Rektor UPNVJ Tekankan Pentingnya Sea Power dalam Seminar Blokade Selat Hormuz

HumasUPNVJ – Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Blokade Selat Hormuz: Krisis Global, Keamanan Maritim, dan Pelajaran Strategis untuk Indonesia” di Laboratorium Diplomasi FISIP UPNVJ, Selasa, 19 Mei 2026. Kegiatan ini menghadirkan Laksamana TNI (Purn.) Dr. Ade Supandi, S.E., M.A.P., mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut periode 2014–2018, serta Dr. Syahrul Salam, S.Pd., M.Si., Dosen Hubungan Internasional UPNVJ. Seminar dipandu oleh Winda Eka Pahla Ayuningtyas, S.Pd., M.A. sebagai moderator.

Rektor UPNVJ, Prof. Anter Venus, dalam sambutannya menegaskan bahwa isu Selat Hormuz tidak hanya penting dalam kajian akademik, tetapi juga berkaitan langsung dengan kepentingan nasional Indonesia. Menurutnya, dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah perlu dibaca secara kritis karena dapat memengaruhi stabilitas energi, perdagangan internasional, dan keamanan maritim global.

“Saya sangat mengapresiasi pilihan tema seminar hari ini. Tema ini bukan hanya relevan secara akademik, tetapi juga sangat tepat waktu di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang terus membayangi stabilitas global,” ujar Prof. Venus.

Prof. Venus menjelaskan, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran strategis dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Jalur ini menjadi titik penting distribusi minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah menuju pasar internasional.

Berdasarkan data U.S. Energy Information Administration, arus minyak melalui Selat Hormuz pada 2024 dan triwulan pertama 2025 mencakup lebih dari seperempat perdagangan minyak dunia melalui laut, sekitar seperlima konsumsi minyak dan produk petroleum global, serta sekitar seperlima perdagangan gas alam cair dunia. Data ini menunjukkan bahwa gangguan di kawasan tersebut dapat membawa dampak luas bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

“Meskipun Selat Hormuz berada ribuan kilometer dari wilayah Indonesia, gangguan atau blokade di jalur tersebut akan berdampak langsung pada kita. Ini menunjukkan betapa terintegrasinya ekonomi dan keamanan kita dengan dinamika global,” jelasnya.

Ia menambahkan, dampak yang perlu diantisipasi antara lain kenaikan harga minyak dunia, tekanan inflasi, peningkatan beban impor energi, serta gangguan rantai pasok global. Karena itu, isu keamanan maritim tidak dapat dipandang sebagai isu kawasan semata, melainkan sebagai bagian dari tantangan strategis yang memengaruhi ketahanan nasional.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas jalur pelayaran internasional. Kebebasan navigasi, keamanan laut, dan kelancaran perdagangan maritim menjadi bagian penting dari kepentingan nasional yang harus terus diperkuat melalui diplomasi, kesiapan pertahanan, serta pengembangan pengetahuan strategis.

Prof. Venus juga menegaskan bahwa seminar ini sejalan dengan jati diri UPNVJ sebagai Kampus Bela Negara. Menurutnya, bela negara tidak hanya diwujudkan melalui aspek pertahanan fisik, tetapi juga melalui penguatan kapasitas intelektual, riset, dan diskusi akademik yang berpihak pada kepentingan bangsa.

“Seminar hari ini adalah bukti nyata dari komitmen tersebut. Mengkaji isu keamanan maritim, chokepoint politics, sea power, maritime domain awareness, dan diplomasi internasional bukan hanya tugas para diplomat atau perwira militer, tetapi juga tugas intelektual kita semua,” ungkapnya.

Kehadiran dua narasumber dengan latar belakang berbeda dinilai memperkaya pembahasan seminar. Laksamana TNI (Purn.) Dr. Ade Supandi memberikan perspektif praktis dari bidang pertahanan dan keamanan maritim, sementara Dr. Syahrul Salam menghadirkan sudut pandang akademik dalam kajian hubungan internasional.

Melalui kombinasi tersebut, mahasiswa dan peserta seminar diharapkan mampu memahami posisi strategis Selat Hormuz dalam peta geopolitik global. Forum ini juga menjadi ruang pembelajaran untuk menganalisis dampak gangguan keamanan maritim terhadap stabilitas energi, perdagangan internasional, hukum laut, dan diplomasi global.

Rektor berharap seminar ini tidak berhenti sebagai ruang diskusi, tetapi dapat berkembang menjadi karya ilmiah, rekomendasi kebijakan, dan bekal pemikiran strategis bagi generasi muda. Bagi UPNVJ, penguatan kajian keamanan maritim merupakan bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam membangun kesadaran bela negara yang relevan dengan tantangan global.

“Saya berharap gagasan, analisis, dan rekomendasi yang lahir dari forum akademik ini dapat ditindaklanjuti menjadi karya ilmiah, rekomendasi kebijakan, atau setidaknya menjadi bekal pemikiran strategis bagi generasi muda penerus bangsa,” tutupnya.

Berita Sebelumnya

48 Dosen UPNVJ Ikuti Pelatihan dan Sertifikasi Asesor Kompetensi BNSP

Berita Selanjutnya

UPNVJ Perkuat Persiapan Kampus 3 melalui Koordinasi dengan Pemerintah Desa Sukamantri