HumasUPNVJ — Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) Prof. Dr. Anter Venus, MA., Comm. mendorong evolusi pembelajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) melalui penguatan Outcome-Based Education (OBE), project-based learning, dan literasi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI). Arah tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Dosen MKWK Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UPNVJ, Kamis, 13 Agustus 2026. Forum yang dihadiri jajaran pimpinan dan dosen pengampu MKWK itu menjadi ruang penyamaan strategi pembelajaran agar semakin relevan dengan perkembangan teknologi, kebutuhan mahasiswa, serta perubahan masyarakat dan dunia kerja.
Dalam arahannya, Venus menegaskan bahwa perubahan pendidikan tinggi tidak cukup direspons hanya dengan mengganti metode mengajar. Perguruan tinggi perlu mengubah cara pandang terhadap keseluruhan proses pembelajaran dengan menempatkan mahasiswa sebagai pembelajar aktif.
“Kita perlu melakukan evolusi belajar—bukan sekadar mengubah metode mengajar, tetapi mengubah cara kita memandang proses belajar itu sendiri,” ujar Venus.
Menurutnya, lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya menguasai pengetahuan akademik. Mahasiswa juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis dan kreatif, berkolaborasi, beradaptasi, memiliki literasi digital dan karakter, serta membangun kemauan untuk terus belajar sepanjang hayat. Dalam konteks tersebut, MKWK memiliki posisi strategis karena tidak hanya berkaitan dengan kompetensi, tetapi juga pembentukan karakter dan identitas mahasiswa UPNVJ.
Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah penguatan Outcome-Based Education (OBE). Venus meminta Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) dirumuskan secara jelas, terukur, dan diterjemahkan secara konsisten ke dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS), aktivitas pembelajaran, serta instrumen penilaian.
Penguatan tersebut juga membutuhkan constructive alignment, yaitu keselarasan antara learning outcome, metode pembelajaran, aktivitas mahasiswa, dan asesmen. Dengan pendekatan itu, capaian pembelajaran tidak berhenti sebagai rumusan administratif, tetapi benar-benar dapat terlihat dan diukur melalui proses belajar mahasiswa.
Selain OBE, Rektor mendorong dosen MKWK memperluas penerapan project-based learning yang dekat dengan kehidupan dan persoalan nyata di sekitar mahasiswa. Proyek, menurut Venus, tidak boleh sekadar menjadi tugas untuk memenuhi penilaian perkuliahan.
“Project harus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membangun kolaborasi, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, pemecahan masalah, dan karakter,” tegasnya.
AI sebagai Penguat Kemampuan Manusia
Transformasi pembelajaran MKWK juga menyentuh penggunaan AI. Venus menilai literasi AI perlu menjadi bagian dari kecakapan mahasiswa agar mereka mampu memahami kemampuan sekaligus keterbatasan teknologi, memverifikasi informasi, serta menggunakannya secara etis dan bertanggung jawab.
“AI harus kita posisikan sebagai alat bantu untuk memperkaya proses belajar, bukan sebagai pengganti nalar kritis, kreativitas, tanggung jawab, dan karakter mahasiswa,” katanya.
Karena itu, pendekatan pembelajaran yang dibangun UPNVJ bukan AI versus manusia, melainkan AI untuk memperkuat kemampuan manusia. Pemanfaatan teknologi harus tetap menempatkan kemampuan berpikir, integritas akademik, penilaian kritis, dan tanggung jawab sebagai fondasi utama proses pendidikan.
LENTERA Jadi Project Unggulan MKWK
Pada Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027, penguatan pembelajaran berbasis proyek diwujudkan salah satunya melalui LENTERA (Lensa Cerita Keteladanan) sebagai project unggulan MKWK. Program ini mengajak mahasiswa menemukan, mengamati, dan mendokumentasikan kisah keteladanan dari tokoh, komunitas, maupun pengalaman nyata di lingkungan sekitarnya.
Melalui LENTERA, mahasiswa tidak hanya diarahkan menghasilkan produk dokumentasi, tetapi juga mengenali nilai karakter, kebangsaan, kemanusiaan, dan kearifan lokal melalui interaksi dengan realitas sosial. Hasil proyek dapat dikembangkan dalam bentuk video dokumenter maupun produk digital lainnya.
AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam proses pengembangan produk LENTERA. Namun, penggunaannya tetap harus berpijak pada etika, kejujuran akademik, verifikasi informasi, transparansi, serta tanggung jawab mahasiswa terhadap karya yang dihasilkan.
Venus menekankan peran dosen dalam transformasi tersebut tidak lagi sebatas penyampai pengetahuan. Dosen MKWK perlu hadir sebagai fasilitator, mentor, sekaligus role model yang membantu mahasiswa mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan karakter secara berimbang.
“Kita ingin menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan sekaligus karakter; menguasai teknologi tetapi tetap memiliki kemanusiaan; mampu menggunakan AI tetapi tidak kehilangan kemampuan berpikir; memiliki kompetensi global tetapi tetap memahami identitas, kebangsaan, dan kearifan lokal,” pungkas Venus.
Melalui penguatan OBE, pembelajaran berbasis proyek, literasi AI, dan LENTERA, UPNVJ menempatkan MKWK sebagai salah satu instrumen strategis dalam membentuk lulusan yang adaptif terhadap perubahan teknologi sekaligus kukuh pada nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Arah tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen UPNVJ untuk memastikan transformasi pendidikan tidak hanya menghasilkan mahasiswa yang semakin cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis, bertanggung jawab, dan memberi dampak bagi masyarakat.