Jaga “Pagar Laut”, Perempuan Nelayan Pulau Pari Gandeng Mahasiswa UPNVJ Tanam Mangrove

IMG_2517.JPG

HumasUPNVJ — Bagi masyarakat Pulau Pari, Kepulauan Seribu, menanam mangrove bukan sekadar kegiatan penghijauan. Mangrove merupakan pagar alami yang melindungi tempat tinggal mereka dari abrasi, menjadi habitat bagi biota laut, sekaligus menjaga keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat pesisir.

Pesan tersebut disampaikan Asmania, perempuan nelayan sekaligus Ketua Kelompok Perempuan Pulau Pari, saat mengikuti kegiatan penanaman 500 bibit mangrove bersama mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) di Pantai Rengge, Pulau Pari, Senin (8/6/2026).

Asmania, yang akrab disapa Teh AA, merupakan ibu dari tiga anak. Bersama suaminya yang juga bekerja sebagai nelayan, ia menggantungkan kehidupan keluarga pada kelestarian laut dan lingkungan pesisir Pulau Pari.

Menurutnya, kegiatan penanaman mangrove yang melibatkan mahasiswa UPNVJ berjalan lancar. Kondisi pasang air laut pada hari itu turut mendukung proses penanaman bibit di kawasan pesisir.

“Alhamdulillah, kegiatan penanaman mangrove berjalan lancar. Kondisi air pasang hari ini juga sangat mendukung sehingga cocok untuk melakukan penanaman,” ujar Asmania.

Ia menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa UPNVJ yang telah datang dan terlibat langsung bersama kelompok perempuan Pulau Pari dalam menjaga kawasan pesisir.

“Kami berterima kasih kepada adik-adik dari UPN Veteran Jakarta yang sudah berkontribusi menanam mangrove bersama kami, kelompok perempuan Pulau Pari,” tuturnya.

Upaya penanaman mangrove di Pulau Pari telah dilakukan masyarakat secara berkelanjutan. Asmania menjelaskan bahwa ribuan pohon mangrove telah ditanam di berbagai titik, mulai dari bagian barat hingga timur Pulau Pari.

“Kalau jumlahnya, sudah ribuan mangrove yang kami tanam di gugusan Pulau Pari. Di bagian barat dan timur kami tanami semuanya,” jelasnya.

Penanaman tidak hanya dilakukan di Pantai Rengge, tetapi juga di sejumlah kawasan pesisir yang dikelola masyarakat, seperti Pantai Perawan dan Pantai Bintang. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat perlindungan alami pulau dari ancaman abrasi dan perubahan kondisi lingkungan pesisir.

Asmania mengatakan mangrove memiliki arti penting bagi masyarakat yang tinggal di pulau kecil. Akar mangrove mampu menahan sedimentasi dan membantu mengurangi dampak gelombang laut terhadap garis pantai.

“Mangrove mempunyai fungsi yang sangat penting bagi kami yang tinggal di kawasan pesisir. Mangrove menjadi pagar laut bagi masyarakat yang hidup di pulau,” ungkapnya.

Bagi masyarakat Pulau Pari, keberadaan mangrove juga berkaitan langsung dengan keberlanjutan kehidupan nelayan. Ketika tumbuh besar, kawasan mangrove dapat menjadi tempat berlindung, berkembang biak, dan mencari makan bagi ikan serta berbagai biota laut.

“Nantinya, ketika mangrove sudah besar, kawasan ini akan menjadi rumah bagi ikan dan menjadi bagian dari ekosistem biota laut yang ada di Pulau Pari,” katanya.

Selain menjadi pelindung pesisir dan habitat biota laut, mangrove juga berperan dalam menyerap karbon. Kemampuan tersebut menjadikan ekosistem mangrove penting dalam upaya menghadapi perubahan iklim sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan pesisir.

Keterlibatan Kelompok Perempuan Pulau Pari memperlihatkan bahwa perempuan pesisir memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Tidak hanya mendampingi keluarga nelayan, mereka turut berada di garis depan dalam kegiatan penanaman, perawatan, dan pelestarian mangrove.

Bagi Asmania, menjaga laut dan daratan Pulau Pari merupakan tanggung jawab bersama. Lingkungan yang terpelihara akan menentukan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat sekaligus masa depan anak-anak yang akan melanjutkan kehidupan di pulau tersebut.

Ia pun mengajak generasi muda untuk tidak berhenti menunjukkan kepedulian terhadap persoalan lingkungan.

“Untuk anak-anak muda dan kakak-kakak di luar sana yang peduli terhadap lingkungan, mari kita tetap menjaga lingkungan, laut, dan daratan kita untuk generasi berikutnya,” pesannya.

Menurutnya, upaya menjaga lingkungan perlu dilakukan sejak sekarang agar generasi mendatang memperoleh kehidupan dan sumber penghidupan yang lebih baik.

“Generasi berikutnya membutuhkan penghidupan yang lebih layak. Karena itu, laut dan daratan harus tetap kita jaga bersama,” lanjutnya.

Kolaborasi antara mahasiswa UPNVJ dan masyarakat Pulau Pari menjadi gambaran bahwa pelestarian lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Kehadiran mahasiswa tidak hanya membantu menambah jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga memperkuat semangat masyarakat dalam menjaga ruang hidup mereka.

Melalui penanaman mangrove, mahasiswa dan masyarakat menanam lebih dari sekadar bibit pohon. Mereka menanam perlindungan bagi pulau, rumah bagi biota laut, serta harapan agar generasi berikutnya tetap dapat hidup dan mencari penghidupan dari lingkungan pesisir yang lestari.

Berita Sebelumnya

Peringati Hari Lingkungan Hidup, UPNVJ dan BKS-PTN Barat Tanam Mangrove di Pulau Pari

Berita Selanjutnya

Jangan Hanya Berkomentar, Mahasiswa UPNVJ Ajak Generasi Muda Turun Menjaga Lingkungan