UPNVJ Bekali 37 Peserta Hadapi Darurat Pendakian Gunung Rinjani

HumasUPNVJ — Sebanyak 37 peserta mengikuti pelatihan Basic First Aid for Lay Rescuer – Mountain Activities melalui Aksi DARSINEM (Sadari dan Atasi Kondisi Emergensi) di Rinjani Camping Ground, Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pada 10–11 Agustus 2026. Pelatihan pertolongan pertama ini membekali peserta menghadapi kondisi darurat yang dapat terjadi saat pendakian dan aktivitas luar ruang dengan memanfaatkan alam sebagai bagian dari proses pembelajaran. Seluruh peserta dinyatakan lulus dalam aspek pengetahuan dan keterampilan setelah mengikuti materi, praktik, simulasi, ujian keterampilan, dan post-test.
 

WhatsApp_Image_2026-08-19_at_11.13.38.jpeg

Berbeda dengan pelatihan pertolongan pertama yang umumnya berlangsung di dalam kelas, Aksi DARSINEM memadukan konsep Nature and Environmental Learning, outdoor education, dan experiential learning. Lingkungan Sembalun dan kawasan Gunung Rinjani digunakan sebagai konteks pembelajaran agar peserta memahami bagaimana medan, cuaca, ketinggian, aksesibilitas, serta keterbatasan sumber daya dapat memengaruhi keputusan ketika menghadapi kondisi kegawatdaruratan.

Kegiatan dibuka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur Ns. Lalu Aries Fahrozi, M.Kep.Dukungan pemerintah daerah tersebut menjadi bagian penting dalam penguatan kapasitas masyarakat menghadapi risiko kegawatdaruratan, terutama di kawasan wisata alam Sembalun dan Gunung Rinjani. Ketua tim pengabdian kepada masyarakat, Dr. Ns. Arief Wahyudi Jadmiko, M.Kep., M.Pd.Ked., selanjutnya memaparkan tujuan dan strategi Aksi DARSINEM dalam membangun kesiapsiagaan kegawatdaruratan berbasis komunitas.

Program ini merupakan kolaborasi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ), Universitas Mataram, ITSK RS dr. Soepraoen Malang, Stikes Mataram, Bapelkes Mataram, PT Emergency Link, serta komunitas peduli Gunung Rinjani “Rinjani Bagus”, dengan dukungan Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur. Kolaborasi lintas institusi tersebut mempertemukan unsur perguruan tinggi, pemerintah daerah, komunitas, dan praktisi kegawatdaruratan dalam upaya memperkuat keselamatan wisata alam.

Selama dua hari, peserta memperoleh materi yang disesuaikan dengan karakteristik kegawatdaruratan di lingkungan pegunungan. Pada hari pertama, peserta mengikuti pre-test, pengenalan dan praktik cardiopulmonary resuscitation (CPR), hands-only CPR, penggunaan automated external defibrillator (AED), penanganan tersedak, serta high-altitude sickness. Hari kedua dilanjutkan dengan materi penanganan gigitan hewan, trauma, dan teknik evakuasi sebelum peserta menjalani ujian keterampilan dan post-test.

Proses pembelajaran tidak berhenti pada penguasaan prosedur pertolongan pertama. Peserta juga dilatih mengamati lingkungan, mengenali potensi bahaya, menilai kondisi korban, menentukan prioritas tindakan, berkomunikasi, bekerja dalam tim, hingga mempertimbangkan metode evakuasi. Dengan pola tersebut, lingkungan alam berfungsi sebagai living laboratory yang memungkinkan peserta berhadapan dengan persoalan yang mendekati kondisi sebenarnya.

Pendekatan itu penting karena pertolongan pada kondisi darurat di pegunungan memiliki kompleksitas berbeda dibandingkan penanganan di fasilitas kesehatan. Penolong harus memperhitungkan keselamatan diri, kondisi medan, perubahan cuaca, keterbatasan alat, jarak menuju fasilitas kesehatan, komunikasi, serta waktu yang diperlukan untuk mengevakuasi korban. Karena itu, kemampuan teknis perlu berjalan bersama dengan kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

Penguatan kesiapsiagaan tersebut relevan dengan risiko pendakian Gunung Rinjani. Data periode 2016–2024 mencatat 273 kecelakaan pendakian dengan 17 korban meninggal dunia dan lebih dari 200 orang mengalami cedera. Kondisi medan yang menantang dan tingginya aktivitas pendakian menunjukkan pentingnya kemampuan memberikan respons awal sebelum bantuan profesional dapat menjangkau lokasi kejadian.

Hasil evaluasi pelatihan menunjukkan seluruh 37 peserta memenuhi standar pengetahuan dan keterampilan pertolongan pertama pada kecelakaan di luar ruang. Capaian tersebut menjadi modal untuk tahapan berikutnya karena peserta yang memenuhi standar kompetensi diarahkan menjadi Kader DARSINEM. Melalui pola kaderisasi, pengetahuan yang diperoleh diharapkan tidak berhenti pada peserta pelatihan, tetapi dapat ditransfer kepada anggota komunitas dan masyarakat yang beraktivitas di kawasan wisata alam.

Aksi DARSINEM juga mengembangkan pendekatan Community-Based Health Tourism dengan menempatkan kesehatan dan keselamatan sebagai bagian dari pengelolaan wisata berbasis alam. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pariwisata, tetapi juga didorong menjadi aktor yang ikut membangun keselamatan destinasi. Perguruan tinggi berkontribusi melalui transfer ilmu dan teknologi, pemerintah menyediakan dukungan serta jejaring, komunitas menjadi penggerak di lapangan, sedangkan mitra profesional memperkuat kompetensi kegawatdaruratan.

Model tersebut diharapkan dapat berkembang melalui kaderisasi, pendampingan, evaluasi, serta penguatan jejaring dengan Dinas Kesehatan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan tim pencarian dan pertolongan. Dengan demikian, kesiapsiagaan tidak hanya bergantung kepada petugas profesional, tetapi juga tumbuh sebagai kapasitas masyarakat yang berada paling dekat dengan lokasi dan berpotensi menjadi penolong pertama ketika insiden terjadi.

Bagi UPNVJ, Aksi DARSINEM memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghadirkan ilmu pengetahuan yang menjawab persoalan nyata di masyarakat. Arah tersebut konsisten dengan pandangan Rektor UPNVJ Prof. Dr. Anter Venus, M.A., Comm. bahwa perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga perlu menghadirkan pemikiran, riset, dan inovasi yang mampu menjawab tantangan. Melalui kolaborasi dan pembelajaran berbasis alam, Aksi DARSINEM menjadi langkah awal membangun budaya keselamatan sekaligus mendukung pengembangan wisata alam Gunung Rinjani yang lebih aman dan berkelanjutan.

Berita Sebelumnya

Forum Aspirasi Mahasiswa UPNVJ 2026 Dorong Aksi Nyata untuk Kampus Berkeadilan

Berita Selanjutnya

Mahasiswa UPNVJ Raih Gelar Internasional, Bigetron Juara Games of the Future 2026 MLBB