HumasUPNVJ – Tim Hubungan Masyarakat Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) menggelar Focus Group Discussion (FGD) strategi kehumasan pada Senin (19/10/2026) untuk memperkuat pengelolaan komunikasi institusi yang terencana, terukur, dan berbasis data. Mengangkat tema “Jalan Panjang Komunikasi Menuju Trustworthiness”, forum ini membahas upaya membangun kepercayaan publik melalui penguatan identitas, citra, reputasi, serta kesiapan menghadapi isu dan krisis komunikasi. Pembahasan dipandu Ketua Tim Pengelolaan Media, Helmi Fajar Andrianto, dengan menekankan penerapan model RACE (*Research, Action, Communication, Evaluation) sebagai kerangka kerja komunikasi strategis.
Dalam pemaparannya, Helmi menjelaskan bahwa kepercayaan publik terhadap sebuah institusi tidak terbentuk hanya melalui intensitas publikasi atau citra positif yang ditampilkan. Kepercayaan membutuhkan proses panjang yang menghubungkan identitas organisasi (identity), persepsi publik (image), dan reputasi (reputation) dengan kualitas tindakan serta konsistensi komunikasi.
Tiga elemen utama yang menjadi fondasi kepercayaan tersebut meliputi kemampuan (ability), niat baik (intention), dan integritas (integrity). Kemampuan mencerminkan kompetensi organisasi dalam memenuhi tanggung jawabnya, niat baik berkaitan dengan komitmen terhadap kepentingan pemangku kepentingan, sedangkan integritas menunjukkan keselarasan antara pernyataan, kebijakan, dan tindakan institusi.
Dalam konteks perguruan tinggi, ketiga unsur tersebut menjadi penting karena reputasi universitas tidak hanya ditentukan oleh pencapaian akademik, tetapi juga kualitas pelayanan, keterbukaan informasi, respons terhadap persoalan, dan konsistensi dalam memenuhi kebutuhan sivitas akademika maupun masyarakat.
*Empat Tahap RACE sebagai Fondasi Komunikasi Strategis*
Untuk membangun komunikasi yang sistematis, Helmi memaparkan pendekatan RACE yang terdiri atas empat tahap, yakni Research, Action, Communication, dan Evaluation. Model ini menempatkan kegiatan kehumasan sebagai proses berkelanjutan yang dimulai dari pengumpulan informasi hingga pengukuran hasil komunikasi.
Tahap pertama, Research, bertujuan memahami kondisi organisasi, karakteristik audiens, serta perkembangan isu dan tren komunikasi. Pelaksanaannya mencakup pemantauan isu, survei kepuasan, serta diskusi kelompok terarah bersama pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi kebutuhan informasi dan potensi persoalan yang perlu ditangani.
Tahap kedua, Action, berfokus pada penyusunan tujuan dan perencanaan komunikasi berdasarkan temuan riset. Pada tahap ini, humas menentukan pesan utama, kelompok sasaran, dan kanal komunikasi yang sesuai agar informasi dapat disampaikan secara efektif.
Selanjutnya, tahap Communication merupakan proses penyampaian pesan kepada publik melalui berbagai saluran. Kegiatan yang dapat dilakukan mencakup penunjukan juru bicara, penyelenggaraan konferensi pers, publikasi melalui laman resmi dan media sosial, serta dialog bersama pemangku kepentingan.
Adapun tahap Evaluation bertujuan mengukur efektivitas strategi yang telah dijalankan. Evaluasi dilakukan melalui pemantauan pemberitaan media, analisis jangkauan dan respons audiens, survei kepuasan atau persepsi masyarakat, serta penyesuaian strategi berdasarkan hasil pengukuran.
Keempat tahap tersebut saling berkaitan. Hasil evaluasi menjadi masukan bagi riset berikutnya sehingga pengelolaan komunikasi tidak berhenti pada penyebaran informasi, melainkan terus diperbaiki sesuai kebutuhan organisasi dan perubahan lingkungan komunikasi.
*Data Jadi Instrumen Penting untuk Mengantisipasi Krisis*
FGD tersebut juga menyoroti peran data sebagai dasar pengambilan keputusan komunikasi, terutama dalam mendeteksi dan mengelola persoalan sebelum berkembang menjadi krisis.
Dalam manajemen prakrisis, data memungkinkan organisasi mengidentifikasi kecenderungan opini publik, memetakan potensi risiko reputasi, serta menentukan respons yang sesuai berdasarkan tingkat urgensi dan dampak suatu isu.
Penggunaan data juga harus terintegrasi dalam seluruh proses komunikasi, mulai dari pemantauan, identifikasi masalah, analisis, penyusunan strategi, pelaksanaan program, hingga evaluasi.
Organisasi yang memiliki sistem pengelolaan data yang baik dinilai lebih siap merespons isu secara cepat dan tepat. Informasi yang dihimpun dari pemberitaan media massa, media sosial, kanal pengaduan, survei, serta interaksi langsung dengan pemangku kepentingan dapat menjadi dasar untuk menyusun pesan komunikasi yang relevan dengan kebutuhan audiens.
Bagi UPNVJ, pendekatan tersebut dapat mendukung penguatan layanan informasi publik sekaligus meningkatkan kesiapan institusi dalam menghadapi dinamika komunikasi di lingkungan pendidikan tinggi.
*Strategi Respons Krisis Harus Disesuaikan dengan Situasi*
Selain pengelolaan data, FGD membahas sejumlah pendekatan penyusunan pesan dalam menghadapi isu dan krisis reputasi.
Strategi tersebut meliputi deny atau penyangkalan terhadap tuduhan yang tidak terbukti, diminish untuk menjelaskan konteks dan tingkat tanggung jawab organisasi, rebuild untuk memulihkan kepercayaan, serta bolstering untuk memperkuat hubungan dengan publik melalui rekam jejak positif yang relevan.
Pendekatan lainnya mencakup instructing untuk memberikan petunjuk yang diperlukan publik, adjusting untuk membantu audiens memahami situasi, apology atau permintaan maaf, compensation berupa kompensasi atas kerugian, serta corrective action melalui tindakan perbaikan untuk mencegah persoalan serupa terulang.
Pemilihan strategi harus didasarkan pada fakta, tingkat tanggung jawab organisasi, dampak terhadap pemangku kepentingan, dan kebutuhan informasi publik. Dengan demikian, respons kehumasan tidak semata-mata ditujukan untuk melindungi reputasi, tetapi juga memastikan keterbukaan informasi, pertanggungjawaban, dan penyelesaian masalah.
Melalui FGD ini, Humas UPNVJ memperkuat pemahaman mengenai pentingnya perencanaan komunikasi yang didukung riset, ketepatan pesan, integrasi kanal, dan evaluasi berkelanjutan.
Penguatan tersebut sejalan dengan arah kepemimpinan Rektor UPNVJ, Prof. Dr. Anter Venus, M.A., Comm., dalam mendorong tata kelola universitas yang profesional dan berorientasi pada peningkatan kualitas layanan institusi. Dalam kerangka itu, kehumasan memiliki peran strategis untuk memastikan kebijakan, capaian, dan respons universitas dikomunikasikan secara akurat, transparan, serta dapat dipertanggungjawabkan.
Kerabat Kerja
---------------------------------
Penulis: Disa Prihantini | Penyelaras Bahasa: F. Noor