Prof. Acim Tanamkan Growth Mindset Mahasiswa Baru melalui PROSPEKTIV 2026 UPNVJ

HumasUPNVJ – Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) terus memperkuat pembentukan karakter mahasiswa baru melalui pengembangan pola pikir bertumbuh atau growth mindset dalam program PROSPEKTIV 2026. Dalam proses produksi video pembelajaran yang berlangsung di Studio Humas UPNVJ, Guru Besar Fakultas Ilmu Kesehatan UPNVJ, Prof. Dr. Acim Heri Iswanto, S.K.M., MARS., mengajak mahasiswa mengubah cara pandang terhadap kegagalan, kritik, dan tantangan akademik. Materi yang disiapkan bagi mahasiswa Tahun Akademik 2026/2027 tersebut menekankan bahwa kemampuan dan potensi diri dapat terus dikembangkan melalui usaha, pengalaman, serta proses belajar yang berkelanjutan.

Produksi video PROSPEKTIV 2026 di Studio Humas UPNVJ menjadi bagian dari upaya universitas menghadirkan materi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa baru. Melalui format audiovisual, materi pengembangan karakter dikemas sebagai sarana pembekalan untuk membantu mahasiswa membangun kepercayaan diri, mengembangkan ketangguhan, serta beradaptasi dengan perubahan lingkungan akademik dan sosial.

Dalam pemaparannya, Heri mengangkat pertanyaan mendasar mengenai alasan setiap individu memiliki respons berbeda ketika menghadapi situasi yang sama. Menurut konsep yang dijelaskan dalam materi tersebut, perbedaan respons tidak selalu berkaitan dengan tingkat kecerdasan atau kemampuan awal, tetapi juga dipengaruhi cara seseorang memandang tantangan, kegagalan, dan peluang pengembangan diri.

Untuk menggambarkan kondisi tersebut, Heri menghadirkan ilustrasi seorang mahasiswa yang memperoleh nilai C+ pada ujian tengah semester, menghadapi persoalan dalam perjalanan pulang, dan tidak mendapatkan respons yang diharapkan ketika berusaha menceritakan masalahnya kepada teman. Pengalaman tersebut digunakan untuk menunjukkan bagaimana seseorang dapat memandang kegagalan sebagai bukti ketidakmampuan atau justru menjadikannya kesempatan untuk melakukan evaluasi dan perbaikan.

Melalui ilustrasi tersebut, mahasiswa diperkenalkan pada dua pola pikir yang memengaruhi cara individu menghadapi tantangan, yakni fixed mindset atau pola pikir tetap dan growth mindset atau pola pikir bertumbuh.

Ubah Kegagalan Menjadi Kesempatan Belajar

Heri menjelaskan bahwa individu dengan fixed mindset cenderung meyakini kecerdasan, bakat, dan kemampuan sebagai sesuatu yang relatif tetap. Cara pandang tersebut dapat membuat seseorang menghindari tantangan, merasa terancam oleh keberhasilan orang lain, serta menganggap kegagalan sebagai batas kemampuan diri.

Sebaliknya, individu dengan growth mindset memandang kemampuan sebagai sesuatu yang dapat dikembangkan melalui latihan, strategi pembelajaran, penerimaan terhadap masukan, dan ketekunan dalam menghadapi kesulitan. Dalam pola pikir ini, kegagalan tidak serta-merta menentukan kemampuan seseorang, melainkan menjadi sumber pembelajaran untuk memperbaiki langkah berikutnya.

Perbedaan tersebut relevan bagi mahasiswa baru yang memasuki lingkungan pendidikan tinggi dengan tuntutan pembelajaran lebih mandiri. Kesulitan memahami materi kuliah, memperoleh nilai di bawah harapan, atau menghadapi persaingan akademik merupakan pengalaman yang perlu direspons melalui evaluasi dan upaya perbaikan.

Dalam materi yang direkam di Studio Humas UPNVJ tersebut, Heri turut menghadirkan ilustrasi dari dunia sains, bisnis, dan seni untuk memperlihatkan pentingnya ketangguhan dalam menghadapi kegagalan. Berbagai contoh digunakan untuk menggambarkan bagaimana keberanian mencoba kembali dan keterbukaan terhadap kritik dapat mendukung proses pengembangan kemampuan.

Salah satu contoh yang diangkat adalah Marina Semyonova, tokoh pendidikan balet yang dikenal memberikan perhatian terhadap murid yang mampu merespons kritik sebagai dorongan untuk berkembang. Ilustrasi ini menunjukkan bahwa masukan tidak harus dipandang sebagai serangan terhadap kemampuan pribadi, tetapi dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas diri.

