HumasUPNVJ — Kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya disampaikan melalui unggahan dan komentar di media sosial. Bagi Muhammad Akbar dan mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ), kepedulian tersebut perlu diwujudkan melalui keterlibatan langsung di tengah masyarakat.
Akbar, mahasiswa Program Studi Ilmu Politik sekaligus Wakil Kepala Bidang Lingkungan Masyarakat BEM UPNVJ, menjadi salah satu dari 10 mahasiswa yang mengikuti kegiatan penanaman 500 bibit mangrove di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Senin (8/6/2026).
Bersama mahasiswa lainnya, Akbar tidak hanya datang untuk menanam mangrove. Mereka terlebih dahulu melakukan riset sederhana mengenai kondisi lingkungan Pulau Pari, mempelajari persoalan abrasi, serta menelusuri manfaat mangrove bagi perlindungan kawasan pesisir.
“Sebelum datang ke Pulau Pari, kami sudah mencoba melakukan riset mengenai kondisi pulau dan pantainya. Kami mencari tahu apakah terjadi abrasi serta sejauh mana keberadaan mangrove dapat memberikan manfaat dan dampak bagi kawasan pesisir,” ujar Akbar.
Riset tersebut menjadi pijakan bagi mahasiswa untuk memahami bahwa kegiatan penanaman bukan hanya agenda seremonial. Mangrove yang ditanam diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk melindungi kawasan Pulau Pari dari abrasi dan dampak perubahan iklim.
Berbaur dan Belajar dari Masyarakat
Perjalanan mahasiswa menuju Pulau Pari dimulai pada Minggu, 7 Juni 2026. Mereka datang satu hari sebelum pelaksanaan kegiatan untuk menyiapkan lokasi sekaligus berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Akbar dan mahasiswa lainnya menginap selama satu malam di Pulau Pari. Kesempatan tersebut mereka manfaatkan untuk mengenal kehidupan masyarakat pesisir dan mendengarkan cerita warga mengenai kondisi lingkungan pulau.
“Kami datang sejak hari Minggu untuk melakukan persiapan. Kami juga mencoba berbaur dan berbincang dengan masyarakat mengenai kondisi Pulau Pari saat ini,” jelasnya.
Menurut Akbar, interaksi dengan masyarakat menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai teknik penanaman mangrove, tetapi juga memahami secara lebih dekat persoalan yang dihadapi masyarakat pesisir.
Dari percakapan bersama warga, mahasiswa mengetahui bahwa kawasan pesisir Pulau Pari tengah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari abrasi, perubahan kondisi garis pantai, hingga dampak krisis iklim terhadap kehidupan masyarakat.
“Kami belajar bahwa kondisi pesisir di Kepulauan Seribu sedang tidak baik-baik saja. Ada persoalan krisis iklim dan abrasi yang dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat,” ungkap Akbar.
Berpacu dengan Pasang Surut Air Laut
Pelaksanaan penanaman mangrove juga memberikan pengalaman baru bagi para mahasiswa. Selain menempuh perjalanan laut yang cukup panjang, mereka harus menyesuaikan kegiatan dengan kondisi pasang surut air laut.
Akbar mengatakan sejumlah mahasiswa belum terbiasa melakukan perjalanan menggunakan kapal menuju Kepulauan Seribu. Kondisi tersebut menjadi tantangan pertama yang harus mereka hadapi sebelum tiba di lokasi kegiatan.
Tantangan berikutnya muncul ketika mahasiswa hendak memulai penanaman. Pada pagi hari, air laut masih dalam kondisi pasang dengan ketinggian yang hampir mencapai paha orang dewasa.
“Kami harus menyesuaikan waktu penanaman dengan kondisi pasang surut. Ketika dicek pada pagi hari, air laut sedang pasang dan tingginya hampir sepaha,” katanya.
Mahasiswa bersama dosen dan masyarakat kemudian menunggu hingga kondisi air memungkinkan untuk melakukan penanaman. Sekitar pukul 10.00 WIB, air mulai surut sehingga kegiatan dapat dilaksanakan.
