INFAIR 2026 UPNVJ, Menaker Yassierli Ungkap Tantangan Produktivitas dan Kesiapan SDM Indonesia

HumasUPNVJ – Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Prof. Yassierli, Ph.D. mengungkap tantangan produktivitas nasional sekaligus kesiapan sumber daya manusia Indonesia menghadapi transformasi menuju Industri 5.0. Dalam sekitar dua dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih banyak ditopang penambahan modal sebesar 61 persen dan tenaga kerja sebesar 37 persen, sementara kontribusi produktivitas murni baru mencapai 1,6 persen.

Hal tersebut disampaikan Yassierli saat membawakan materi bertajuk “Kesiapan SDM dalam Menghadapi Industri 5.0 untuk Membangun Ekosistem Produktivitas Nasional” dalam Industrial Fair Seminar (INFAIR) 2026 di Auditorium Bhinneka Tunggal Ika, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ), Rabu (23/9/2026).

Menurut Yassierli, rendahnya kontribusi produktivitas menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu semakin diarahkan pada peningkatan efisiensi, inovasi, kualitas SDM, dan pemanfaatan teknologi. Sebagai perbandingan, kontribusi produktivitas terhadap pertumbuhan ekonomi Tiongkok mencapai 26 persen, Korea Selatan 23 persen, sedangkan Vietnam sebesar 22 persen berdasarkan data sejak 2010.

Tantangan serupa terlihat pada produktivitas tenaga kerja. Pada 2023, produktivitas tenaga kerja Indonesia tercatat sekitar USD30,1 ribu per tenaga kerja, masih di bawah rata-rata ASEAN sebesar USD32,3 ribu per tenaga kerja.

Meski demikian, pertumbuhan produktivitas Indonesia menunjukkan perkembangan. Berdasarkan APO Productivity Databook yang ditampilkan dalam paparannya, pertumbuhan produktivitas Indonesia berada di atas Malaysia dan Thailand, meskipun masih tertinggal dari Filipina dan Vietnam.

Yassierli menekankan bahwa peningkatan produktivitas membutuhkan intervensi yang tidak hanya berfokus pada tenaga kerja. Pemerintah mendorong pendekatan 4P, yakni People, Process, Product, dan Policy.

Pendekatan tersebut menempatkan peningkatan kompetensi manusia sebagai salah satu bagian dari ekosistem produktivitas. Pada saat yang sama, proses produksi dan sistem kerja perlu diperbaiki, inovasi produk harus menghasilkan nilai tambah, serta kebijakan harus mampu membentuk lingkungan yang mendukung peningkatan daya saing industri.

AI dan Perubahan Sistem Kerja

Perubahan teknologi menjadi salah satu faktor yang akan memengaruhi struktur dunia kerja. Mengacu pada Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum yang ditampilkan dalam paparan Menaker, sekitar 22 persen pekerjaan diperkirakan terdampak perubahan struktur dunia kerja. Sebanyak 170 juta pekerjaan baru berpotensi muncul, sementara 92 juta pekerjaan diproyeksikan hilang.

Perubahan tersebut antara lain dipengaruhi perkembangan kecerdasan artifisial (AI), robotika, platform digital, dan otomatisasi. Perkembangan ekonomi digital dan kreatif, ekonomi hijau, global value chains, serta care economy juga mendorong perubahan pola kerja menuju remote work, platform work, project-based work, hingga kolaborasi manusia dan mesin.

Yassierli menunjukkan bahwa AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas, tetapi penerapan teknologi saja tidak cukup. Data AI Jobs Barometer PwC 2026 yang ditampilkan dalam paparannya menunjukkan perusahaan pada sektor dengan paparan AI tinggi mencatat pertumbuhan produktivitas 33,5 persen pada 2025, dibandingkan 24 persen pada perusahaan dengan paparan AI rendah.

Selain itu, penggunaan AI sebatas sebagai “asisten” tanpa perubahan pembagian peran dan alur kerja hanya menghasilkan peningkatan produktivitas sekitar 5 persen. Ketika pemanfaatan AI disertai perancangan ulang alur kerja, pembagian peran manusia dan AI yang jelas, serta reskilling pekerja, peningkatan produktivitas dapat mencapai sekitar 30 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa transformasi teknologi perlu berjalan bersama peningkatan kompetensi manusia dan pembenahan sistem kerja.

