HumasUPNVJ – Pengamat politik dan filsafat Rocky Gerung menyoroti pentingnya kebebasan berpikir dan nalar kritis dalam membangun masa depan Indonesia pada Indonesian Brain Forum 2026 yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ), Selasa (4/8/2026).
Dalam forum yang berlangsung di Gedung Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran UPNVJ tersebut, Rocky mengangkat hubungan antara kerja otak, kemampuan manusia menguji gagasan, dan keberanian untuk mempertanyakan berbagai asumsi yang berkembang di masyarakat.
Pembahasan itu menjadi salah satu bagian penting dalam Indonesian Brain Forum 2026 yang mengusung tema “Brain and the Future of Indonesia: Bagaimana Neurosains Membentuk Pendidikan, Kepemimpinan, Inovasi, dan Peradaban Indonesia.”
Melalui perspektif filsafat, Rocky menempatkan otak bukan hanya sebagai organ biologis, tetapi juga sebagai pusat pembentukan kesadaran, kreativitas, kebebasan berpikir, dan kemampuan manusia dalam menghasilkan pengetahuan.
Kebebasan berpikir dinilai memiliki peran penting dalam menjaga kehidupan akademik agar tetap terbuka terhadap perbedaan pandangan. Lingkungan pendidikan, khususnya perguruan tinggi, perlu memberikan ruang bagi mahasiswa dan akademisi untuk menguji argumen secara rasional, mempertanyakan suatu gagasan, serta menyampaikan pandangan berdasarkan pengetahuan dan tanggung jawab ilmiah.
Pembahasan tersebut memperkuat pesan Indonesian Brain Forum 2026 bahwa perkembangan neurosains tidak dapat dilepaskan dari dimensi sosial, filsafat, pendidikan, dan kebudayaan. Pemahaman mengenai otak perlu dihubungkan dengan cara manusia belajar, membangun kesadaran, mengambil keputusan, dan membentuk peradaban.
Dalam konteks pendidikan, kebebasan berpikir menjadi fondasi dalam menumbuhkan daya kritis mahasiswa. Pendidikan tidak cukup hanya memindahkan informasi dari pengajar kepada peserta didik, tetapi juga harus mendorong kemampuan untuk menganalisis, membandingkan, menguji, dan menghasilkan gagasan baru.
Nalar kritis juga diperlukan agar masyarakat tidak mudah menerima informasi tanpa proses pemeriksaan. Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital, kemampuan menilai kebenaran suatu informasi menjadi bagian penting dalam membentuk masyarakat yang berpengetahuan dan bertanggung jawab.
Kehadiran Rocky Gerung dalam Indonesian Brain Forum 2026 memperluas diskusi neurosains dari perspektif medis menuju persoalan kemanusiaan yang lebih luas. Cara kerja otak tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik dan mental, tetapi juga memengaruhi cara seseorang memahami realitas, menyusun argumentasi, dan merespons persoalan sosial.
Forum tersebut turut menghadirkan sejumlah tokoh nasional lintas disiplin, di antaranya Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie, Ph.D.; Dr. dr. Asra Al Fauzi; Dekan Fakultas Kedokteran UPNVJ Dr. dr. Taufiq Fredrik Pasiak; serta Prof. Dr. dr. Terawan Agus Putranto.
Para narasumber membahas neurosains dari berbagai sudut pandang, mulai dari kedokteran, kesehatan, pendidikan, filsafat, kepemimpinan, inovasi, hingga kebijakan publik. Pendekatan multidisiplin tersebut memperlihatkan bahwa ilmu tentang otak mempunyai keterkaitan erat dengan pembangunan manusia dan masa depan bangsa.
Rektor UPNVJ Prof. Dr. Anter Venus, MA, Comm menegaskan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan harus diarahkan untuk menjawab tantangan bangsa melalui kolaborasi lintas bidang.
“Neurosains tidak lagi hanya menjadi ranah ilmu kedokteran, tetapi telah berkembang menjadi fondasi penting dalam memahami bagaimana manusia belajar, memimpin, mengambil keputusan, hingga membangun peradaban,” ujar Prof. Anter.
Menurut Rektor, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menghadirkan ruang dialog ilmiah yang mempertemukan berbagai perspektif. Dialog tersebut diperlukan agar perkembangan sains tidak berhenti pada teori, tetapi dapat menghasilkan manfaat nyata bagi pendidikan, kesehatan, kepemimpinan, dan pembangunan nasional.
Indonesian Brain Forum 2026 menjadi salah satu ruang akademik yang mempertemukan ilmu kedokteran dengan filsafat dan ilmu sosial. Pertemuan lintas disiplin ini diharapkan dapat mendorong lahirnya gagasan baru mengenai pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang kritis, kreatif, sehat, dan adaptif.
Dekan Fakultas Kedokteran UPNVJ Dr. dr. Taufiq Fredrik Pasiak mengatakan forum tersebut diselenggarakan untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai perkembangan neurosains serta penerapannya dalam berbagai bidang kehidupan.
Fakultas Kedokteran UPNVJ, menurutnya, berkomitmen mengembangkan pendidikan dan penelitian neurosains yang mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas kesehatan dan pembangunan manusia Indonesia.
Selain diskusi ilmiah, kegiatan ini dirangkaikan dengan bedah buku The 7 Laws of the Brain dan peresmian Library & Brain Mini Museum atau LibMuse Fakultas Kedokteran UPNVJ.
LibMuse dikembangkan sebagai fasilitas pendidikan dan literasi neurosains bagi mahasiswa, dosen, peneliti, tenaga kesehatan, serta masyarakat umum. Fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memahami struktur, fungsi, dan perkembangan otak melalui pendekatan edukatif dan interaktif.
Kehadiran LibMuse juga memperkuat komitmen Fakultas Kedokteran UPNVJ dalam mengembangkan ekosistem pembelajaran dan penelitian neurosains yang terbuka serta dapat diakses oleh berbagai kelompok masyarakat.
Melalui Indonesian Brain Forum 2026, UPNVJ menegaskan bahwa pembangunan masa depan Indonesia membutuhkan manusia yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu berpikir secara merdeka, kritis, dan bertanggung jawab.
Perspektif Rocky Gerung mengenai otak dan kebebasan berpikir memperkuat pesan bahwa kemajuan peradaban lahir dari keberanian untuk menguji gagasan, membuka ruang perbedaan, serta menggunakan akal sehat dalam memahami dan menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.