HumasUPNVJ – Mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) menunjukkan antusiasme dan daya kritis dalam sesi diskusi dan tanya jawab Industrial Fair Seminar (INFAIR) 2026 di Auditorium Bhinneka Tunggal Ika, Kampus UPNVJ Pondok Labu, Jakarta, Rabu (23/9/2026). Melalui dialog langsung dengan Menteri Ketenagakerjaan RI Prof. Yassierli, Ph.D. dan Chief Commercial Officer PT Gudang Dingin Indonesia Tubagus Arief Aditya, S.E., mahasiswa mendalami persoalan efisiensi energi, produktivitas, pemanfaatan teknologi, hingga penerapannya dalam dunia industri.
INFAIR 2026 berlangsung pada 23–25 September 2026 dengan mengusung tema “Driving Strategic Energy-Efficiency through High Impact Operation to Accelerate National Productivity”. Forum ini mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, mahasiswa, dan industri untuk membahas strategi peningkatan efisiensi operasional serta produktivitas nasional.
Sesi diskusi dan question and answer (Q&A) yang digelar setelah pemaparan narasumber menjadi salah satu bagian penting seminar. Kesempatan tersebut dimanfaatkan peserta untuk memperdalam materi sekaligus menghubungkan konsep yang dipelajari di perguruan tinggi dengan tantangan nyata yang dihadapi dunia kerja dan industri.
Interaksi dua arah membuat pembahasan tidak berhenti pada paparan teoritis. Isu mengenai produktivitas tenaga kerja, transformasi teknologi, desain sistem kerja, ketahanan pangan, hingga efisiensi rantai pasok menjadi bahan untuk melihat bagaimana kebijakan dan inovasi diterapkan dalam konteks operasional.
Produktivitas dan Teknologi Jadi Sorotan
Dalam sesi bersama Yassierli, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai tantangan produktivitas Indonesia sekaligus perubahan kebutuhan sumber daya manusia menuju Industri 5.0.
Berdasarkan data Asian Productivity Organization (APO) yang ditampilkan dalam paparan Menaker, produktivitas tenaga kerja Indonesia pada 2023 tercatat sebesar USD30,1 ribu per tenaga kerja, masih di bawah rata-rata ASEAN sebesar USD32,3 ribu per tenaga kerja.
Yassierli juga menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia selama sekitar dua dekade masih banyak ditopang penambahan modal dan tenaga kerja. Penambahan modal berkontribusi sekitar 61 persen dan tenaga kerja 37 persen, sedangkan kontribusi produktivitas murni tercatat sekitar 1,6 persen.
Data tersebut memperluas diskusi mengenai efisiensi. Produktivitas tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya yang digunakan, tetapi juga kemampuan menghasilkan nilai tambah melalui peningkatan kualitas manusia, penyempurnaan proses kerja, inovasi, dan pemanfaatan teknologi.
Pembahasan semakin relevan ketika Yassierli mengaitkan produktivitas dengan kecerdasan artifisial (AI), otomatisasi, serta perubahan pola kerja. Dalam materi yang dipaparkan, penggunaan AI hanya sebagai “asisten” tanpa mengubah pembagian peran dan alur kerja diperkirakan menghasilkan peningkatan produktivitas sekitar lima persen.
Sebaliknya, ketika penggunaan AI dibarengi perancangan ulang alur kerja, pembagian peran antara manusia dan teknologi, serta reskilling tenaga kerja, peningkatan produktivitas dapat mencapai sekitar 30 persen.
Yassierli juga memperkenalkan pendekatan 4P, yakni People, Process, Product, dan Policy. Kerangka tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas tidak cukup bertumpu pada peningkatan kemampuan tenaga kerja, tetapi perlu didukung perbaikan proses, inovasi produk, serta kebijakan yang sesuai.
Cold Chain Hadirkan Persoalan Nyata Industri
Perspektif praktis kemudian diperkuat melalui pemaparan Tubagus Arief Aditya bertajuk “Indonesia Food Security & Cold Chain Logistics 2026–2031”. Ia menyoroti pentingnya rantai dingin (cold chain) dalam mendukung ketahanan pangan Indonesia.
Pembahasan tersebut memberikan gambaran kepada mahasiswa bahwa keberhasilan sistem pangan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memproduksi pangan dalam jumlah besar. Sistem penyimpanan dan distribusi juga menentukan apakah kualitas produk dapat dipertahankan hingga sampai kepada konsumen.
Kondisi geografis Indonesia, dengan pusat produksi dan konsumsi yang tersebar, membuat surplus produksi secara nasional belum otomatis menjamin pemerataan akses pangan. Karena itu, efisiensi perlu dilihat sebagai bagian dari sebuah sistem rantai pasok yang saling terhubung.
Dalam cold chain, sistem tidak berhenti pada keberadaan cold storage. Rantai tersebut mencakup produksi dan pengumpulan hasil pangan, pre-cooling, penyimpanan, pengolahan, transportasi bersuhu terkendali, hingga distribusi kepada konsumen.
Pemanfaatan teknologi seperti pemantauan suhu secara real-time, pelacakan digital, dan integrasi data juga berperan meningkatkan visibilitas rantai pasok serta membantu menjaga kualitas produk selama proses distribusi.
Tubagus memproyeksikan transformasi rantai pasok pangan Indonesia secara bertahap menuju 2031, dimulai dari fase availability and stabilization pada 2026–2027, modern food distribution pada 2027–2028, integrated cold chain pada 2028–2029, network visibility pada 2029–2030, hingga data-driven food supply chain pada 2030–2031.
Q&A Jadi Ruang Menguji Gagasan
Beragam persoalan yang dipaparkan kedua narasumber membuat sesi Q&A menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk menguji pemahaman dan mengembangkan perspektif. Diskusi memperlihatkan bahwa isu efisiensi energi, teknologi, produktivitas, dan logistik tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Efisiensi energi berkaitan dengan biaya operasional dan keberlanjutan. Pemanfaatan teknologi berkaitan dengan kesiapan manusia dan perubahan sistem kerja. Sementara peningkatan produktivitas membutuhkan keterpaduan antara kompetensi SDM, teknologi, proses, inovasi produk, dan kebijakan.
Mahasiswa juga memperoleh dua perspektif yang saling melengkapi. Dari pemerintah, peserta mendapat gambaran mengenai arah pengembangan ketenagakerjaan dan kesiapan SDM menghadapi Industri 5.0. Dari pelaku industri, mahasiswa melihat bagaimana efisiensi diterapkan dalam pengelolaan rantai pasok dan cold chain untuk menjawab persoalan ketahanan pangan.
Dalam paparannya, Yassierli turut menekankan posisi strategis perguruan tinggi dalam menyiapkan tenaga kerja masa depan. Kampus perlu memastikan lulusan memiliki kompetensi yang konkret dan terukur, mengintegrasikan human skills ke dalam proses pendidikan, serta memperkuat hubungan dengan industri.
Rangkaian seminar hari pertama turut didokumentasikan melalui siaran langsung resmi bertajuk “LIVE | Seminar Industrial Fair 2026 UPN ‘Veteran’ Jakarta”. Dokumentasi digital tersebut memperluas akses publik terhadap materi seminar dan interaksi antara narasumber dengan peserta.
Bagi UPNVJ, INFAIR 2026 menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang semakin terhubung dengan persoalan nyata masyarakat dan industri. Forum semacam ini memberi ruang bagi mahasiswa untuk tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga membangun keberanian bertanya, kemampuan menganalisis persoalan, dan merumuskan gagasan berbasis solusi.