Industri 5.0 Tempatkan Manusia sebagai Pusat

Dalam menghadapi perubahan tersebut, Yassierli menekankan pendekatan Industri 5.0 yang melengkapi Industri 4.0 melalui tiga orientasi utama, yaitu human-centric, sustainable, dan resilient.

Pendekatan human-centric menempatkan kemampuan, potensi, dan kesejahteraan manusia sebagai pusat sistem kerja. Prinsip sustainable mengintegrasikan keberlanjutan sumber daya dan lingkungan dalam aktivitas industri, sedangkan resilient menekankan kemampuan industri dalam mengantisipasi, merespons, dan pulih dari berbagai bentuk disrupsi.

Karena itu, peningkatan produktivitas tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan mesin dan AI. Konsep human-centric productivity menekankan tiga komponen utama, yaitu manusia yang memiliki kapabilitas, teknologi yang memperkuat kemampuan manusia, serta sistem kerja yang dirancang sesuai karakteristik manusia.

Tenaga kerja masa depan, menurut paparan tersebut, membutuhkan kemampuan yang semakin luas. Selain keterampilan teknis, pekerja memerlukan human skills, etika, kepedulian, growth mindset, dan innovative mindset. Kompetensi di bidang AI, big data, jaringan dan keamanan siber, literasi teknologi, serta robotika juga semakin penting.

Perguruan Tinggi Jadi Jembatan dengan Industri

Yassierli menempatkan perguruan tinggi sebagai salah satu aktor penting dalam menyiapkan SDM menghadapi transformasi tersebut. Setidaknya terdapat tiga peran strategis perguruan tinggi, yakni memastikan lulusan memiliki kompetensi yang terukur, mengintegrasikan human skills secara sistematis, serta menjadi jembatan yang kuat antara kampus dan industri.

Kompetensi lulusan, menurutnya, tidak cukup direpresentasikan melalui ijazah. Kemampuan mahasiswa perlu dapat dibuktikan melalui portofolio, micro-credential, dan penguasaan emerging skills.

Hubungan perguruan tinggi dengan dunia industri juga perlu diperkuat melalui penyusunan kurikulum bersama atau co-design curriculum, penerapan project-based learning, serta pengembangan micro-credential yang diakui pasar kerja.

Pada sisi pemerintah, Kemnaker menyiapkan berbagai program untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja. Pada 2026, Pelatihan Vokasi Nasional ditargetkan menjangkau 340.000 peserta, dengan pelatihan yang disusun berdasarkan kebutuhan industri dan berorientasi pada penempatan kerja.

Kemnaker juga menargetkan 150.000 peserta Magang Nasional untuk memperkuat transisi dari pendidikan menuju dunia kerja atau school-to-work transition. Program tersebut disertai pengembangan Center of Apprenticeship Excellence, transformasi Balai Latihan Kerja, penyelarasan kurikulum dan sertifikasi dengan kebutuhan industri, serta penyempurnaan Labor Market Information System (LMIS).

Selain itu, Kemnaker mengembangkan Labor Productivity Clinics di Balai Latihan Kerja sebagai pusat peningkatan produktivitas. Program tersebut meliputi teaching factory, pelatihan produktivitas, pendampingan perusahaan, community of practice, hingga pembelajaran AI for Productivity Improvement dan Smart Operation.

Bagi UPNVJ, penyelenggaraan INFAIR 2026 menjadi ruang yang mempertemukan perspektif pemerintah, perguruan tinggi, mahasiswa, dan industri dalam menjawab tantangan produktivitas nasional.

Rektor UPNVJ Prof. Dr. Anter Venus, MA, Comm. terus mendorong penguatan keterhubungan pendidikan, riset, inovasi, dan kebutuhan masyarakat. Melalui forum seperti INFAIR 2026, UPNVJ mendorong kompetensi mahasiswa tidak berhenti pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi berkembang menjadi kemampuan memecahkan persoalan nyata, beradaptasi terhadap perubahan teknologi, serta memberikan nilai tambah bagi produktivitas dan daya saing Indonesia.

Berita Sebelumnya

Ketahanan Pangan Jadi Sorotan INFAIR 2026 UPNVJ, Cold Chain Perlu Terintegrasi dan Digital

Berita Selanjutnya

Sesi Q&A INFAIR 2026 Hidup, Mahasiswa UPNVJ Bedah Efisiensi Energi hingga Produktivitas Industri