HumasUPNVJ – Menjadi mahasiswa berprestasi tidak selalu hanya diukur dari capaian akademik. Bagi Rizki Romadhoni Saputra, wisudawan Sarjana Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ), prestasi juga dapat diraih melalui keberanian mengembangkan bakat, menjaga konsistensi, dan memanfaatkan masa kuliah untuk tumbuh seluas-luasnya.
Rizki tercatat sebagai salah satu wisudawan 76 UPNVJ dengan prestasi nonakademik terbanyak. Selama menempuh pendidikan di UPNVJ, ia aktif mengikuti berbagai kompetisi pencak silat di tingkat nasional hingga internasional. Dari total 21 prestasi yang berhasil diraih, 11 di antaranya merupakan medali emas.
Perjalanan Rizki di dunia pencak silat berawal dari kecintaannya terhadap olahraga dan bela diri sejak kecil. Ia mulai aktif menekuni pencak silat saat duduk di bangku SMP. Namun, karena belum banyak kesempatan mengikuti pertandingan saat sekolah, Rizki kemudian menjadikan masa kuliah sebagai momentum untuk lebih serius berkompetisi.
“Alasannya simpel, memanfaatkan hobi dan bakat jadi sesuatu yang berguna serta punya dampak nyata, khususnya sebagai mahasiswa,” ungkap Rizki.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah saat mengikuti Makassar National Championship 1 pada 2022, ketika ia masih menjadi mahasiswa baru. Kompetisi pertama itu menjadi pengalaman yang tidak terlupakan, sekaligus ruang evaluasi besar bagi dirinya. Rizki mengalami cedera cukup serius akibat pukulan di wajah hingga harus mendapat tiga jahitan.
Selain itu, pengalaman di IPSI Malang Championship 4 juga menjadi momen berkesan. Dalam kejuaraan tersebut, Rizki berhasil meraih juara pertama untuk kategori Seni Solo Creative, kategori yang baru pertama kali ia ikuti. Di luar arena pertandingan, suasana Kota Malang juga memberi kesan tersendiri baginya.
“Selain karena bisa meraih juara satu, kuliner di Malang juga enak-enak, terutama bakso Malangnya,” tuturnya.
Di balik banyaknya prestasi yang diraih, Rizki mengaku harus mampu mengatur waktu dengan baik antara kuliah, organisasi, latihan, pertandingan, dan waktu untuk memulihkan diri. Menurutnya, kunci utama adalah menyusun skala prioritas. Saat mendekati kejuaraan, latihan biasanya dilakukan lebih intensif setidaknya satu bulan penuh sebelum pertandingan.
Pada masa itu, Rizki akan lebih dulu menyelesaikan tugas, proyek kuliah, dan tanggung jawab akademik agar tidak menumpuk. Ia juga mengurangi kegiatan organisasi sementara waktu untuk fokus pada persiapan pertandingan. Meski demikian, ia tetap memberi ruang bagi dirinya untuk beristirahat dan menjaga kesehatan mental.
“Ada kalanya saat fokus menyiapkan kejuaraan, kita juga perlu me time supaya tidak burnout dan mental tetap sehat,” ujarnya.
Rizki tidak menampik bahwa tantangan yang ia hadapi tidak ringan. Dari sisi akademik, ia harus membagi waktu antara perkuliahan, tugas kelompok, dan proyek individu. Dari sisi fisik, persiapan pertandingan membutuhkan energi besar dan istirahat yang cukup. Sementara dari sisi mental, perasaan gugup dan takut mengecewakan hasil tetap kerap muncul meskipun ia sudah sering mengikuti kejuaraan.
Namun, bagi Rizki, rasa takut itu justru menjadi bagian dari proses pembelajaran. Ia belajar untuk beradaptasi, mengendalikan diri, dan tetap tenang dalam menghadapi berbagai situasi.
“Dari situlah cara saya belajar adaptasi dan belajar untuk tenang dalam menghadapi apa pun,” katanya.
Konsistensi Rizki dalam meraih prestasi tidak lepas dari target yang ia tetapkan sejak awal kuliah. Ia memang berniat untuk mengikuti banyak kompetisi pencak silat sebagai bentuk penyaluran hobi sekaligus pengembangan diri. Dukungan keluarga, teman-teman, dan lingkungan Unit Kegiatan Mahasiswa juga menjadi energi penting yang membuatnya terus bertahan.
Rizki juga mengapresiasi dukungan yang diberikan UPNVJ terhadap mahasiswa berprestasi nonakademik. Menurutnya, kampus memberikan dukungan dalam berbagai bentuk, mulai dari fasilitas latihan, sarana dan prasarana, bantuan biaya, akomodasi, hingga apresiasi melalui publikasi dan penghargaan. Para dosen juga turut mendukung dengan memberikan izin atau dispensasi ketika ia harus meninggalkan perkuliahan untuk mengikuti kejuaraan.
“UPN banyak banget ngasih dukungan. Kampus juga sangat mengapresiasi mahasiswa yang berprestasi. Dosen support dengan izin dispensasi ketika ada mata kuliah yang harus ditinggalkan untuk kejuaraan,” ucap Rizki.
Dari dunia pencak silat, Rizki belajar banyak hal yang membentuk dirinya, tidak hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai pribadi. Ia belajar tentang pantang menyerah, konsistensi, usaha, mentalitas dalam menghadapi rivalitas, kebersamaan, dukungan antarteman, hingga keikhlasan ketika hasil tidak selalu sesuai dengan rencana.
Baginya, setiap pertandingan adalah ruang untuk mengevaluasi diri, memperbaiki kekurangan, mempertahankan hal baik, dan terus berkembang.
Sebagai wisudawan dengan prestasi nonakademik terbanyak, Rizki berpesan kepada mahasiswa UPNVJ agar tidak ragu mengembangkan potensi di luar ruang kelas. Menurutnya, setiap orang memiliki kelebihan masing-masing yang layak untuk diperjuangkan.
“Kalau punya minat, kembangkan saja. Jangan ragu, apalagi takut. Dibalik kekurangan, kita semua dianugerahi kelebihan. Gagal lebih baik daripada menyesal karena tidak pernah mencoba. Semua bakat itu keren dan punya nilainya sendiri,” tutupnya.