HumasUPNVJ – Perjalanan Indria Putri Maharani menuju hari wisuda bukan proses yang mudah. Mahasiswi Program Studi S1 Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ), itu harus melewati keterbatasan ekonomi, tekanan mental, dan dinamika akademik sebelum akhirnya dinobatkan sebagai salah satu lulusan terbaik pada Wisuda ke-76 UPNVJ. Bagi Indria, wisuda menjadi bukti bahwa ketekunan, dukungan keluarga, dan keyakinan pada proses mampu mengantarkannya mencapai titik yang selama ini diperjuangkan.
“Pastinya tidak mudah, tetapi semua prosesnya benar-benar worth it. Dari setiap hambatan itu saya jadi banyak belajar dan berkembang,” ujar Indria.
Perjalanan Indria menuju bangku kuliah dimulai sejak masa SMA. Ia diterima di UPNVJ melalui jalur undangan setelah berupaya keras agar dapat melanjutkan pendidikan tinggi di kampus tersebut. Kesempatan itu menjadi awal dari perjalanan panjang yang tidak hanya menuntut kemampuan akademik, tetapi juga ketahanan mental.
Selama menempuh pendidikan, Indria merupakan penerima Uang Kuliah Tunggal atau UKT Golongan 1. Ia mengaku sangat terbantu dengan kebijakan biaya pendidikan tersebut, terutama di tengah kondisi ekonomi keluarga yang terbatas. Menurutnya, dukungan UPNVJ memberi ruang bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk tetap memiliki kesempatan yang sama dalam meraih pendidikan tinggi.
“Saya sangat bersyukur karena UPNVJ benar-benar membantu saya di tengah keterbatasan ekonomi. Selama kuliah juga saya tidak pernah merasa dibedakan,” ujarnya.
Meski mendapatkan dukungan biaya pendidikan, perjalanan akademik Indria tidak selalu berjalan mulus. Ia sempat menghadapi tekanan mental dan kendala finansial yang membuat proses kuliahnya terasa lebih berat. Indria juga mengaku tidak lulus tepat waktu, sebuah kenyataan yang sempat menjadi tantangan tersendiri baginya.
Namun, keterlambatan itu tidak membuat Indria menyerah. Ia memilih untuk terus bertahan, menyelesaikan setiap proses secara perlahan, dan menerima bahwa setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing.
“Saya selalu percaya bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing. Jadi, saya fokus pada proses saya sendiri dan tetap berjalan pelan-pelan,” kata Indria.
Di balik perjuangan tersebut, keluarga menjadi sumber kekuatan terbesar bagi Indria. Ia menyebut ibu dan neneknya sebagai alasan utama untuk tetap kuat dalam menyelesaikan studi. Gelar yang ia raih tidak hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga bentuk persembahan untuk keluarga yang selama ini mendampingi dan mendoakannya.
“Ibu dan nenek saya yang selalu menjadi alasan saya untuk terus kuat, karena gelar ini juga saya persembahkan untuk mereka,” tuturnya.
Bagi Indria, wisuda bukan sekadar seremoni kelulusan. Momen tersebut menjadi penanda bahwa perjuangan panjang yang ia lalui akhirnya membuahkan hasil. Ia berharap kisahnya dapat menjadi pengingat bagi mahasiswa lain yang sedang menghadapi keterbatasan, terutama dari sisi ekonomi, agar tidak kehilangan kepercayaan diri.
“Jangan minder dengan keadaan. Tetap percaya pada diri sendiri dan terus berjalan, karena keterbatasan bukan berarti kita tidak bisa sampai tujuan,” ujarnya.
Indria menegaskan bahwa keterbatasan seharusnya tidak menjadi alasan untuk berhenti. Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menjadi dorongan untuk terus berjuang dan membuktikan kemampuan diri.
“Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti, tetapi alasan untuk terus berjuang,” kata Indria.
Kisah Indria menjadi salah satu potret nyata bahwa pendidikan tinggi dapat membuka ruang mobilitas sosial bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang. Bagi UPNVJ, keberhasilan Indria sejalan dengan komitmen universitas dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif, berkeadilan, dan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk berkembang sesuai potensi terbaiknya.