HumasUPNVJ – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif, Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan meluncurkan Program Saintek Riset Pembelajaran Transformatif (SATRIA) Tahun 2026–2027. Peluncuran program berlangsung secara daring pada Selasa (3/11/2026) dan diikuti ribuan peserta dari berbagai perguruan tinggi serta Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah I–XVII di seluruh Indonesia.
Program SATRIA merupakan langkah strategis pemerintah dalam mendorong pengembangan dan penerapan model pembelajaran transformatif berbasis riset pada tingkat mata kuliah. Program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas dosen dalam menghasilkan inovasi pembelajaran yang adaptif, berbasis bukti empiris, serta berorientasi pada peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran.
Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif Kemdiktisaintek, Ardi Findyartini, menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, inovatif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. Menurutnya, perkembangan sains dan teknologi serta dinamika kebutuhan masyarakat menuntut perguruan tinggi untuk terus memperkuat relevansi dan kualitas pembelajaran.
Ardi menekankan bahwa transformasi pendidikan tinggi tidak cukup dilakukan melalui perubahan kurikulum di tingkat program studi maupun pemanfaatan teknologi pembelajaran semata. Transformasi tersebut harus diwujudkan secara nyata melalui pengalaman belajar mahasiswa dalam setiap mata kuliah.
Melalui pendekatan pembelajaran transformatif, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, merefleksikan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki, membangun perspektif baru, serta menerapkan kompetensinya untuk menyelesaikan berbagai permasalahan nyata di masyarakat.
Pendekatan ini juga sejalan dengan kebijakan Kampus Berdampak, yang menempatkan perguruan tinggi tidak hanya sebagai institusi penghasil lulusan, tetapi juga sebagai pusat pengembangan pengetahuan, inovasi, dan solusi bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Ardi menjelaskan bahwa Program SATRIA memiliki tiga tujuan utama, yakni meningkatkan kesiapan dan kapasitas dosen dalam melakukan transformasi pembelajaran, menghasilkan model pembelajaran transformatif melalui riset sistematis pada tingkat mata kuliah, serta mendorong diseminasi hasil inovasi melalui publikasi ilmiah, buku referensi, perangkat pembelajaran, dan dokumentasi praktik baik.
Dalam pelaksanaannya, Program SATRIA menyediakan skema pendanaan riset dengan nilai maksimal Rp200 juta untuk setiap usulan, termasuk pajak. Besaran pendanaan akan disesuaikan dengan kebutuhan, rasionalisasi anggaran, serta kualitas proposal yang diajukan. Penyaluran dana direncanakan melalui dua tahap, yakni sebesar 70 persen pada tahap pertama dan 30 persen pada tahap kedua sesuai mekanisme yang ditetapkan.
Sementara itu, Direktur Fasilitasi Riset LPDP, Ayom Widipaminto, menegaskan komitmen LPDP dalam mendukung pendanaan Program SATRIA sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem riset dan inovasi pendidikan tinggi di Indonesia.
Ayom menyampaikan bahwa dukungan pendanaan melalui Dana Abadi Penelitian diharapkan mampu mendorong lahirnya berbagai terobosan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan Learning Management System (LMS).
Ia juga menyebutkan bahwa Program SATRIA ditargetkan berlangsung selama dua tahun dengan dukungan pendanaan sebesar Rp7 miliar. Melalui pendanaan tersebut, dosen diharapkan dapat menghasilkan inovasi pembelajaran yang tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga dapat diterapkan dan dimanfaatkan secara nyata.
Program SATRIA terbuka bagi dosen di perguruan tinggi dalam lingkungan Kemdiktisaintek sesuai ketentuan yang ditetapkan. Luaran program diharapkan mencakup model pembelajaran transformatif yang telah diimplementasikan dan diuji coba, artikel ilmiah pada jurnal bereputasi, buku referensi ber-ISBN, video dokumentasi implementasi, perangkat pembelajaran, hingga hak kekayaan intelektual.
Berdasarkan rencana pelaksanaan, kegiatan riset dijadwalkan berlangsung mulai Desember 2026 hingga September 2027, dengan tahapan seleksi proposal, penetapan penerima pendanaan, penandatanganan kontrak, serta bimbingan teknis. Selama pelaksanaan program, Kemdiktisaintek juga akan melakukan pemantauan, pendampingan, dan evaluasi secara berkala.
Melalui Program SATRIA 2026–2027, Kemdiktisaintek bersama LPDP berharap dapat memperkuat budaya inovasi pembelajaran berbasis riset di perguruan tinggi. Hasil pengembangan yang dihasilkan diharapkan tidak hanya menjadi luaran administratif, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas pengalaman belajar mahasiswa serta memberikan kontribusi berkelanjutan terhadap transformasi pendidikan tinggi di Indonesia.