HumasUPNVJ – Berasal dari latar belakang pendidikan nonhukum tidak menghalangi Aslihatin Zuliana untuk meraih prestasi akademik tertinggi di Program Studi Magister Hukum Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta atau UPNVJ. Lulusan S1 Teknik Mesin Universitas Brawijaya itu berhasil menyelesaikan studi magisternya dengan IPK sempurna, yakni 4,00. Capaian tersebut ia raih melalui ketekunan belajar, keberanian beradaptasi, serta dukungan keluarga, dosen, rekan kuliah, dan lingkungan kerja.
Perjalanan Aslihatin menempuh pendidikan Magister Hukum bukanlah proses yang mudah. Dengan latar belakang keilmuan yang berbeda, ia harus memahami berbagai konsep dasar hukum yang sebelumnya belum pernah ia pelajari secara mendalam, “Oleh karena background saya nonhukum, maka saya harus banyak melakukan penyesuaian diri,” ujar Aslihatin.
Strategi belajar yang paling membantu Aslihatin selama masa studi adalah aktif berdiskusi dengan sesama mahasiswa, memperkaya wawasan melalui jurnal dan literatur, serta tidak ragu mengonfirmasi pemahamannya kepada dosen. Baginya, proses belajar tidak berhenti pada membaca materi, tetapi juga perlu diuji melalui dialog dan penjelasan ulang, “Saya mencoba mengonfirmasi dengan dosen terkait pemahaman saya apakah sudah sesuai atau belum,” katanya.
Jalani Tiga Peran Sekaligus
Selama menjalani kuliah, Aslihatin harus membagi waktu di antara tiga peran penting, yakni sebagai pegawai, ibu rumah tangga, dan mahasiswa. Kondisi tersebut menuntutnya mengelola waktu secara disiplin agar seluruh tanggung jawab dapat berjalan beriringan.
Ia mengaku memanfaatkan waktu pagi sebelum bekerja dan malam hari untuk membaca literatur, menyusun tugas, serta memperdalam materi perkuliahan. Waktu santai pun kerap ia kurangi agar target akademik dapat tercapai, “Oleh karena saya sudah menyita waktu keluarga dan sebagian waktu kerja untuk kuliah, maka saya harus memanfaatkan waktu tersebut untuk hasil yang paling optimal semampu saya,” tutur Aslihatin.
Bagi Aslihatin, keterbatasan waktu justru menjadi dorongan untuk belajar lebih sungguh-sungguh. Ia merasa perlu memberikan hasil terbaik karena proses pendidikan yang ditempuhnya juga melibatkan pengorbanan keluarga dan dukungan lingkungan kerja, “Mengurangi sedikit waktu santai untuk menyelesaikan tugas,” ujarnya.
Tantangan Memahami Ilmu Hukum
Sebagai mahasiswa dengan latar belakang nonhukum, tantangan terbesar Aslihatin adalah memahami fondasi ilmu hukum sejak awal. Ia harus menyesuaikan cara berpikir dari bidang teknik ke bidang hukum yang memiliki pendekatan, istilah, dan kerangka analisis berbeda.
Untuk mengatasi tantangan itu, Aslihatin membangun kebiasaan berdiskusi. Tidak hanya dengan dosen, ia juga kerap berdialog dengan teman sekelas untuk memastikan pemahamannya tidak keliru.
“Tidak hanya ke dosen, tetapi ke rekan sesama mahasiswa saya mencoba menjelaskan ulang pemahaman saya untuk mendapatkan konfirmasi kesesuaiannya,” katanya.
Kebiasaan tersebut juga ia terapkan saat menyusun tesis. Aslihatin aktif berkonsultasi dengan dosen pembimbing agar penelitian yang ia kerjakan sesuai dengan kaidah keilmuan hukum dan memiliki argumentasi akademik yang kuat.
Dukungan Keluarga dan Lingkungan Belajar
Aslihatin menyadari bahwa capaian akademiknya tidak diraih seorang diri. Ia menyebut dukungan dosen, teman kuliah, keluarga, dan rekan kerja sebagai bagian penting dari keberhasilannya menyelesaikan studi.
Secara khusus, ia mempersembahkan pencapaian tersebut kepada suami dan anak-anaknya yang telah memberi ruang dan pengertian selama ia menjalani perkuliahan, “Pencapaian ini saya persembahkan untuk keluarga tercinta, suami dan anak-anak yang merelakan waktu keluarga untuk saya gunakan kuliah dan belajar,” ujar Aslihatin.
Selain keluarga, Aslihatin juga merasa terbantu oleh suasana akademik di kelas Magister Hukum UPNVJ yang suportif. Menurutnya, lingkungan belajar yang terbuka dan saling mendukung membuat proses adaptasi menjadi lebih mudah, “Tanpa mereka saya tidak mendapatkan ekosistem belajar yang baik,” katanya.
Tekun dan Jangan Malu Bertanya
Bagi Aslihatin, meraih IPK tinggi bukan hanya soal kecerdasan, tetapi juga konsistensi, kesungguhan, dan keberanian untuk bertanya ketika belum memahami materi. Ia percaya proses belajar akan lebih bermakna jika mahasiswa datang ke kampus dengan niat mencari ilmu, bukan sekadar mengejar nilai, “Kuncinya adalah kesungguhan hati untuk menuntaskan setiap tugas dan setiap apa yang telah kita mulai dengan konsistensi seoptimal mungkin,” tuturnya.
Ia juga berpesan kepada mahasiswa lain agar tidak malu meminta penjelasan kepada dosen maupun berdiskusi dengan teman ketika menghadapi kesulitan akademik, “Jangan segan untuk bertanya jika belum paham dan luruskan niat bahwa kita datang ke kampus semata-mata untuk mendapatkan ilmu dan pemahaman,” pungkasnya.
Kisah Aslihatin menjadi salah satu bukti bahwa UPNVJ terus membuka ruang bagi mahasiswa dari beragam latar belakang untuk berkembang dan meraih prestasi. Semangat belajar sepanjang hayat, ketangguhan menghadapi tantangan, serta dukungan ekosistem akademik yang inklusif sejalan dengan komitmen UPNVJ dalam mencetak lulusan yang adaptif, kompeten, dan berkarakter bela negara.