GBNI Gelar Mukernas di UPNVJ, Perkuat Gerakan Bela Negara Nasional

HumasUPNVJ – Gerakan Bela Negara Indonesia (GBNI) menggelar Pelantikan Dewan Pengurus Pusat, Focus Group Discussion (FGD), dan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ), Kampus Pondok Labu, Jakarta Selatan, Sabtu (15/8/2026). Rangkaian bertema “Dilantik, Berdiskusi, Bekerja” itu menjadi momentum konsolidasi kepengurusan sekaligus penyusunan arah organisasi dan program penguatan bela negara. Melalui forum tersebut, GBNI bekerja sama dengan UPNVJ mendorong terbentuknya jejaring dan model pendidikan bela negara yang dapat dikembangkan dari tingkat nasional hingga daerah.

Kegiatan melibatkan pengurus baru GBNI, perwakilan wilayah dan Dewan Pengurus Daerah (DPD), akademisi, serta dosen Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK). Hadir Ketua Umum GBNI Drs. H. Abu Hasan, M.Pd.; Ketua Harian GBNI Prof. Dr. H. Mansyur Achmad KM, M.Si.; Kepala BACADNAS Letjen TNI Gabriel Lema; Sekretaris Jenderal GBNI Agung RC Prabowo, S.E., M.M.; serta Rektor UPNVJ Prof. Dr. Anter Venus, MA, Comm.

Pelantikan Dewan Pengurus Pusat menjadi pembuka rangkaian sebelum forum dilanjutkan dengan pembahasan substantif melalui FGD dan Mukernas. Dengan pola tersebut, pengukuhan pengurus tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi titik awal penyelarasan program kerja, penguatan jaringan organisasi, dan perumusan strategi gerakan bela negara.

FGD membahas dua agenda utama, yakni arah gerak organisasi GBNI periode 2025–2028 dan strategi penguatan bela negara di pedesaan. Kepala BACADNAS Letjen TNI Gabriel Lema memberikan keynote speech sebelum peserta memasuki sesi pembahasan dan perumusan rekomendasi.

Rektor UPNVJ Prof. Dr. Anter Venus, MA, Comm menjadi salah satu pemantik dalam pembahasan strategi bela negara. Ia menekankan pentingnya membangun gerakan bela negara secara nasional dengan melibatkan pemerintah pusat dan daerah, organisasi kepemudaan, sekolah, perguruan tinggi, serta masyarakat.

“Seluruhnya sepakat bahwa kita ingin menyebarkan gagasan, termasuk kita ingin membangun Gerakan Bela Negara secara nasional. Salah satu wujudnya lewat pelatihan-pelatihan, lewat Pendidikan Bela Negara,” kata Venus.

Menurut Venus, penguatan jaringan menjadi salah satu faktor penting karena implementasi bela negara membutuhkan kolaborasi lintas lembaga. Ketika program dikembangkan di daerah, GBNI dapat membangun kemitraan dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), satuan pendidikan, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya.

“GBNI ketika nanti ke daerah juga akan berpartner bukan hanya dengan instansi pemerintah seperti Kesbangpol, tapi juga mungkin sekolah, perguruan tinggi di daerah, dan sebagainya,” ujarnya.

Salah satu agenda yang mendapat perhatian ialah penyusunan model pendidikan dan pelatihan bela negara yang dapat diterapkan di berbagai wilayah. Venus mengatakan UPNVJ dan GBNI didorong menyusun pedoman dan kurikulum agar pelaksanaan pendidikan bela negara mempunyai arah serta standar yang jelas.

“Yang diminta ke kita, bagaimana caranya GBNI bersama UPNVJ merancang pedoman, merancang kurikulum untuk diterapkan di seluruh Indonesia,” kata Venus.

Pedoman tersebut diharapkan mengatur tujuan program, materi pembelajaran, durasi pelatihan, kualifikasi pengajar, pihak yang terlibat, pola kemitraan, hingga skema pendanaan.

“Output-nya adalah pedoman, kurikulum untuk pelatihan di daerah,” ujarnya.

Bagi UPNVJ, forum tersebut sekaligus memperkuat peran Kampus Bela Negara sebagai ruang pengembangan gagasan, pendidikan, dan jejaring kebangsaan. Venus mendorong agar konsolidasi ini menghasilkan langkah konkret, terutama pedoman dan kurikulum pendidikan bela negara yang dapat digunakan secara lebih luas sebagai instrumen membangun ketahanan masyarakat menghadapi tantangan nasional yang terus berkembang.

Berita Sebelumnya

Anter Venus: Bela Negara Kini Harus Hadapi Perang Kognisi, Narasi hingga AI