HumasUPNVJ – Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) memperkuat kemampuan berpikir kritis mahasiswa baru melalui materi Critical Thinking dalam program PROSPEKTIV 2026. Dalam proses produksi video pembelajaran untuk program tersebut, Dekan Fakultas Teknik UPNVJ, Prof. Dr. Eng. Ir. Teguh Firmansyah, S.T., M.T., IPM., ASEAN.Eng., menekankan pentingnya kemampuan menalar, memeriksa informasi, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Materi yang disiapkan bagi mahasiswa Tahun Akademik 2026/2027 ini menghubungkan keterampilan berpikir kritis dengan kemampuan berinovasi, berkolaborasi, serta menjaga integritas akademik dalam menghadapi tantangan global.
Dalam pemaparannya saat produksi video PROSPEKTIV 2026, Teguh menjelaskan bahwa kemampuan berpikir kritis semakin dibutuhkan seiring perubahan kompetensi dunia kerja. Mengacu pada The Future of Jobs Report 2025 yang diterbitkan World Economic Forum (WEF), sebanyak 69 persen perusahaan menempatkan kemampuan berpikir analitis sebagai keterampilan inti pekerja. Laporan yang sama memperkirakan sekitar 39 persen keterampilan utama pekerja akan berubah hingga 2030.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa penguasaan pengetahuan teknis saja tidak cukup untuk menghadapi perkembangan zaman. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan menganalisis persoalan, mengevaluasi informasi, dan menyesuaikan diri terhadap perubahan agar mampu mengambil keputusan secara tepat.
Untuk menggambarkan pentingnya berpikir kritis, Teguh menghadirkan ilustrasi sederhana mengenai sebuah tongkat dan bola dengan harga keseluruhan Rp110.000. Jika harga tongkat lebih mahal Rp100.000 daripada bola, jawaban spontan yang sering muncul adalah Rp10.000 untuk harga bola. Padahal, jawaban yang benar adalah Rp5.000.
Ilustrasi yang diadaptasi dari Cognitive Reflection Test tersebut menunjukkan bahwa jawaban intuitif tidak selalu tepat apabila tidak disertai pemeriksaan logis. Melalui contoh ini, mahasiswa diajak membiasakan diri untuk tidak terburu-buru menarik kesimpulan sebelum menguji informasi dan alasan yang mendasarinya.
Teguh juga menguraikan enam keterampilan utama berpikir kritis, yakni interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, eksplanasi, dan regulasi diri. Kemampuan tersebut membantu mahasiswa memahami informasi, menilai kredibilitas sumber, menyusun argumen, serta mengevaluasi cara berpikir sendiri.
Selain itu, mahasiswa diperkenalkan pada berbagai bias kognitif yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan. Bias konfirmasi, kecenderungan mengikuti pendapat mayoritas, hingga mempercayai informasi karena disampaikan tokoh terkenal menjadi contoh bagaimana seseorang dapat menerima suatu pernyataan tanpa pemeriksaan memadai.
Berpikir Kritis di Tengah Perkembangan Kecerdasan Buatan
Salah satu perhatian utama dalam materi yang disampaikan Teguh adalah penggunaan AI dalam kehidupan akademik. Teknologi ini memberikan kemudahan bagi mahasiswa untuk memperoleh informasi, merangkum referensi, dan mengembangkan gagasan. Namun, ketergantungan berlebihan terhadap teknologi berpotensi mengurangi keterlibatan mahasiswa dalam proses berpikir dan mengevaluasi informasi.
Materi tersebut merujuk pada penelitian Gerlich (2025) terhadap 666 peserta yang menemukan hubungan antara penggunaan AI dan kecenderungan menyerahkan sebagian proses berpikir kepada teknologi. Penelitian lain oleh Lee dan rekan-rekannya (2025) terhadap 319 pekerja pengetahuan menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan terhadap AI berkaitan dengan frekuensi penerapan pemikiran kritis.
Kedua penelitian tersebut menjadi pengingat bahwa penggunaan teknologi perlu disertai kesadaran untuk mempertahankan kemampuan bernalar secara mandiri. Meski demikian, hubungan yang ditemukan dalam penelitian tersebut tidak secara langsung membuktikan bahwa penggunaan AI menyebabkan penurunan kemampuan berpikir kritis.
Dalam konteks pendidikan tinggi, mahasiswa didorong memanfaatkan AI sebagai alat pendukung untuk mengembangkan dan menguji gagasan, bukan menggantikan proses berpikir. Informasi, data, dan referensi yang dihasilkan AI tetap perlu diverifikasi agar penggunaannya tidak mengurangi kualitas pembelajaran maupun integritas akademik.
