Menaker di INFAIR 2026 UPNVJ Tekankan Kesiapan SDM Hadapi Industri 5.0

HumasUPNVJ – Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Prof. Yassierli, Ph.D. menekankan bahwa transformasi menuju Industri 5.0 harus menempatkan manusia sebagai pusat peningkatan produktivitas. Teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI), perlu diarahkan untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan sekadar diadopsi tanpa perubahan sistem kerja.

Hal tersebut disampaikan Yassierli dalam Industrial Fair Seminar (INFAIR) 2026 di Auditorium Bhinneka Tunggal Ika, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ), Rabu (23/9/2026). Membawakan materi “Kesiapan SDM dalam Menghadapi Industri 5.0 untuk Membangun Ekosistem Produktivitas Nasional”, Yassierli memaparkan tantangan produktivitas Indonesia, perubahan lanskap ketenagakerjaan akibat teknologi, hingga peran perguruan tinggi dalam mempersiapkan kompetensi tenaga kerja masa depan.     

Dalam paparannya, Yassierli menegaskan bahwa teknologi saja tidak cukup untuk mentransformasi dunia kerja karena manusia tetap menjadi faktor penentunya. Karena itu, pemanfaatan teknologi perlu diikuti dengan peningkatan kapabilitas SDM dan perancangan sistem kerja yang memungkinkan manusia dan teknologi saling memperkuat. Prinsip tersebut menjadi fondasi pendekatan human-centric productivity yang diusung dalam menghadapi Industri 5.0.     

Produktivitas menjadi salah satu tantangan yang perlu dijawab Indonesia. Berdasarkan data Asian Productivity Organization (APO) yang ditampilkan dalam paparan Menaker, produktivitas tenaga kerja Indonesia pada 2023 tercatat sebesar USD30,1 ribu per tenaga kerja, masih di bawah rata-rata ASEAN sebesar USD32,3 ribu per tenaga kerja. Meski demikian, pertumbuhan produktivitas Indonesia berada di atas Malaysia dan Thailand, tetapi masih di bawah Filipina dan Vietnam.     

Yassierli juga menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 20 tahun terakhir masih bertumpu pada penambahan modal dan tenaga kerja. Penambahan modal berkontribusi sebesar 61 persen, sedangkan penambahan tenaga kerja mencapai 37 persen. Sementara itu, kontribusi produktivitas murni tercatat sebesar 1,6 persen.     

AI dan Perubahan Dunia Kerja
Perkembangan AI, robotika, platform digital, dan otomatisasi telah mengubah lanskap pekerjaan. Perubahan tersebut berlangsung bersamaan dengan berkembangnya ekonomi digital dan kreatif, ekonomi hijau, rantai nilai global, serta pola kerja seperti remote work, platform work, pekerjaan berbasis proyek, dan kolaborasi manusia dengan mesin.

Mengacu pada Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum yang ditampilkan dalam paparan Kemenaker, 22 persen pekerjaan diperkirakan terdampak perubahan, 

Meski demikian, Yassierli menekankan bahwa perkembangan teknologi tidak otomatis menghasilkan produktivitas. Pemanfaatan AI perlu diikuti dengan desain ulang proses kerja dan peningkatan kemampuan pekerja.

Materi Kemenaker menunjukkan bahwa penggunaan AI sebagai “asisten” tanpa perubahan pembagian peran dan alur kerja menghasilkan kenaikan produktivitas sekitar lima persen. Ketika implementasi teknologi disertai perancangan alur kerja baru, pengaturan peran manusia dan AI, serta reskilling pekerja, kenaikan produktivitas dapat mencapai 30 persen.     

Dalam kerangka tersebut, Yassierli menggarisbawahi pentingnya prinsip Industri 5.0 yang berorientasi pada manusia, keberlanjutan, dan ketangguhan. Teknologi diarahkan untuk mendukung dan memberdayakan manusia, dengan kesejahteraan, kapabilitas, dan potensi manusia tetap menjadi pusat sistem kerja.     

