Belajar dari Pasien, Ananda Lulu Lulus Profesi Ners UPNVJ dengan IPK 4,00

HumasUPNVJ – Kelelahan fisik, mental, dan emosional selama menjalani praktik profesi ners tidak menghalangi Ananda Lulu Afirah meraih hasil akademik terbaik. Lulusan Pendidikan Profesi Ners Program Profesi, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ), itu berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan IPK sempurna, 4,00. Capaian tersebut diraih melalui konsistensi belajar, pengalaman langsung bersama pasien, serta dukungan keluarga, sahabat, dosen pembimbing, pembimbing klinik, dan rekan satu tim selama praktik profesi.

Bagi Ananda, pendidikan profesi ners bukan hanya tentang menyelesaikan tugas akademik. Ia harus berhadapan langsung dengan dinamika pelayanan kesehatan, kondisi pasien yang beragam, serta tuntutan profesionalisme di lapangan.

“Tantangan terbesarnya itu soal energi. Praktik profesi ners itu melelahkan banget, baik secara fisik, mental, maupun emosional. Semua terkuras,” ujar Ananda.

Ia mengaku ada banyak hari ketika tubuh dan pikirannya sudah berada di titik lelah, tetapi tanggung jawab sebagai mahasiswa profesi tetap harus diselesaikan. Laporan praktik, penugasan, dan kewajiban dinas menjadi bagian dari proses yang harus ia lalui dengan disiplin.

“Ada hari-hari di mana aku sudah merasa capek banget, tapi masih harus mengerjakan tugas dan laporan,” katanya.

Belajar Langsung dari Pasien

Berbeda dengan sebagian mahasiswa yang memiliki metode belajar khusus, Ananda menilai proses belajarnya berjalan sederhana. Ia berusaha menjaga ritme belajar secara konsisten sejak semester awal hingga memasuki tahap profesi.

Menurut Ananda, pendidikan profesi ners memberinya ruang untuk memahami ilmu keperawatan secara lebih nyata. Pembelajaran tidak hanya ia peroleh dari buku, tetapi juga dari pengalaman berinteraksi langsung dengan pasien, keluarga pasien, dan situasi klinik yang berubah setiap hari.

“Buat aku, belajar nggak cuma dari buku, tapi juga dari setiap pasien dan situasi yang aku hadapi langsung di lapangan,” tuturnya.

Pengalaman tersebut membentuk cara pandang Ananda terhadap profesi keperawatan. Ia belajar bahwa kemampuan akademik harus berjalan seiring dengan empati, ketelitian, komunikasi, dan tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

“Konsistensi buat aku bukan soal selalu sempurna, tapi soal bagaimana kita tetap berusaha untuk jalan meski lagi capek banget sekalipun,” ujarnya.

Dukungan Orang Terdekat

Di tengah tekanan praktik profesi, Ananda mengaku tidak berjalan sendirian. Dukungan orang-orang terdekat menjadi salah satu faktor penting yang membantunya bertahan hingga akhir pendidikan.

Ia banyak bersandar pada sahabat, teman satu tim saat dinas, dan keluarga di rumah. Bagi Ananda, dukungan emosional dari lingkungan sekitar membuat beban selama praktik terasa lebih ringan.

“Sahabat-sahabat aku jadi tempat curhat, teman satu tim saling support pas dinas, dan tentunya juga diiringi doa dan semangat dari keluarga,” katanya.

Selain keluarga dan teman, Ananda juga menyebut peran dosen pembimbing, penguji, pembimbing klinik atau clinical instructor (CI), serta pasien-pasien yang ia tangani selama praktik. Menurutnya, setiap pihak memberi pelajaran berbeda yang memperkaya pengalaman belajarnya sebagai calon tenaga kesehatan profesional.

“Tanpa mereka, ilmu yang aku dapat nggak akan seberharga ini,” ujarnya.

IPK Bukan Sekadar Soal Pintar

Raihan IPK 4,00 tidak membuat Ananda memandang keberhasilan akademik semata-mata sebagai hasil dari kecerdasan. Ia menilai ketekunan, tanggung jawab, dan dukungan lingkungan memiliki peran besar dalam membantu seseorang mencapai hasil terbaik.

“Orang yang rajin dan bertanggung jawab, meskipun nggak merasa dirinya paling pintar sekalipun, bisa banget mencapai hasil yang luar biasa,” katanya.

Ananda juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara belajar, praktik, dan istirahat. Menurut dia, tubuh yang sehat menjadi modal penting agar mahasiswa profesi ners dapat menjalankan praktik dengan optimal.

“Istirahat tetap aku prioritaskan karena kalau badan nggak fit, praktiknya juga nggak bisa maksimal,” tuturnya.

Pesan untuk Mahasiswa

Kepada mahasiswa lain, Ananda berpesan agar tidak terlalu sering membandingkan proses akademik diri sendiri dengan orang lain. Ia percaya setiap orang memiliki ritme perjuangan yang berbeda.

Menurutnya, hasil besar tidak selalu lahir dari langkah besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dijaga secara konsisten setiap hari.

“Jaga konsistensi, karena hasil yang besar itu lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus,” ujar Ananda.

Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk menghargai setiap proses, termasuk masa-masa sulit yang sering kali terasa melelahkan. Bagi Ananda, justru dari hari-hari berat itulah seseorang belajar bertumbuh dan memahami arti ketahanan diri.

“Hargai setiap proses yang ada, termasuk pada hari-hari yang berat, karena di situlah kamu benar-benar bertumbuh,” pungkasnya.

Capaian Ananda menjadi salah satu gambaran komitmen UPNVJ dalam mendorong lahirnya lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh, berempati, dan siap mengabdi di tengah masyarakat. Sejalan dengan arah kepemimpinan Rektor UPNVJ, Prof. Dr. Anter Venus, MA, Comm, keberhasilan mahasiswa seperti Ananda menunjukkan bahwa pendidikan tinggi harus membentuk insan profesional yang kompeten, berkarakter, dan memiliki kepedulian sosial dalam menjalankan profesinya.

 

Berita Sebelumnya

Dari Teknik Mesin ke Magister Hukum, Aslihatin Lulus dengan IPK 4,00 di UPNVJ

Berita Selanjutnya

Jadi Komuter Enam Jam Setiap Hari, Diajeng Dhea Annisa Lulus dari UPNVJ dengan IPK 3,98