HumasUPNVJ - Rapat koordinasi lintas instansi dalam rangka penguatan Program Pembinaan Kesadaran Bela Negara (PKBN) menegaskan pentingnya sertifikasi Bela Negara sebagai indikator kompetensi kebangsaan yang terukur. Forum yang dipimpin Kepala Pusat Bela Negara Bacadnas Kementerian Pertahanan itu dihadiri perwakilan kementerian, lembaga, serta perguruan tinggi yang dinilai memiliki peran strategis dalam penguatan nilai-nilai kebangsaan, pada Rabu (22/4/26).
Dalam arahannya, rapat menekankan bahwa PKBN merupakan program prioritas nasional dengan salah satu keluaran utama berupa sertifikat Bela Negara bagi peserta yang dinyatakan lulus. Sertifikat tersebut dipandang memiliki nilai strategis karena dapat menjadi penanda kompetensi kebangsaan yang relevan untuk berbagai sektor, mulai dari pendidikan, birokrasi, hingga kepemimpinan nasional.
Sebagai narasumber dalam forum tersebut, Kepala Pusat Bela Negara UPNVJ, Dr. Ridwan, S.Sos., M.Si., CIQnR, menyampaikan bahwa sertifikat Bela Negara ke depan perlu memiliki nilai prestisius sekaligus daya ungkit yang nyata. Menurutnya, penguatan makna sertifikasi penting agar dokumen tersebut tidak berhenti sebagai bukti partisipasi administratif, melainkan menjadi instrumen yang diakui dalam proses-proses strategis kebangsaan. Identitas Dr. Ridwan sebagai dosen UPNVJ dan pengampu mata kuliah Pendidikan Bela Negara tercantum di laman resmi UPNVJ, sementara laman resmi fakultas juga menyebutnya sebagai Kepala Pusat Bela Negara UPNVJ.
Dalam paparannya, Dr. Ridwan menyebut sertifikat Bela Negara idealnya dapat dipertimbangkan dalam pendaftaran masuk perguruan tinggi, rekrutmen Aparatur Sipil Negara, seleksi jabatan, serta proses strategis lain yang membutuhkan indikator kuat mengenai wawasan kebangsaan, disiplin, dan komitmen kebangsaan peserta.
Lebih lanjut, UPNVJ juga memaparkan pengalaman implementasi Program Aktualisasi Bela Negara di lingkungan kampus. Dalam forum itu disampaikan bahwa model tersebut telah dikembangkan sebagai bagian dari penguatan kurikulum Bela Negara dan pembinaan karakter mahasiswa, serta dinilai memiliki potensi untuk diperluas sebagai praktik baik di lingkungan pendidikan tinggi.
Menanggapi paparan tersebut, pihak Bacadnas Kementerian Pertahanan menyampaikan apresiasi sekaligus ketertarikan terhadap model aktualisasi Bela Negara yang dijalankan UPNVJ. Ke depan, pendekatan semacam ini diharapkan dapat direplikasi secara lebih luas di berbagai perguruan tinggi sebagai bagian dari strategi nasional untuk membangun karakter, memperkuat ketahanan ideologi, dan menanamkan kesadaran kebangsaan pada generasi muda.
Bagi UPNVJ, penguatan Bela Negara memang bukan agenda sesaat. UPNVJ menempatkan identitas bela negara sebagai bagian dari arah institusinya, dan pada Februari 2026 Rektor UPNVJ, Prof. Dr. Anter Venus, juga telah menegaskan pentingnya pendekatan Bela Negara nirmiliter yang terintegrasi ke dalam pendidikan, riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat. Dalam kerangka itu, gagasan menjadikan sertifikasi Bela Negara sebagai indikator kompetensi kebangsaan memiliki relevansi kuat karena menghubungkan pembinaan karakter dengan kebutuhan strategis bangsa secara lebih terukur.
Rapat ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat sinergi lintas sektor agar nilai-nilai Bela Negara tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan dapat diimplementasikan secara sistematis, terukur, dan berdampak nyata bagi pembangunan nasional.