HumasUPNVJ – Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes PDT) Ahmad Riza Patria mengajak mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) menjadi garda terdepan bela negara melalui inovasi, literasi digital, dan pengabdian kepada masyarakat. Ajakan tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional Bela Negara bertema “Pemuda sebagai Garda Terdepan Bela Negara” di Auditorium Bhinneka Tunggal Ika, Kampus UPNVJ Pondok Labu, Jakarta, Kamis, 11 Juni 2026. Di hadapan ratusan mahasiswa, ia menegaskan bahwa kecerdasan harus disertai kepedulian dan keberanian mengambil tanggung jawab bagi kemajuan bangsa.
Wamendes PDT mengatakan Indonesia tidak kekurangan generasi cerdas maupun lulusan perguruan tinggi. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan pengetahuan dan kemampuan tersebut digunakan untuk menjawab persoalan masyarakat, bukan semata-mata mengejar kepentingan pribadi.
Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa sebuah bangsa tidak runtuh karena kekurangan orang pintar, tetapi ketika orang-orang terdidik kehilangan kepedulian dan memilih bersikap apatis terhadap persoalan di sekitarnya. Karena itu, mahasiswa diharapkan tidak berhenti menyampaikan kritik, tetapi turut menawarkan dan menjalankan solusi.
“Jangan hanya menjadi komentator perubahan. Jadilah pelaku perubahan itu sendiri,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa bela negara merupakan hak sekaligus kewajiban setiap warga negara sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 27 Ayat (3) dan Pasal 30 Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ketentuan mengenai pertahanan negara juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara yang hingga kini berstatus berlaku.
Bela Negara Menghadapi Ancaman Digital
Wamendes PDT menekankan bahwa bentuk ancaman dan medan perjuangan terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Jika pada masa lalu perjuangan identik dengan medan perang, laut, dan hutan, kini upaya menjaga bangsa juga berlangsung di ruang digital, lingkungan akademik, sektor ekonomi, dan ruang publik.
Ancaman yang dihadapi generasi muda tidak selalu muncul secara fisik. Disinformasi, berita bohong, provokasi, manipulasi opini, dan persaingan global dapat memengaruhi persatuan serta ketahanan masyarakat.
“Musuh hari ini tidak selalu terlihat. Ia hadir dalam opini, algoritma, dan informasi yang menyesatkan. Melawan hoaks dan menjaga ruang digital yang sehat juga merupakan bentuk bela negara,” ujarnya.
Menurutnya, satu informasi bohong dapat memecah persaudaraan, provokasi dapat menimbulkan kebencian, sedangkan fitnah dapat menghancurkan kepercayaan publik. Oleh sebab itu, mahasiswa harus memiliki kemampuan berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, dan tidak mudah menyebarkan konten yang belum terverifikasi.
Bela negara, lanjutnya, dapat diwujudkan dengan belajar secara sungguh-sungguh, menjaga persatuan, menghasilkan inovasi, meningkatkan prestasi, serta membantu masyarakat menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi.
“Bela negara hari ini tidak selalu harus mengangkat senjata, tetapi harus selalu mengangkat tanggung jawab,” katanya.
Pemuda Penentu Indonesia Emas 2045
Dalam paparannya, Wamendes PDT mengingatkan bahwa pemuda selalu mengambil peran penting dalam berbagai momentum bersejarah bangsa. Semangat Sumpah Pemuda, perjuangan kemerdekaan, hingga gerakan reformasi menunjukkan bahwa generasi muda bukan sekadar penerima hasil pembangunan, melainkan penggerak perubahan.
Perjalanan menuju Indonesia Emas 2045, menurutnya, juga sangat ditentukan oleh pilihan dan kontribusi generasi muda saat ini.
“Pertanyaannya bukan apakah Indonesia akan maju atau tidak. Saya yakin Indonesia akan maju. Pertanyaannya adalah apakah kalian menjadi bagian yang mendorong kemajuan itu atau hanya menjadi penonton,” ungkapnya.
Ia menyebut generasi bela negara perlu memiliki tiga pilar utama, yakni karakter yang kuat, kompetensi yang unggul, serta kecintaan yang tulus kepada Indonesia. Ketiganya harus dibangun secara seimbang karena kecerdasan tanpa karakter berpotensi disalahgunakan, sedangkan karakter tanpa kompetensi tidak cukup untuk menghadapi tantangan global.
Mahasiswa juga perlu membangun integritas, disiplin, kemampuan bekerja sama, dan keberanian mengambil keputusan. Kompetensi akademik yang diperoleh di perguruan tinggi harus diterjemahkan menjadi karya dan tindakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ajak Mahasiswa Menjadi Sahabat Desa
Sebagai bagian dari pengabdian kepada bangsa, Wamendes PDT mengajak mahasiswa UPNVJ berkontribusi dalam pembangunan desa. Generasi muda dapat mengambil peran sebagai “Sahabat Desa” dengan terjun langsung untuk memahami potensi, kebutuhan, dan persoalan masyarakat.
Mahasiswa juga didorong memanfaatkan riset, teknologi, dan inovasi untuk membantu mengembangkan perekonomian lokal, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperluas akses informasi, serta memperkuat tata kelola pembangunan desa.
“Bangun desa, bangun Indonesia. Kemajuan nasional harus ditopang oleh kemajuan desa. Karena itu, perguruan tinggi memiliki peran penting melalui riset, inovasi, dan pendampingan masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat merupakan fondasi penting untuk mempercepat pembangunan yang merata dan berkelanjutan.
Menutup pembekalannya, ia meminta mahasiswa UPNVJ tidak mudah terjebak dalam pesimisme. Generasi muda perlu berani menetapkan cita-cita, bekerja keras, menghadapi kegagalan, dan mengambil tanggung jawab atas masa depan Indonesia.
“Indonesia tidak membutuhkan generasi yang pesimis. Indonesia membutuhkan generasi yang berani bermimpi, berani bekerja, berani berjuang, dan berani mengambil tanggung jawab untuk masa depan bangsa,” pungkasnya.