HumasUPNVJ – Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) membekali mahasiswa dengan kemampuan mengidentifikasi dan mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan organisasi melalui Pelatihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (PKMM) Tahun 2026. Materi manajemen risiko kegiatan kemahasiswaan disampaikan oleh Alamul Huda, S.IP., M.Hum., dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), di Gedung Merce, Kampus UPNVJ Limo, Depok, Kamis (11/6/2026).
Pembekalan tersebut diikuti mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan di lingkungan UPNVJ. Peserta dipersiapkan untuk merancang dan melaksanakan program kerja secara aman, efektif, terukur, serta sesuai dengan prinsip tata kelola organisasi yang baik.
Dalam pemaparannya, Alamul menjelaskan bahwa setiap kegiatan kemahasiswaan memiliki potensi risiko yang perlu dikenali sejak tahap perencanaan. Risiko dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari keselamatan dan kesehatan peserta, keamanan, pengelolaan anggaran, kelengkapan administrasi, hingga reputasi organisasi dan institusi.
“Manajemen risiko merupakan bagian penting dari proses perencanaan kegiatan. Dengan mengenali potensi risiko sejak awal, mahasiswa dapat menyusun langkah mitigasi yang tepat sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan lebih aman dan terukur,” ujar Alamul.
Menurutnya, penerapan manajemen risiko bukan untuk membatasi kreativitas mahasiswa dalam menyusun program kerja. Pengelolaan risiko justru menjadi instrumen agar gagasan dan kegiatan dapat direalisasikan secara bertanggung jawab serta memberikan manfaat optimal bagi seluruh pihak yang terlibat.
Mahasiswa perlu memahami kemungkinan terjadinya risiko, tingkat dampak yang dapat ditimbulkan, serta kemampuan organisasi dalam mengendalikannya. Hasil pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar dalam menentukan prioritas penanganan dan langkah mitigasi yang tepat.
Selain konsep dasar, peserta mempelajari tahapan manajemen risiko yang meliputi identifikasi, analisis, penentuan tingkat risiko, penyusunan langkah mitigasi, pemantauan, serta evaluasi. Setiap tahapan perlu dilakukan secara sistematis agar potensi permasalahan tidak diabaikan atau baru ditangani setelah mengganggu pelaksanaan kegiatan.
Dalam aspek keselamatan, misalnya, panitia perlu mempertimbangkan kondisi lokasi, jumlah peserta, akses keluar dan masuk, kesiapan layanan kesehatan, serta prosedur penanganan keadaan darurat. Sementara dalam pengelolaan keuangan, organisasi harus memastikan perencanaan anggaran, penggunaan dana, dan pelaporan dilaksanakan secara transparan serta dapat dipertanggungjawabkan.
Risiko administrasi juga perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan perizinan, surat-menyurat, proposal, kontrak kerja sama, dan dokumentasi kegiatan. Ketidaklengkapan dokumen berpotensi menghambat pelaksanaan program sekaligus mempersulit proses evaluasi dan pertanggungjawaban.
Peserta turut diajak memahami risiko reputasi yang dapat muncul akibat kesalahan komunikasi, pelanggaran etika, atau tindakan yang tidak sesuai dengan nilai organisasi dan institusi. Karena itu, setiap panitia perlu memiliki pembagian kewenangan serta saluran komunikasi yang jelas, terutama ketika menghadapi situasi yang membutuhkan respons cepat.
Melalui berbagai contoh kasus, peserta berlatih mengenali potensi masalah yang mungkin muncul sebelum, selama, dan setelah kegiatan. Pendekatan berbasis kasus membantu mahasiswa memahami bahwa setiap jenis kegiatan memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda sehingga membutuhkan strategi pengendalian yang sesuai.
Alamul juga menekankan pentingnya menyiapkan rencana alternatif. Organisasi tidak cukup hanya memiliki rencana utama, tetapi juga perlu menentukan langkah yang harus dilakukan apabila terjadi perubahan cuaca, kendala teknis, gangguan keamanan, pembatalan narasumber, atau situasi lain di luar perencanaan.
Sesi berlangsung secara interaktif melalui diskusi dan tanya jawab. Peserta membagikan pengalaman dalam mengelola program kerja organisasi sekaligus mendiskusikan cara menangani berbagai kendala yang pernah dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan kemahasiswaan.
Antusiasme peserta terlihat dari beragam pertanyaan mengenai penerapan manajemen risiko pada kegiatan berskala kecil hingga besar. Diskusi tersebut memberikan pemahaman praktis bahwa pengelolaan risiko merupakan tanggung jawab seluruh unsur kepanitiaan, bukan hanya ketua pelaksana atau penanggung jawab kegiatan.
Melalui pembekalan ini, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan program yang kreatif tanpa mengabaikan keselamatan, kepatuhan, transparansi, dan akuntabilitas. Kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi calon pemimpin dalam mengambil keputusan secara tepat, terutama ketika menghadapi kondisi yang penuh ketidakpastian.
PKMM 2026 merupakan bagian dari komitmen UPNVJ dalam memperkuat keterampilan kepemimpinan, komunikasi, manajemen organisasi, dan tata kelola kegiatan mahasiswa. Program ini juga mendukung kebijakan pengembangan mahasiswa UPNVJ agar kegiatan kemahasiswaan tidak hanya berorientasi pada banyaknya program, tetapi juga pada kualitas perencanaan, dampak, keselamatan, dan pertanggungjawabannya.