Rektor UPNVJ: Berpikir Kritis Jadi Benteng Menghadapi Banjir Informasi dan AI

HumasUPNVJ – Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ), Prof. Dr. Anter Venus, M.A., Comm., menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis dan verifikatif menjadi benteng utama masyarakat dalam menghadapi banjir informasi di era digital dan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Pesan tersebut disampaikan dalam Seminar Kebangsaan di Auditorium Bhinneka Tunggal Ika UPNVJ, Jumat, 5 Juni 2026.

Melalui materi bertajuk “Siasat Komunikologis atas Banjir Informasi di Era Digital dan AI”, Venus mengajak peserta melihat secara kritis apakah kemudahan memperoleh informasi benar-benar membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik, tenteram, adil, dan bijak. Menurutnya, limpahan informasi tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas pengetahuan dan pengambilan keputusan.

Dalam paparannya, Venus menunjukkan besarnya konsumsi informasi masyarakat di tengah perkembangan teknologi digital. Materi tersebut mencatat konsumsi informasi mencapai 34 gigabita per hari, penggunaan internet sekitar enam jam per hari, serta waktu yang dihabiskan untuk mengakses media sosial mencapai 3,7 jam per hari.

Paparan itu juga mencatat pengguna media sosial telah mencapai 62,9 persen atau sekitar 180 juta orang. Sementara itu, penetrasi penggunaan AI disebut mencapai 59 persen, dengan tingkat penggunaan tertinggi berasal dari Generasi Z sebesar 43,7 persen dan generasi milenial sebesar 22,3 persen. Data tersebut menggambarkan bahwa masyarakat kini hidup dalam arus informasi yang nyaris tidak pernah berhenti.

Venus menjelaskan, terdapat dua cara pandang dalam memahami kelimpahan informasi. Pandangan pertama menilai semakin banyak informasi yang tersedia, semakin luas pula pengetahuan masyarakat. Informasi juga dapat mempercepat respons publik, meningkatkan partisipasi, serta membantu masyarakat memahami berbagai persoalan secara lebih terbuka.

Namun, pandangan tersebut perlu diimbangi dengan sikap skeptis. Kelimpahan informasi dapat berubah menjadi information overload yang menyebabkan kelelahan dalam mengambil keputusan atau decision fatigue. Masyarakat tidak hanya berhadapan dengan informasi yang benar, tetapi juga misinformasi, disinformasi, hoaks, berita palsu, serta fenomena post-truth yang mengaburkan batas antara fakta, keyakinan, dan kepentingan.

Banjir informasi juga melahirkan berbagai persoalan lain, seperti filter bubble, echo chamber, fear of missing out atau FOMO, kebocoran data, kelelahan digital, kabut data atau data smog, serta penurunan kemampuan kognitif akibat konsumsi konten digital secara berlebihan. Kondisi tersebut berpotensi mempersempit sudut pandang masyarakat dan memperkuat polarisasi karena pengguna terus-menerus menerima informasi yang sesuai dengan preferensi mereka sendiri.

Algoritma Membentuk Realitas Sosial

Venus turut menyoroti semakin kuatnya peran algoritma dalam menentukan informasi yang dilihat, dibaca, dan dipercaya masyarakat. Algoritma tidak lagi sekadar membantu pengguna menemukan informasi, tetapi juga berpotensi mengambil alih peran manusia dalam mengonstruksi realitas sosial.

Media dan platform digital, lanjutnya, bekerja sebagai pengonstruksi realitas melalui proses pemilihan, pengulangan, dan penyebaran informasi. Ketika proses tersebut sepenuhnya dikendalikan oleh algoritma, manusia berisiko terjebak dalam narasi yang tidak disadari telah dibentuk berdasarkan rekam jejak digital, preferensi, dan pola perilakunya.

Dalam materi tersebut, Venus mengutip pemikiran Yuval Noah Harari bahwa informasi bukan sekadar hasil pengolahan data, melainkan juga dapat menciptakan realitas sosial melalui imajinasi kolektif. Karena itu, penguasaan terhadap aliran informasi turut menentukan cara masyarakat memandang lingkungan, memahami persoalan publik, serta mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengingatkan bahwa revolusi algoritma dapat membuat manusia menjadi bergantung pada sistem yang diciptakannya sendiri. Risiko tersebut semakin besar ketika algoritma mulai mengendalikan narasi sosial, pilihan politik, pola konsumsi, hingga keputusan personal tanpa disertai kesadaran kritis dari pengguna.

Literasi Digital sebagai Bagian dari Bela Negara

Untuk menghadapi persoalan tersebut, Venus menawarkan pendekatan komunikologis yang berpusat pada penyebaran dan akses terhadap informasi yang akurat, benar, faktual, jelas, serta berbasis ilmu pengetahuan. Komunikasi sains dinilai penting untuk menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat sekaligus menangkal penyebaran informasi yang menyesatkan.

Upaya tersebut perlu disertai kebiasaan berpikir kritis dan verifikatif. Masyarakat harus memeriksa sumber, membandingkan informasi, memahami konteks, serta tidak langsung menyebarkan konten hanya karena sesuai dengan keyakinan pribadi atau sedang ramai diperbincangkan.

Selain itu, pengguna teknologi perlu menjaga etika dalam pemanfaatan AI, memperluas keragaman sumber informasi, melakukan detoksifikasi digital secara berkala, mengendalikan waktu menatap layar, serta meningkatkan perlindungan terhadap data pribadi. Langkah-langkah tersebut diperlukan agar teknologi tetap berada di bawah kendali manusia dan digunakan untuk kepentingan publik.

Paparan Venus menegaskan bahwa kecakapan digital tidak cukup hanya diukur dari kemampuan mengoperasikan teknologi. Literasi digital juga mencakup kemampuan menilai kredibilitas informasi, mengenali manipulasi, memahami cara kerja algoritma, serta mempertimbangkan dampak etis dan sosial sebelum memproduksi atau menyebarkan pesan.

Dalam konteks kebangsaan, kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena disinformasi dan polarisasi di ruang digital dapat melemahkan kepercayaan publik, mengganggu persatuan, serta mengikis nilai-nilai Pancasila. Masyarakat yang kritis, beretika, dan bertanggung jawab diperlukan untuk menjaga ruang digital tetap sehat sekaligus memperkuat ketahanan nasional.

Melalui seminar ini, UPNVJ meneguhkan perannya sebagai Kampus Bela Negara yang mendorong sivitas akademika tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga warga digital yang cerdas dan bertanggung jawab. Bagi Venus, kemampuan mengendalikan informasi, menjaga kejernihan berpikir, dan menempatkan teknologi bagi kemaslahatan manusia merupakan bagian penting dari upaya merawat nilai kebangsaan di tengah disrupsi digital.
 

WhatsApp_Image_2026-06-05_at_11.25.19_(3).jpeg

Berita Sebelumnya

Senam Kicau Mania Ramaikan Jumat Ceria di Kampus UPNVJ Limo

Berita Selanjutnya

Diskusi Publik IKA UPNVJ Tegaskan Pancasila Bukan Sekadar Jargon