“Alhamdulillah, sekitar pukul 10.00 WIB air sudah mulai surut dan kami akhirnya bisa melakukan penanaman. Tantangannya memang menyesuaikan kondisi pantai, pasang surut air, dan angin,” lanjutnya.
Pengalaman tersebut membuat mahasiswa memahami bahwa kegiatan pelestarian lingkungan membutuhkan persiapan, pengetahuan mengenai kondisi alam, serta kemampuan beradaptasi di lapangan.
Tidak Hanya Menanam Mangrove
Bagi Akbar, manfaat utama dari kegiatan tersebut bukan hanya pengalaman menanam mangrove. Mahasiswa juga memperoleh kesempatan untuk belajar langsung dari masyarakat serta memahami hubungan antara kelestarian lingkungan dan keberlanjutan kehidupan warga pesisir.
“Kami tidak hanya menanam mangrove, tetapi juga berbaur bersama masyarakat. Kami belajar cara menanam mangrove dan memahami mengapa abrasi bisa terjadi serta bagaimana dampaknya terhadap masyarakat,” tuturnya.
Keterlibatan langsung tersebut memberikan pemahaman yang berbeda dibandingkan pengetahuan yang hanya diperoleh melalui ruang kelas atau media sosial. Mahasiswa dapat melihat secara nyata bahwa persoalan lingkungan berkaitan erat dengan aspek sosial, ekonomi, dan keberlanjutan penghidupan masyarakat.
Sebagai mahasiswa Ilmu Politik, Akbar juga melihat kegiatan tersebut sebagai bentuk partisipasi generasi muda dalam menjawab persoalan publik. Isu lingkungan, menurutnya, tidak dapat dilepaskan dari kebijakan, keterlibatan masyarakat, dan kolaborasi berbagai pihak.
Kegiatan penanaman mangrove menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengembangkan kepedulian sekaligus memberikan kontribusi langsung terhadap lingkungan.
Jangan Hanya Menonton dan Berkomentar
Akbar mengajak generasi muda untuk memulai aksi lingkungan dari kawasan terdekat. Menurutnya, setiap daerah memiliki persoalan lingkungan yang membutuhkan perhatian serta keterlibatan masyarakat.
Ia mencontohkan Kepulauan Seribu yang secara administratif masih berada di wilayah DKI Jakarta. Meskipun dekat dengan pusat pemerintahan dan kawasan perkotaan, masyarakat pesisir di wilayah tersebut tetap menghadapi persoalan lingkungan yang membutuhkan dukungan banyak pihak.
“Ajakan saya sederhana, mulailah dari lingkungan sekitar terlebih dahulu. Banyak kondisi lingkungan di Indonesia yang membutuhkan perhatian dan keterlibatan kita,” ujarnya.
Akbar menegaskan bahwa generasi muda tidak harus selalu pergi jauh untuk memberikan kontribusi. Mereka dapat mencari persoalan lingkungan yang ada di wilayah tempat tinggalnya, kemudian terlibat sesuai kemampuan masing-masing.
“Jangan hanya menonton dan mengomentari. Cobalah terlibat langsung dalam persoalan yang ada di sekitar kita. Kalau belum bisa keluar provinsi atau keluar pulau, lihat dahulu apa yang bisa dilakukan di daerah kita sendiri,” pesannya.
Media sosial, lanjutnya, tetap dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran publik. Namun, kampanye digital perlu diiringi dengan aksi nyata yang memberikan dampak bagi masyarakat dan lingkungan.
“Kita boleh mengangkat isu lingkungan melalui media sosial, tetapi kita juga perlu turun langsung dan melakukan sesuatu yang nyata untuk masyarakat dan lingkungan,” pungkas Akbar.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa UPNVJ membuktikan bahwa kontribusi generasi muda dapat dimulai dari proses sederhana: mencari tahu persoalan, mendengarkan masyarakat, menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan, kemudian bergerak bersama untuk menciptakan perubahan.