HumasUPNVJ – Ikatan Keluarga Alumni Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (IKA UPNVJ) menggelar diskusi publik bertajuk “Apakah Nilai Pancasila Masih Hidup dalam Kebijakan Negara?” di Pondok Labu, Jakarta Selatan, Rabu (3/6/2026). Diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila, forum tersebut mempertemukan akademisi, mahasiswa, dan alumni untuk menelaah penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kebijakan negara. Diskusi ini sekaligus menegaskan peran keluarga besar Kampus Bela Negara dalam mengawal kehidupan demokrasi dan arah pembangunan nasional.
Ketua Umum IKA UPNVJ, Sayed Junaidi Rizaldi, mengatakan peringatan Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni merupakan momentum penting untuk memperkuat kembali komitmen kebangsaan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Menurut dia, Pancasila tetap relevan sebagai fondasi moral, ideologi negara, dan pedoman dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa di tengah perubahan sosial, politik, serta ekonomi yang semakin kompleks.
“Pancasila tidak boleh berhenti sebagai simbol atau jargon. Nilai-nilainya harus benar-benar hadir dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam kebijakan yang berdampak langsung terhadap masyarakat,” kata Sayed saat membuka diskusi.
Ia menilai komitmen tersebut memiliki keterkaitan kuat dengan identitas UPNVJ sebagai Kampus Bela Negara. Identitas itu tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui penguatan nalar kritis, kepedulian terhadap persoalan kebangsaan, dan keterlibatan sivitas akademika serta alumni dalam ruang-ruang dialog publik.
Forum tersebut menghadirkan Guru Besar Ilmu Politik Prof. Dr. Ganjar Razuni, S.H., M.Si.; dosen Ilmu Politik sekaligus Kepala Pusat Kajian Bela Negara UPNVJ Dr. Ridwan, S.Sos., M.Si.; serta Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa UPNVJ Gufron Dimas Wicaksono.
Diskusi dipandu Sekretaris Jenderal IKA UPNVJ Arif Budi Prakoso sebagai moderator sekaligus pemantik pembahasan. Peserta yang hadir berasal dari kalangan mahasiswa, akademisi, dan alumni, termasuk Ardi, S.T., M.T., yang mewakili alumni UPN “Veteran” Jawa Timur sekaligus Sekretaris Jenderal IKA UPN Indonesia.
Dalam dialog yang berlangsung terbuka dan konstruktif, para narasumber menyampaikan beragam pandangan mengenai tantangan penerapan Pancasila dalam kebijakan publik. Pembahasan diarahkan untuk melihat sejauh mana prinsip kemanusiaan, persatuan, demokrasi, keadilan sosial, dan kesejahteraan rakyat tercermin dalam proses penyusunan maupun pelaksanaan kebijakan negara.
Perbedaan perspektif yang muncul dalam forum tersebut menunjukkan bahwa Pancasila tetap menjadi ruang temu bagi berbagai gagasan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi landasan dalam merumuskan solusi atas persoalan bangsa sepanjang diterjemahkan secara nyata, kontekstual, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Sayed menjelaskan, diskusi tersebut juga memperlihatkan pentingnya keterlibatan akademisi, mahasiswa, dan alumni dalam menjaga demokrasi yang sehat. Alumni UPNVJ, menurut dia, tidak hanya dituntut berkontribusi melalui profesi masing-masing, tetapi juga melalui gagasan, sikap kritis, serta kepedulian terhadap persoalan kebangsaan.
“Melalui kegiatan ini, IKA UPNVJ menunjukkan komitmennya untuk terus menjadi bagian dari upaya memperkuat nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat. Dialog yang terbangun diharapkan dapat melahirkan gagasan konstruktif, memperkuat kesadaran kebangsaan, serta mendorong kebijakan yang semakin berorientasi pada keadilan sosial, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan kesejahteraan rakyat,” ujarnya.
Sayed menambahkan, Pancasila bukan hanya warisan para pendiri bangsa, melainkan tanggung jawab seluruh warga negara untuk terus dijaga dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui forum-forum diskusi seperti ini, semangat Pancasila akan terus menemukan relevansinya sebagai pedoman dalam membangun Indonesia yang lebih maju, adil, dan beradab,” katanya.
Semangat diskusi tersebut sejalan dengan arah penguatan bela negara yang dikembangkan Rektor UPNVJ Prof. Dr. Anter Venus, M.A., Comm. UPNVJ memaknai bela negara secara nirmiliter melalui penguatan nalar, adab, literasi, karakter, dan daya kritis untuk menghadapi berbagai ancaman nonkonvensional, termasuk disinformasi, intoleransi, serta pelemahan persatuan bangsa. Dalam kerangka tersebut, keterlibatan alumni, mahasiswa, dan akademisi dalam mengawal penerapan Pancasila menjadi bagian penting dari kontribusi Kampus Bela Negara bagi bangsa.