Anter Venus: Profesi Dokter adalah Profesi Paling Terpercaya

HumasUPNVJ – Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ), Prof. Dr. Anter Venus, M.A., Comm., menegaskan bahwa tingginya kepercayaan publik terhadap profesi dokter harus dijaga melalui profesionalisme, integritas, kepatuhan terhadap etika, serta keberpihakan pada keselamatan pasien. Pesan tersebut disampaikan dalam Pelantikan dan Angkat Sumpah Dokter Fakultas Kedokteran UPNVJ ke-85 Tahun Akademik 2025/2026 di Allwynn Grand Ballroom, CIBIS Park, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Dalam sambutannya, Prof. Venus menjelaskan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap berbagai profesi terus diukur setiap tahun. Pengukuran tersebut penting karena kepercayaan publik berkaitan erat dengan kredibilitas dan legitimasi suatu profesi dalam menjalankan tanggung jawabnya.

Menurut Prof. Venus, kepercayaan masyarakat menjadi modal utama bagi dokter dalam menjalankan pelayanan kesehatan. Tanpa kepercayaan, masyarakat dapat meragukan kemampuan tenaga profesional untuk bertindak jujur, menjaga integritas, dan mengambil keputusan berdasarkan kepentingan pasien.

“Kalau sebuah profesi tidak dipercaya, tentu akan menjadi persoalan. Bahkan sebelum pekerjaan dilakukan, masyarakat akan meragukan apakah kita mampu bersikap profesional, menjaga integritas, berlaku jujur, dan berpihak pada kebenaran. Karena itu, menjaga kepercayaan merupakan hal yang sangat penting,” ujar Prof. Venus.

Ia merujuk Ipsos Global Trustworthiness Index 2024 yang menempatkan dokter sebagai profesi paling dipercaya secara global. Sebanyak 58 persen responden di 32 negara menilai dokter dapat dipercaya, diikuti ilmuwan sebesar 56 persen dan guru 54 persen.

Di Indonesia, tingkat kepercayaan terhadap dokter mencapai 73 persen. Angka itu hanya terpaut satu poin dari guru yang menempati posisi teratas dengan 74 persen, serta berada di atas ilmuwan yang memperoleh kepercayaan sebesar 70 persen.

Sebaliknya, data Ipsos menunjukkan politisi dan pemengaruh media sosial berada dalam kelompok profesi dengan tingkat kepercayaan paling rendah secara global. Di Indonesia, sebanyak 45 persen responden menyatakan tidak mempercayai politisi. Ketidakpercayaan terhadap pejabat kabinet atau kementerian dan polisi masing-masing mencapai 41 persen, disusul pemengaruh media sosial 25 persen, pegawai pemerintah dan pengacara masing-masing 24 persen, serta hakim 23 persen.

Prof. Venus mengatakan, data tersebut memperlihatkan bahwa kepercayaan terhadap dokter tidak hadir tanpa konsekuensi. Semakin besar kepercayaan masyarakat, semakin besar pula tanggung jawab dokter untuk menjaga kompetensi, etika, kerahasiaan pasien, dan mutu pelayanan kesehatan.

“Dengan tingkat kepercayaan yang begitu besar dari publik, para dokter yang dilantik dan disumpah hari ini harus bekerja dan mengabdi dengan mematuhi etika profesi serta norma-norma yang berlaku. Semua itu harus dilakukan dengan niat baik untuk menghadirkan kebaikan bersama di bidang kesehatan,” tuturnya.

Ia mengakui bahwa menjalankan profesi dokter secara profesional tidak selalu mudah. Dokter akan menghadapi beragam persoalan klinis, tekanan pekerjaan, keterbatasan fasilitas, serta dilema etik yang menuntut ketepatan dalam mengambil keputusan. Karena itu, pendidikan kedokteran tidak hanya membekali calon dokter dengan pengetahuan dan keterampilan klinis, tetapi juga nilai kemanusiaan dan komitmen moral.

Komitmen tersebut, lanjut Prof. Venus, diteguhkan melalui sumpah dokter. Sumpah bukan sekadar rangkaian kata dalam prosesi pelantikan, melainkan janji moral yang harus menjadi pedoman sepanjang perjalanan profesi.

“Sumpah dokter yang dilakukan hari ini bukan sekadar ucapan atau kata-kata. Ini merupakan komitmen untuk mengutamakan kesehatan pasien, menjaga kerahasiaan, terus belajar sepanjang hayat, menolak diskriminasi, dan menjaga martabat profesi,” katanya.

Prof. Venus juga mengingatkan prinsip primum non nocere atau “pertama-tama, jangan merugikan”. Prinsip dalam tradisi etika kedokteran itu menegaskan bahwa setiap tindakan medis harus mengutamakan keselamatan pasien dan menghindari dampak buruk yang tidak diperlukan.

Menurutnya, pengetahuan akademik dan keterampilan klinis harus berjalan beriringan dengan empati, kehati-hatian, rasa kemanusiaan, dan tanggung jawab moral. Dokter bukan hanya dituntut mampu mendiagnosis dan memberikan terapi, tetapi juga memahami kondisi pasien sebagai manusia yang memiliki hak, martabat, dan latar belakang berbeda.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Venus menyampaikan selamat kepada seluruh dokter baru beserta keluarga yang telah mendampingi perjalanan pendidikan mereka. Keberhasilan itu dinilai sebagai buah dari perjuangan panjang, disiplin, ketekunan, serta dukungan orang tua dan keluarga.

UPNVJ turut memberikan penghargaan kepada lulusan dengan capaian akademik terbaik. Nilai Objective Structured Clinical Examination atau OSCE tertinggi diraih dr. Fatimah Azzahra dengan nilai 91,99. Nilai Computer Based Test atau CBT tertinggi diperoleh dr. Fadilla Salbi dengan nilai 96, sedangkan Indeks Prestasi Kumulatif tertinggi diraih dr. Muhammad Pandji Raihan dengan IPK 3,97.

Menutup sambutannya, Prof. Venus berharap para dokter lulusan UPNVJ membawa nilai-nilai Bela Negara dalam setiap pengabdian. Nilai tersebut diwujudkan melalui pelayanan kesehatan yang profesional, berintegritas, nondiskriminatif, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

Pelantikan dan Angkat Sumpah Dokter ke-85 menjadi awal perjalanan pengabdian para lulusan Fakultas Kedokteran UPNVJ. Melalui sumpah yang telah diucapkan, para dokter baru diharapkan mampu menjaga kepercayaan publik sekaligus menghadirkan pelayanan kesehatan yang aman, beretika, manusiawi, dan bermartabat.

Berita Sebelumnya

Menjadi Dokter itu antara Memiliki Gelar Dokter dan Menjadi Dokter