduksi” berupa booklet interaktif yang mengintegrasikan Comprehensive Sexuality Education (CSE) dengan pendekatan Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI). Materi tersebut dapat diakses secara digital melalui Instagram dan diperkuat dengan kampanye digital.

Shofwah menilai salah satu kekuatan yang membantunya selama perjalanan tersebut adalah karakter dan kemampuannya membangun ruang komunikasi yang nyaman. Finalis lain, menurutnya, kerap melihat dirinya bukan sebagai lawan dalam kompetisi, melainkan sebagai individu yang terbuka untuk belajar dan saling menguatkan. Ia juga terus mengasah kemampuan public speaking serta pemahaman substansi mengenai Generasi Berencana.

Gelar Nasional Jadi Awal Tanggung Jawab Baru

Setelah meraih gelar nasional, Shofwah tidak ingin program yang telah dijalankannya berhenti bersama berakhirnya kompetisi. Ia melanjutkan pendampingan terhadap PIK-R yang sebelumnya telah dibina maupun direaktivasi, mulai dari SMPN 3 Depok, SMA Tugu Ibu Depok, SMK Dwiguna, hingga sejumlah PIK-R berbasis masyarakat di tingkat RW.

Setiap PIK-R dikembangkan dengan inovasi sesuai kebutuhan masing-masing. Di PIK-R Seruni, misalnya, masyarakat mengolah minyak jelantah menjadi sabun pencuci piring yang dapat dipasarkan secara komersial. Sementara di PIK-R SMPN 3 Depok, program juga menjangkau remaja dari panti asuhan untuk memperoleh edukasi kesehatan reproduksi.

Bagi Shofwah, menyandang gelar Juara 1 Putri Duta GenRe Indonesia justru menandai dimulainya tanggung jawab yang lebih besar.

“Tanggung jawab yang lebih besar menanti saya, yakni memberdayakan PIK-R di seluruh Indonesia dan menjadi perpanjangan tangan remaja agar aspirasi mereka dapat didengarkan oleh pemerintah,” katanya.

Aspirasi remaja tersebut, lanjut Shofwah, didorong melalui forum musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang), mulai dari tingkat desa dan kecamatan hingga pemerintah pusat.

Ingin Bersinergi dengan PIK-R Patriot UPNVJ

Di lingkungan kampus, Shofwah juga ingin membawa pengalaman dan jejaring yang diperolehnya untuk semakin mendekatkan program GenRe kepada mahasiswa UPNVJ.

UPNVJ memiliki PIK-R Patriot, yang juga menjadi ruang pengembangan Duta GenRe. Shofwah berharap dapat bersinergi dengan PIK-R Patriot agar semakin banyak mahasiswa mengenal program GenRe sekaligus terlibat dalam kegiatan yang memberikan dampak bagi remaja dan masyarakat.

Di tengah berbagai aktivitasnya, Shofwah tetap menempatkan akademik sebagai prioritas. Ia menjaga komunikasi dengan dosen dan teman-temannya, mempelajari kembali materi sebelum mengikuti perkuliahan, serta berusaha menyelesaikan tanggung jawab akademik terlebih dahulu ketika harus membagi waktu dengan kegiatan Duta GenRe.

Ke depan, salah satu target besar Shofwah adalah memperluas fasilitator sebaya “Remaja Keren Peduli Kesehatan Reproduksi”. Saat ini, fasilitator sebaya tersebut telah terbentuk di Jawa Barat dan menjalankan edukasi dengan pendekatan peer learning. Ia berharap model tersebut dapat direplikasi bersama PIK-R di berbagai daerah di Indonesia.

Kepada mahasiswa UPNVJ yang masih ragu mengambil langkah untuk mengejar mimpi, Shofwah menitipkan pesan agar tidak menunggu diri menjadi sempurna sebelum memulai.

“Tak perlu sempurna untuk bertumbuh. Kita perlu lompatan pertama agar dapat melaju hingga ke langkah yang ke-1.000. Jika prosesnya diniatkan dengan tulus untuk menebarkan kebaikan, Insya Allah jalannya akan senantiasa dimudahkan dan segala hal yang kita temui akan dilimpahkan keberkahan,” pungkas Shofwah.

Berita Sebelumnya

Dari FGD ke Lapangan, UPNVJ Mulai Persiapkan Lahan untuk Pengembangan Kelor