HumasUPNVJ – Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan menyiapkan dukungan pendanaan sebesar Rp7 miliar untuk Program Saintek Riset Pembelajaran Transformatif (SATRIA) Tahun 2026–2027. Melalui program ini, dosen perguruan tinggi berkesempatan memperoleh pendanaan riset hingga Rp200 juta per usulan untuk mengembangkan inovasi pembelajaran yang adaptif, berbasis riset, dan berdampak nyata terhadap peningkatan kualitas pendidikan tinggi.
Program SATRIA merupakan hasil kerja sama antara Direktorat Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif, Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), dengan LPDP Kementerian Keuangan. Program tersebut diluncurkan secara daring pada Selasa (3/11/2026) dan diikuti ribuan peserta dari berbagai perguruan tinggi serta Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah I–XVII di seluruh Indonesia.
Direktur Fasilitasi Riset LPDP, Ayom Widipaminto, menyampaikan bahwa dukungan pendanaan tersebut merupakan bagian dari komitmen LPDP dalam memperkuat ekosistem riset dan inovasi di Indonesia, khususnya pada bidang pembelajaran di perguruan tinggi.
Menurutnya, pendanaan melalui Dana Abadi Penelitian memberikan peluang bagi para dosen dan peneliti untuk menghasilkan terobosan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pendidikan tinggi dan perkembangan teknologi.
Ayom menegaskan bahwa penggunaan dana dalam Program SATRIA harus tetap berorientasi pada kegiatan riset sesuai prinsip tata kelola pendanaan yang berlaku. Dengan demikian, inovasi pembelajaran yang dikembangkan diharapkan memiliki landasan ilmiah yang kuat serta dapat diimplementasikan secara nyata.
Dalam kesempatan tersebut, Ayom juga mendorong dosen untuk memanfaatkan perkembangan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan Learning Management System (LMS), sebagai bagian dari pengembangan inovasi pembelajaran.
Ia berharap dukungan pendanaan sebesar Rp7 miliar untuk program yang ditargetkan berlangsung selama dua tahun tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal guna menghasilkan model pembelajaran yang inovatif, relevan, dan dapat diterapkan di perguruan tinggi.
Sementara itu, Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif Kemdiktisaintek, Ardi Findyartini, menjelaskan bahwa Program SATRIA dirancang untuk meningkatkan kapasitas dosen dalam mengembangkan model pembelajaran transformatif berbasis riset pada tingkat mata kuliah.
Ardi menekankan bahwa transformasi pendidikan tinggi tidak cukup hanya dilakukan melalui perubahan kurikulum atau penggunaan teknologi, melainkan harus diwujudkan dalam proses pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan pemecahan masalah mahasiswa.
Melalui Program SATRIA, dosen didorong untuk melakukan riset secara sistematis dalam merancang, menerapkan, dan mengevaluasi model pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman belajar lebih bermakna bagi mahasiswa.
Terkait mekanisme pendanaan, Ardi menjelaskan bahwa setiap usulan riset berpeluang memperoleh dana maksimal Rp200 juta, termasuk pajak. Besaran pendanaan akan ditentukan berdasarkan kebutuhan, rasionalisasi anggaran, dan kualitas proposal yang diajukan.
Penyaluran pendanaan direncanakan berlangsung dalam dua tahap, yakni sebesar 70 persen pada tahap pertama dan 30 persen pada tahap kedua, sesuai dengan mekanisme serta persyaratan pencairan yang ditetapkan.
Program ini terbuka bagi dosen di seluruh perguruan tinggi dalam lingkungan Kemdiktisaintek dengan ketentuan pengusulan yang akan dijelaskan lebih lanjut melalui petunjuk teknis program.
Adapun luaran yang diharapkan meliputi model pembelajaran transformatif yang telah diimplementasikan dan diuji coba, artikel ilmiah pada jurnal bereputasi, buku referensi ber-ISBN, perangkat pembelajaran, video dokumentasi implementasi, serta hak kekayaan intelektual.
Berdasarkan rencana penyelenggaraan, Program SATRIA akan dilanjutkan dengan tahapan penerimaan dan seleksi proposal, penetapan penerima pendanaan, penandatanganan kontrak, serta bimbingan teknis. Pelaksanaan riset dijadwalkan berlangsung mulai Desember 2026 hingga September 2027, disertai pemantauan, pendampingan, dan evaluasi secara berkala.
Melalui kolaborasi Kemdiktisaintek dan LPDP, Program SATRIA diharapkan menjadi salah satu instrumen strategis dalam memperkuat budaya riset dan inovasi pembelajaran di perguruan tinggi. Dukungan pendanaan tersebut juga diharapkan mampu mendorong lahirnya model pembelajaran transformatif yang dapat diterapkan secara berkelanjutan sekaligus mendukung implementasi kebijakan Kampus Berdampak.