Jangan Hanya Andalkan Ijazah, FISIP UPNVJ Siapkan 491 Calon Lulusan Bersaing di Era AI

IMG_8683.JPG_(1).jpeg

HumasUPNVJ – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) membekali 491 calon lulusan dengan strategi membangun personal branding, memperkuat kompetensi, dan menunjukkan nilai tambah untuk menghadapi persaingan dunia kerja di era kecerdasan artifisial (AI). Pembekalan Lulusan FISIP UPNVJ Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026 tersebut berlangsung dalam dua sesi di Auditorium Bhinneka Tunggal Ika (BTI), Kampus UPNVJ Pondok Labu, Jakarta, Selasa (8/9/2026). Praktisi media dan lingkungan parlemen dihadirkan untuk memberikan perspektif mengenai perubahan dunia profesional serta kemampuan yang dibutuhkan lulusan ketika memasuki pasar kerja.

Kegiatan dibuka Ketua Senat FISIP UPNVJ, Dr. Nurdin, M.Si., serta dihadiri jajaran Senat Fakultas, para Wakil Dekan, Koordinator Program Studi, dan Kepala Jurusan. Pembekalan menjadi bagian dari persiapan calon lulusan dalam menjalani transisi dari lingkungan akademik menuju dunia profesional yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi.

Pada sesi pagi, News Anchor dan Reporter Kompas TV Putri Oktaviani mengajak calon lulusan memahami pentingnya personal branding sebagai salah satu modal dalam membangun identitas profesional. Menurut Putri, perubahan dunia kerja membuat lulusan tidak lagi cukup hanya mengandalkan gelar akademik karena perusahaan dan organisasi semakin mempertimbangkan karakter, kompetensi, kemampuan beradaptasi, serta rekam jejak calon pekerja.

“Dunia kerja makin dinamis, persaingan makin variatif sehingga personal branding penting karena menjadi pembeda kita dengan yang lain,” ujar Putri.

Ia menjelaskan, personal branding bukan sekadar upaya menampilkan citra tertentu kepada publik maupun melalui media sosial. Identitas profesional harus tumbuh dari karakter, kemampuan, pengalaman, dan keunggulan yang benar-benar dimiliki seseorang. Karena itu, calon lulusan perlu memahami dirinya sebelum menentukan bagaimana mereka ingin dikenal dalam lingkungan profesional.

“Membangun personal branding harus jujur dan konsisten,” katanya.

Perkembangan AI turut menjadi perhatian dalam sesi tersebut. Kehadiran teknologi baru telah mengubah cara bekerja, pola komunikasi, hingga kebutuhan kompetensi pada berbagai sektor. Namun, Putri mengingatkan calon lulusan agar tidak melihat perkembangan teknologi semata-mata sebagai ancaman terhadap pekerjaan manusia.

“AI sudah berkembang namun tetap tidak dapat menggantikan manusia secara keseluruhan,” ujarnya.

Pandangan mengenai kemampuan beradaptasi dengan teknologi juga mengemuka pada sesi siang. Samti Wira Wibawati mengingatkan calon lulusan untuk mengubah orientasi dari sekadar menunjukkan ijazah menjadi menawarkan kemampuan dan nilai tambah yang dapat dibuktikan kepada dunia profesional.

“Berhentilah sekadar menjual ijazah, mulailah menawarkan ‘value’,” kata Samti.

Menurutnya, perkembangan teknologi akan mengubah bentuk dan karakter berbagai pekerjaan dalam beberapa tahun mendatang. Kondisi tersebut menuntut lulusan memiliki kemauan untuk terus belajar, memahami teknologi, dan mengembangkan keterampilan baru agar tetap relevan dengan kebutuhan organisasi maupun industri.

“Banyak pekerjaan hari ini yang bentuknya akan berubah total lima tahun lagi. Jangan bermusuhan dengan AI,” ujarnya.

Khusus kepada calon lulusan Hubungan Internasional, Samti mendorong mahasiswa agar tidak menjadikan disiplin ilmu yang dipelajari sebagai batas pilihan profesi. Pengetahuan mengenai isu internasional justru dapat menjadi fondasi untuk membangun spesialisasi yang lebih spesifik sesuai kebutuhan dunia kerja.

“Jadikan HI sebagai pondasi, bukan batasan. Pahami isu global secara luas, tapi miliki satu keahlian teknis yang tajam, entah itu kebijakan iklim, analisis data, atau tata kelola digital,” jelasnya.

Selain kompetensi teknis, calon lulusan juga didorong membangun portofolio sebagai bukti konkret atas keterampilan dan pengalaman yang dimiliki. Portofolio dapat berasal dari proyek akademik, pengalaman organisasi, magang, penelitian, karya profesional, sertifikasi, hingga aktivitas lain yang menunjukkan kemampuan menyelesaikan persoalan secara nyata.

“Kumpulkan bukti kompetensi Anda dalam sebuah portofolio, dan jangan tunggu ditemukan, tapi buat diri Anda pantas untuk dicari,” pesan Samti.

Pembekalan tersebut memperlihatkan bahwa kesiapan memasuki dunia kerja tidak berhenti pada keberhasilan memperoleh gelar akademik. Personal branding membantu lulusan membangun identitas profesional, sedangkan kompetensi, pengalaman, dan portofolio menjadi bukti atas nilai tambah yang mereka tawarkan. Kemampuan memanfaatkan teknologi secara kritis sekaligus menjaga kualitas manusiawi seperti kreativitas, komunikasi, integritas, dan kemampuan mengambil keputusan menjadi semakin penting ketika AI berkembang pesat.

Berita Sebelumnya

Gandeng KBRI Kuala Lumpur, FK UPNVJ Ajarkan PHBS kepada Anak-Anak Indonesia