Konsep itu diterjemahkan melalui human-centric productivity, yakni peningkatan produktivitas dengan teknologi yang memperkuat kemampuan manusia. Tiga komponen utamanya meliputi manusia yang siap dan memiliki kapabilitas, teknologi yang mampu memperkuat manusia, serta sistem kerja yang dirancang sesuai karakteristik manusia.     

Menaker: Perguruan Tinggi Perlu Jadi Jembatan Kampus dan Industri
Yassierli turut menyoroti posisi strategis perguruan tinggi dalam menyiapkan SDM menghadapi perubahan dunia kerja. Menurut materi yang dipaparkannya, perguruan tinggi perlu memastikan lulusan memiliki kompetensi konkret yang dapat diukur dan dibuktikan, antara lain melalui portofolio dan micro-credential, dengan tetap mengintegrasikan keterampilan baru yang dibutuhkan industri.
Perguruan tinggi juga perlu menjadi jembatan yang kuat antara kampus dan industri. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri dalam co-design curriculum atau perancangan kurikulum bersama, penerapan project-based learning, serta standardisasi micro-credential yang diakui pasar kerja.     

Selain kompetensi teknis, Yassierli menempatkan human skills sebagai bagian penting dari kesiapan SDM. Lulusan perlu memiliki kreativitas, kemampuan memecahkan masalah dan berinovasi, growth mindset, serta kemauan untuk terus belajar. Kompetensi tersebut perlu berjalan bersama kemampuan memanfaatkan AI, big data, jaringan dan keamanan siber, literasi teknologi, serta robotika.     

Dalam penerapan teknologi di dunia kerja, Kemenaker juga menekankan empat prinsip human-centric technology: memperkuat kemampuan manusia, melibatkan pekerja dalam proses penerapan teknologi, mempersiapkan pekerja menghadapi perubahan melalui reskilling dan penyesuaian peran, serta menjaga kewenangan dan akuntabilitas manusia terutama dalam keputusan yang memengaruhi keselamatan, hak, dan kesempatan kerja.   

Kemenaker Targetkan 340 Ribu Peserta Pelatihan Vokasi
Untuk memperkuat kesiapan tenaga kerja, Kemenaker menyiapkan sejumlah agenda peningkatan kompetensi SDM. Pelatihan Vokasi Nasional ditargetkan menjangkau 340 ribu peserta pada 2026, dengan pelatihan berbasis kebutuhan industri, berorientasi pada penempatan, serta dirancang lebih singkat dan spesifik.

Kemenaker juga menargetkan 150 ribu peserta Magang Nasional pada 2026 untuk memperkuat transisi dari pendidikan menuju dunia kerja (school-to-work transition). Program tersebut dilengkapi transformasi Balai Latihan Kerja serta penyempurnaan Labor Market Information System sebagai infrastruktur link and match yang adaptif terhadap kebutuhan industri.    

Melalui INFAIR 2026, UPNVJ mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, dan industri untuk mendiskusikan tantangan produktivitas serta perubahan kebutuhan kompetensi di tengah perkembangan teknologi. Pembahasan mengenai Industri 5.0 sekaligus memperkuat urgensi kolaborasi antara kampus dan industri dalam menyiapkan SDM yang mampu memanfaatkan teknologi tanpa mengesampingkan kemampuan manusia.

Bagi UPNVJ, pesan tersebut relevan dengan upaya universitas memperkuat kualitas lulusan dan keterhubungan pendidikan dengan dunia kerja. Pengembangan kompetensi mahasiswa, adaptasi pembelajaran terhadap perkembangan teknologi, serta kolaborasi dengan pemerintah dan industri menjadi bagian penting dalam menghasilkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan mampu berkontribusi terhadap produktivitas nasional.

Industrial Fair Seminar 2026 berlangsung pada 23–25 September 2026 di Auditorium Bhinneka Tunggal Ika UPNVJ dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah dan industri. Forum ini menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai pengembangan SDM, teknologi, efisiensi operasional, dan produktivitas nasional.

Berita Sebelumnya

UKM Pencak Silat UPNVJ Raih Lima Medali di The 4th International Indonesian Open 2026

Berita Selanjutnya

Ketahanan Pangan Jadi Sorotan INFAIR 2026 UPNVJ, Cold Chain Perlu Terintegrasi dan Digital