Ketahanan Pangan Jadi Sorotan INFAIR 2026 UPNVJ, Cold Chain Perlu Terintegrasi dan Digital

 

HumasUPNVJ – Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) menjadi tuan rumah Industrial Fair Seminar (INFAIR) 2026 yang berlangsung pada 23–25 September 2026 di Auditorium Bhinneka Tunggal Ika, Kampus UPNVJ Pondok Labu, Jakarta.

Mengusung tema “Driving Strategic Energy-Efficiency through High Impact Operation to Accelerate National Productivity”, seminar mempertemukan kalangan akademisi, pemerintah, dan industri untuk membahas efisiensi operasional serta penguatan produktivitas nasional.

Salah satu isu yang menjadi perhatian dalam seminar pada Rabu (23/9/2026) adalah penguatan rantai dingin (cold chain) untuk mendukung ketahanan pangan Indonesia. Chief Commercial Officer PT Gudang Dingin Indonesia Tubagus Arief Aditya, S.E., melalui materi bertajuk “Indonesia Food Security & Cold Chain Logistics 2026–2031”, menekankan bahwa peningkatan produksi pangan perlu diikuti sistem penyimpanan dan distribusi yang mampu menjaga kualitas produk hingga sampai kepada konsumen.

“Indonesia tidak sedang menghadapi masalah pangan. Indonesia menghadapi masalah supply chain pangan. Karena itu, penguatan rantai pasok menjadi bagian penting dalam mewujudkan ketahanan pangan yang lebih kuat,” kata Tubagus.

Menurut Tubagus, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan komoditas pangan, tetapi juga memastikan produk tetap tersedia, terjangkau, aman, dan layak dikonsumsi. Tantangan tersebut semakin kompleks karena karakter geografis Indonesia menyebabkan pusat produksi dan konsumsi tersebar di wilayah yang berbeda.

Kondisi itu membuat surplus produksi secara nasional belum tentu secara otomatis menjamin pemerataan akses pangan. Penguatan sistem penyimpanan, transportasi, distribusi, visibilitas informasi, serta kolaborasi antarpemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam memperkuat rantai pasok.

Cold Chain Bukan Sekadar Cold Storage

Tubagus menegaskan bahwa cold chain tidak dapat dipahami sebatas penyediaan fasilitas cold storage. Rantai dingin merupakan sistem terintegrasi dari hulu hingga hilir yang harus mampu mempertahankan kualitas dan keamanan produk pada setiap tahapan distribusi.

Sistem tersebut mencakup produksi dan pengumpulan hasil pangan, pre-cooling, penyimpanan, pengolahan dan persiapan produk, transportasi dengan suhu terkendali, hingga distribusi menuju pasar modern, restoran, hotel, dan konsumen akhir.

“Cold chain bukan sekadar cold storage. Setiap tahap dalam rantai pasok harus mampu menjaga kualitas produk, mulai dari hulu hingga hilir. Dengan jaringan yang terintegrasi dan pengendalian suhu yang baik, kualitas pangan dapat dijaga sepanjang perjalanan,” ujarnya.

Teknologi, lanjut Tubagus, akan memainkan peran semakin besar dalam pengembangan rantai dingin. Pemantauan suhu secara waktu nyata (real-time), pelacakan digital, dan integrasi data memungkinkan pelaku industri meningkatkan visibilitas rantai pasok sekaligus memastikan produk berada dalam kondisi sesuai standar selama proses distribusi.

Transformasi Rantai Pasok Pangan 2026–2031

Tubagus memproyeksikan periode 2026–2031 sebagai fase penting transformasi rantai pasok pangan Indonesia. Perubahan didorong antara lain oleh urbanisasi, peningkatan pendapatan masyarakat, pertumbuhan konsumsi protein dan produk pangan yang mudah rusak (perishable), serta perkembangan ritel modern dan industri layanan makanan.

Transformasi tersebut digambarkan berlangsung bertahap, mulai dari fase availability and stabilization pada 2026–2027, modern food distribution pada 2027–2028, integrated cold chain pada 2028–2029, network visibility pada 2029–2030, hingga data-driven food supply chain pada 2030–2031.

“Ke depan, supply chain pangan perlu bergerak dari sistem yang bersifat tradisional menuju sistem yang lebih terintegrasi, digital, dan berkelanjutan. Data dan teknologi bukan hanya menjadi pendukung, tetapi menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan dan optimalisasi rantai pasok,” tutur Tubagus.

Arah tersebut terangkum dalam konsep “Smart Supply Chain, Stronger Food System, A Sustainable Future”. Konsep ini menempatkan integrasi rantai dingin, digitalisasi, visibilitas jaringan, dan keberlanjutan sebagai elemen dalam membangun sistem pangan yang lebih tangguh.

Penguatan sistem rantai pasok diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pasokan, efisiensi logistik, kualitas dan keamanan pangan, sekaligus menekan kehilangan dan pemborosan pangan (food loss and waste).

“Kita membutuhkan supply chain yang lebih kuat, lebih efisien, dan lebih terhubung. Ketika logistik pangan semakin terintegrasi, kualitas dapat dijaga, distribusi menjadi lebih efisien, dan pada akhirnya ketahanan pangan nasional dapat semakin diperkuat,” kata Tubagus.

Melalui INFAIR 2026, UPNVJ memperkuat perannya sebagai ruang pertemuan akademisi dan praktisi dalam membahas persoalan strategis nasional. Diskusi mengenai rantai dingin dan ketahanan pangan juga membuka peluang pengembangan riset, inovasi teknologi, serta kolaborasi perguruan tinggi dengan pemerintah dan industri untuk menghasilkan solusi yang dapat diterapkan secara nyata.

 

Berita Sebelumnya

Menaker di INFAIR 2026 UPNVJ Tekankan Kesiapan SDM Hadapi Industri 5.0

Berita Selanjutnya

INFAIR 2026 UPNVJ, Menaker Yassierli Ungkap Tantangan Produktivitas dan Kesiapan SDM Indonesia