Kekuatan Kata 'Belum' dalam Mengubah Cara Berpikir

Salah satu penekanan menarik dalam materi Growth Mindset adalah penggunaan kata yet atau 'belum' untuk mengubah cara seseorang menilai keterbatasan dirinya.

Heri memberikan contoh pernyataan negatif seperti 'Saya tidak pandai matematika', 'Saya tidak sepintar orang lain', atau 'Saya tidak akan pernah memahami materi ini'. Pernyataan tersebut mencerminkan kecenderungan memandang kemampuan sebagai sesuatu yang tidak dapat berubah.

Melalui penambahan kata 'belum', mahasiswa diarahkan mengubah pernyataan tersebut menjadi 'Saya belum menguasai matematika' atau 'Saya belum memahami materi ini'. Perubahan sederhana dalam penggunaan bahasa membuka kemungkinan bahwa kemampuan dapat berkembang apabila disertai strategi belajar, latihan, dan usaha yang sesuai.

Pendekatan ini tidak berarti setiap kesulitan dapat diselesaikan hanya dengan berpikir positif. Mahasiswa tetap perlu mengenali kelemahan, memperbaiki metode pembelajaran, mencari bantuan ketika diperlukan, serta mengevaluasi perkembangan secara berkala.

Dengan demikian, growth mindset tidak hanya berkaitan dengan keyakinan untuk berhasil, tetapi juga kesediaan menjalani proses yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan.

Lima Langkah Membangun Pola Pikir Bertumbuh

Sebagai panduan praktis, Heri memperkenalkan lima pendekatan yang dapat diterapkan mahasiswa untuk membangun growth mindset dalam kehidupan akademik.

Pertama, menghargai usaha dan proses pembelajaran, bukan semata-mata kemampuan atau bakat yang dimiliki sejak awal. Kedua, membiasakan penggunaan kata 'belum' ketika menghadapi keterbatasan agar mahasiswa tetap terbuka terhadap kesempatan untuk berkembang.

Ketiga, memandang tantangan sebagai peluang untuk memperoleh pengalaman dan keterampilan baru. Keempat, menikmati perjalanan belajar dengan memberikan perhatian terhadap perkembangan yang dicapai, bukan hanya berorientasi pada hasil akhir.

Kelima, menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari proses pengembangan diri. Melalui pendekatan ini, mahasiswa diharapkan mampu membangun sikap yang lebih terbuka terhadap kritik, mengakui kesalahan, serta mengambil langkah konkret untuk memperbaiki kemampuan.

Kelima prinsip tersebut dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan perkuliahan, mulai dari menyelesaikan tugas individu, menghadapi ujian, mengembangkan kemampuan komunikasi, hingga mengikuti organisasi dan kegiatan kemahasiswaan.

Bagi mahasiswa baru, penerapan pola pikir bertumbuh juga menjadi bekal untuk mengelola ekspektasi terhadap pencapaian akademik. Keberhasilan tidak selalu diperoleh dalam waktu singkat, tetapi membutuhkan konsistensi, kesediaan belajar dari pengalaman, dan kemampuan menyesuaikan strategi ketika menghadapi hambatan.

Perkuat Karakter Mahasiswa yang Adaptif dan Tangguh

Penguatan growth mindset melalui PROSPEKTIV 2026 menjadi bagian dari upaya UPNVJ menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter, ketangguhan, dan kemampuan beradaptasi.

Pemanfaatan Studio Humas UPNVJ sebagai lokasi produksi video pembelajaran turut mendukung pengembangan media edukasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan penguatan karakter mahasiswa. Melalui penyajian materi secara audiovisual, universitas berupaya menyediakan sumber pembelajaran yang dapat dimanfaatkan mahasiswa dalam memahami pentingnya pola pikir bertumbuh.

Pendekatan tersebut sejalan dengan arah pengembangan pendidikan UPNVJ di bawah kepemimpinan Rektor Prof. Dr. Anter Venus, MA., Comm., yang menempatkan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguatan kompetensi mahasiswa sebagai bagian penting dalam pengembangan universitas.

Penguatan karakter melalui PROSPEKTIV 2026 diharapkan dapat mendukung terbentuknya budaya akademik yang menghargai proses belajar, keterbukaan terhadap masukan, dan keberanian menghadapi tantangan.

Melalui PROSPEKTIV 2026 UPNVJ mempertegas komitmen untuk mempersiapkan lulusan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki ketangguhan mental, semangat belajar sepanjang hayat, dan kemampuan menghadapi perubahan. Dengan menjadikan tantangan sebagai kesempatan belajar, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan potensi diri serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sesuai dengan nilai-nilai Bela Negara.

Berita Sebelumnya

PROSPEKTIV 2026: Prof. Teguh Ingatkan Risiko Ketergantungan AI