Teguh turut memperkenalkan pendekatan SIFT, yaitu Stop, Investigate, Find, dan Trace, sebagai langkah praktis untuk memeriksa informasi digital. Pendekatan ini mengajarkan mahasiswa agar tidak langsung mempercayai informasi, menelusuri kredibilitas sumber, mencari referensi pembanding, serta memeriksa konteks asli suatu pernyataan atau data.
Inovasi dan Kolaborasi Berawal dari Kemampuan Bernalar
Selain membahas tantangan teknologi, Teguh menekankan bahwa berpikir kritis merupakan fondasi untuk menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Mahasiswa perlu mengembangkan kemampuan berpikir divergen untuk menghasilkan berbagai alternatif gagasan, kemudian menggunakan pemikiran konvergen untuk menentukan solusi terbaik berdasarkan bukti dan pertimbangan rasional.
Kemampuan tersebut juga diperlukan ketika mahasiswa menghadapi persoalan kompleks yang tidak memiliki satu jawaban pasti, seperti perubahan iklim, masalah kesehatan, ketimpangan sosial, dan tantangan pembangunan berkelanjutan. Penyelesaian persoalan semacam ini membutuhkan pemahaman lintas disiplin, kolaborasi, serta pertimbangan etis.
Dalam aspek kerja sama, Teguh mengingatkan pentingnya membangun ruang diskusi yang terbuka terhadap perbedaan pendapat. Keberhasilan kelompok tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan individu yang paling unggul, tetapi juga oleh kepekaan sosial, kesempatan berbicara yang merata, dan kesediaan setiap anggota untuk mendengarkan serta mengevaluasi gagasan bersama.
Materi ini juga menekankan pentingnya membedakan kritik terhadap gagasan dengan serangan terhadap pribadi. Mahasiswa didorong membangun budaya diskusi yang menghargai perbedaan pandangan, terbuka terhadap masukan, serta menjadikan argumentasi sebagai sarana memperbaiki kualitas keputusan.
Integritas Akademik sebagai Fondasi Berpikir Kritis
Penguatan berpikir kritis dalam PROSPEKTIV 2026 turut dihubungkan dengan pembentukan karakter dan etika akademik. Teguh menjelaskan pentingnya kejujuran intelektual, keterbukaan terhadap bukti, tanggung jawab, serta kemampuan mengakui keterbatasan pengetahuan sendiri.
Mahasiswa diingatkan untuk menghindari berbagai bentuk pelanggaran integritas akademik, termasuk plagiarisme, fabrikasi data, falsifikasi, dan kepengarangan tidak sah. Dalam penyusunan karya ilmiah, penggunaan sumber referensi secara tepat menjadi bagian dari tanggung jawab akademik yang harus dibangun sejak awal perkuliahan.
Sebagai penerapan praktis, materi tersebut juga memberikan panduan membaca artikel ilmiah melalui tiga tahapan, yakni memahami gambaran umum penelitian, mempelajari isi pokok dan argumen, serta menguji metode maupun kesimpulan yang disampaikan penulis.
Melalui pendekatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu mengulang informasi dari sumber bacaan, tetapi juga membandingkan berbagai pandangan, mengevaluasi kekuatan bukti, dan menyusun kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Penguatan kemampuan berpikir kritis tersebut sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi, yang menempatkan kemampuan berpikir mandiri dan kritis sebagai bagian dari capaian pembelajaran lulusan.
Pembekalan melalui video PROSPEKTIV 2026 juga selaras dengan arah kebijakan Rektor UPNVJ, Prof. Dr. Anter Venus, MA., Comm., dalam mendorong transformasi pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa, penguatan kompetensi, dan pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab.
Sebelumnya, dalam Rapat Koordinasi Dosen Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) pada 13 Agustus 2026, Rektor menegaskan bahwa AI harus dimanfaatkan untuk memperkaya proses pembelajaran tanpa menggantikan kemampuan berpikir dan karakter mahasiswa.
“AI harus kita posisikan sebagai alat bantu untuk memperkaya proses belajar, bukan sebagai pengganti nalar kritis, kreativitas, tanggung jawab, dan karakter mahasiswa,” tegas Venus dalam kesempatan tersebut.
Melalui pengembangan materi pembelajaran berbasis video dalam PROSPEKTIV 2026, UPNVJ memperkuat komitmen untuk menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan generasi muda. Penguatan kemampuan berpikir kritis diharapkan menjadi fondasi bagi mahasiswa untuk tumbuh sebagai individu yang inovatif, kolaboratif, berintegritas, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Bela Negara.