Prospektiv 2026 UPNVJ: Dr. Muthia Sakti Tekankan Integritas Mahasiswa dalam Penggunaan AI

HumasUPNVJ – Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) memperkuat pendidikan karakter mahasiswa melalui materi Ethical Thinking dalam rangkaian Prospektiv 2026. Materi yang disampaikan Dr. Muthia Sakti, S.H., M.H., dosen Fakultas Hukum UPNVJ, menekankan pentingnya integritas akademik, tanggung jawab digital, dan kemampuan mengambil keputusan etis di tengah perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Pembahasan tersebut berlangsung dalam produksi video Prospektiv 2026 bersama Humas UPNVJ di Studio Humas, pada Rabu (21/10/2026).

Mengangkat tema “Ethical Thinking: Membangun Cara Berpikir Etis dalam Kehidupan Akademik, Digital, dan Profesional”, Muthia mengajak mahasiswa memahami bahwa keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya diukur melalui prestasi akademik. Kejujuran, keadilan, kepedulian, dan kemampuan mempertanggungjawabkan setiap keputusan juga menjadi bagian penting dalam membentuk karakter mahasiswa.

Menurut Muthia, ethical thinking merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali persoalan etis, mempertimbangkan nilai yang relevan, memahami pihak yang terdampak, serta menentukan tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Kemampuan tersebut diperlukan ketika mahasiswa menghadapi berbagai persoalan, baik dalam kegiatan perkuliahan, interaksi sosial, maupun penggunaan teknologi.

“Menjadi mahasiswa bukan hanya tentang bagaimana memperoleh nilai yang baik atau mencapai prestasi akademik, tetapi juga bagaimana kita menjalani proses tersebut dengan jujur dan bertanggung jawab. Berpikir etis berarti berani mempertimbangkan konsekuensi dari setiap pilihan, menghargai hak orang lain, serta tetap menjaga integritas meskipun berada dalam situasi yang penuh tekanan,” ujar Muthia.

Ia menjelaskan bahwa persoalan etika kerap muncul dalam aktivitas akademik sehari-hari. Praktik plagiarisme, ketidakjujuran dalam pembagian tugas kelompok, hingga penggunaan sumber informasi tanpa mencantumkan referensi merupakan contoh tindakan yang dapat mencederai integritas akademik.

Karena itu, mahasiswa perlu membiasakan diri untuk tidak hanya mempertanyakan apakah suatu tindakan diperbolehkan, tetapi juga mempertimbangkan apakah tindakan tersebut adil, bertanggung jawab, dan menghormati hak orang lain.

Etika Penggunaan AI dalam Kehidupan Akademik

Perkembangan teknologi digital dan AI menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan tersebut. Kemudahan mengakses informasi dan menghasilkan konten melalui teknologi AI memberikan peluang bagi mahasiswa untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Namun, penggunaan teknologi tanpa pertimbangan etis juga berpotensi menimbulkan persoalan terkait keakuratan informasi, privasi, dan kejujuran akademik.

Muthia menekankan bahwa mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk memeriksa informasi yang dihasilkan AI, mengenali kemungkinan bias, melindungi data pribadi, serta memahami batasan penggunaan teknologi sesuai ketentuan akademik.

“Teknologi dan AI dapat membantu mahasiswa belajar dan mengembangkan gagasan. Namun, kemudahan tersebut tidak menghilangkan tanggung jawab kita untuk memeriksa kebenaran informasi, menjaga data pribadi, dan memastikan bahwa penggunaannya sesuai dengan aturan. Mahasiswa harus tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab atas hasil dan keputusan yang diambil,” tambahnya.

Dengan demikian, pemanfaatan AI tidak semestinya menggantikan proses berpikir kritis mahasiswa. Teknologi dapat digunakan sebagai sarana pendukung untuk mengeksplorasi pengetahuan dan mengembangkan gagasan, sementara penilaian terhadap kebenaran, kelayakan, serta konsekuensi penggunaannya tetap menjadi tanggung jawab individu.

Selain membahas tantangan digital, Muthia memperkenalkan tahapan pengambilan keputusan etis yang dapat diterapkan mahasiswa. Proses tersebut dimulai dengan mengenali persoalan, memeriksa fakta, mengidentifikasi pihak yang terdampak, mempertimbangkan nilai yang relevan, menentukan pilihan berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, hingga mengevaluasi dampak keputusan.

Pendekatan ini diharapkan membantu mahasiswa menghadapi situasi yang tidak selalu memiliki jawaban sederhana. Dalam kehidupan akademik maupun profesional, keputusan yang tepat memerlukan pertimbangan terhadap kepentingan berbagai pihak, bukan sekadar mengikuti kebiasaan atau tekanan lingkungan.

Prospektiv 2026 Perkuat Pendidikan Karakter Mahasiswa

Penyampaian materi Ethical Thinking menjadi bagian dari upaya UPNVJ mengintegrasikan pengembangan kemampuan nonteknis (soft skills) dengan pembentukan karakter mahasiswa. Melalui Prospektiv 2026, mahasiswa didorong mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, serta mengambil keputusan berdasarkan nilai etika.

Materi yang diproduksi melalui Studio Humas UPNVJ tersebut juga menunjukkan pemanfaatan media pembelajaran digital untuk menyampaikan pendidikan karakter secara lebih kontekstual. Pembahasan menggunakan contoh persoalan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa agar prinsip etika dapat dipahami dan diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.

Melalui pembelajaran tersebut, UPNVJ berharap mahasiswa mampu menjadikan etika sebagai dasar dalam mengambil keputusan, termasuk ketika memanfaatkan AI. Integritas yang dibangun melalui kebiasaan sederhana selama perkuliahan diharapkan menjadi bekal untuk membentuk lulusan yang kompeten, berkarakter, dan bertanggung jawab dalam kehidupan profesional maupun masyarakat digital.

Berita Sebelumnya

Prof. Heri Tanamkan Growth Mindset Mahasiswa Baru melalui PROSPEKTIV 2026 UPNVJ

Berita Selanjutnya

Prospektiv 2026 UPNVJ : Pribadi Sutiono Ungkap Tujuh Pilar untuk Membangun Motivasi Berprestasi