HumasUPNVJ – Wahid Oktovian, lulusan Program Studi Sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ), meraih Penghargaan Karya Mahardika Peringkat I pada Wisuda Ke-77 UPNVJ di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Sabtu (12/9/2026). Wahid meraih skor Karya Mahardika 1.423,75 dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,83. Capaian tersebut diperkuat sederet prestasi nonakademik, terutama di bidang pencak silat pada tingkat nasional hingga internasional.
Selama menjadi mahasiswa, Wahid mencatatkan 21 poin capaian prestasi. Tiga di antaranya diraih dalam kompetisi internasional Indonesia Paku Bumi Open, yakni juara pertama Male Adult Match Class A pada Indonesia Paku Bumi Open 13th International Championship 2025, juara pertama Male College/Adult Team Art pada kejuaraan yang sama, serta juara pertama Male Adult/College Achievement Team Art pada Indonesia Paku Bumi Open 12th International Championship 2024.
Bagi Wahid, Karya Mahardika menjadi penanda perjalanan panjang yang telah ia bangun sejak masa sekolah. Keinginannya berprestasi tumbuh dari pengalaman ketika menerima penghargaan saat SMP dan SMK. Saat itu, ia merasakan bahwa sebuah pencapaian tidak hanya memberi kebanggaan pribadi, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan bagi orang tua sekaligus dapat menjadi motivasi bagi orang-orang di sekitarnya.
“Saya sangat bangga dan bersyukur atas penghargaan Karya Mahardika ini. Awalnya saya bahkan tidak pernah terpikir tentang Mahardika. Yang selalu ada dalam benak saya adalah bagaimana prestasi yang saya raih bisa membuat orang tua bangga dan menjadi motivasi bagi teman-teman,” ujar Wahid.
Motivasinya semakin kuat ketika melihat sejumlah rekan seperjuangannya menerima Karya Mahardika saat lulus dari UPNVJ. Dari pengalaman tersebut, Wahid meyakinkan dirinya bahwa kesempatan serupa dapat ia capai selama mampu menjaga konsistensi dan memberikan hasil terbaik sepanjang masa studi.
Perjalanan itu tidak mudah. Wahid harus membagi waktu antara perkuliahan dari pagi hingga sore, latihan pencak silat pada malam hari, pertandingan, kegiatan organisasi, serta penyelesaian tugas akademik. Ia memilih disiplin dalam mengatur waktu agar pencapaian nonakademik tidak mengorbankan kewajibannya sebagai mahasiswa.
“Saya selalu menanamkan dalam diri untuk menyeimbangkan akademik dan nonakademik. Ketika waktunya kuliah, saya kuliah dari pagi sampai sore. Ketika ada jadwal latihan pencak silat, saya berlatih malam hari. Setelah latihan, saya masih mengerjakan tugas, atau menyelesaikannya pagi hari sebelum perkuliahan dimulai,” katanya.
Pencak silat, menurut Wahid, tidak hanya memberinya medali. Olahraga bela diri tersebut membentuk disiplin, tanggung jawab, keberanian menghadapi tekanan, konsistensi, serta kepercayaan diri. Karakter tersebut juga ia rasakan relevan dengan bidang Ilmu Komunikasi yang dipelajarinya, terutama ketika harus berdiskusi, membangun relasi, bernegosiasi, dan berkomunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan di lingkungan universitas.
Salah satu momen yang paling membekas terjadi bahkan sebelum ia resmi menjalani perkuliahan di UPNVJ. Pada PORSIMNAS WIMAYA 2022, Wahid mendapat kesempatan memperkuat UPNVJ melalui cabang pencak silat setelah mendapat dukungan dari pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa Pencak Silat Veteran Jakarta (UKM PSVJ). Ia turun pada kategori tanding putra Kelas A dan seni tunggal putra.
Wahid mengenang penampilan seni tunggal putra tersebut sebagai salah satu titik awal yang mengubah perjalanan kemahasiswaannya. Menurutnya, saat itu ia berhasil mempersembahkan medali emas dan mendapat apresiasi langsung dari Dr. dr. Ria Maria Theresa, SpKJ., M.H. Pengalaman tersebut membuatnya merasa berada di lingkungan yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berproses, berkembang, dan memperoleh penghargaan atas kerja kerasnya.
Namun, ujian terberat datang pada 2025 ketika Wahid mengemban tanggung jawab sebagai Ketua UKM PSVJ. Menjelang kejuaraan pencak silat nasional yang tinggal beberapa hari, ayahnya berpulang. Di tengah suasana duka, ia harus mengambil keputusan antara tanggung jawab kepada keluarga serta amanah membawa UKM dan nama UPNVJ dalam kompetisi.
Wahid memilih menyelesaikan terlebih dahulu proses pemakaman ayahnya dan mendampingi keluarga. Setelah itu, ia perlahan kembali berlatih secara mandiri. Dengan restu keluarga, Wahid akhirnya berangkat mengikuti kejuaraan tersebut.
“Saya mencoba ikhlas dan terus melangkah. Yang ada dalam benak saya saat itu, saya lakukan saja terlebih dahulu. Kalau akhirnya tidak jadi berangkat, tidak apa-apa, yang penting saya sudah berusaha,” tuturnya.
Keputusan itu berbuah hasil yang tidak ia bayangkan. Wahid mampu tampil pada kategori tanding dan seni beregu serta meraih medali emas di kedua kategori. Menurut Wahid, kontingen UPNVJ pada kejuaraan tersebut juga berhasil meraih juara umum pertama. Lebih dari capaian di podium, pengalaman itu memberinya pelajaran mengenai keberanian, keikhlasan, serta kemampuan untuk tetap melangkah ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.
Motivasi terbesar Wahid sepanjang perjalanan tersebut tetap sama, yakni membanggakan orang tua dan keluarganya. Baginya, prestasi bukan semata-mata soal medali, gelar juara, atau penghargaan, melainkan bagaimana proses panjang yang dijalani dapat memberikan kebahagiaan bagi orang-orang terdekat sekaligus membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih kuat.
Menutup perjalanan studinya, Wahid berpesan kepada mahasiswa UPNVJ agar tidak takut mencoba dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan maupun tantangan.
“Jangan pernah takut untuk mencoba, jangan pernah menyerah, dan teruslah melangkah. Konsistensi dan ketekunan adalah kunci keberhasilan. Lakukan dan selesaikan apa yang sudah kalian mulai. Terus berjuang, cari jati diri, dan kembangkan potensi kalian, baik di bidang akademik maupun nonakademik,” pesannya.
Kerabat Kerja
---------------------------------
Penulis: Disa Prihantini | Penyelaras Bahasa: F. Noor