HumasUPNVJ – Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) melalui Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), menggelar seminar nasional bertajuk “Tantangan Dunia Multipolar Negara-Negara Selatan terhadap Neokolonialisme” di Auditorium Mulyono Sudirman, Fakultas Kedokteran UPNVJ, Pondok Labu, Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2026). Seminar ini menghadirkan Mani Eriza, Kepala Pusat Strategi Kebijakan Multilateral, Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri (BSKLN), Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, sebagai pembicara utama. Forum tersebut membahas perubahan tatanan geopolitik global, tantangan negara-negara Selatan (Global South), serta posisi strategis Indonesia dan ASEAN dalam menghadapi neokolonialisme melalui penguatan diplomasi dan politik luar negeri bebas aktif.
Seminar nasional ini menjadi ruang dialog antara akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan untuk mengkaji perubahan konfigurasi kekuatan dunia menuju sistem multipolar. Pergeseran tersebut menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi negara-negara berkembang dalam mempertahankan kedaulatan, memperkuat kerja sama internasional, dan memperjuangkan kepentingan nasional di tengah persaingan geopolitik global.
Plt. Wakil Rektor Bidang Akademik UPNVJ, Henry Binsar H. Sitorus, yang membuka kegiatan tersebut, menekankan pentingnya kontribusi perguruan tinggi dalam merespons perkembangan geopolitik internasional melalui penguatan kajian akademik, pertukaran gagasan, dan diskusi kritis.
Menurutnya, dinamika global yang semakin kompleks menuntut perguruan tinggi untuk tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga berperan dalam menghasilkan pemikiran strategis yang relevan dengan berbagai persoalan bangsa dan dunia.
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan ruang dialog akademis yang mampu mempertemukan berbagai perspektif, khususnya dalam memahami perubahan tatanan dunia. Melalui forum seperti ini, kita berharap lahir pemikiran kritis, objektif, dan konstruktif yang dapat memberikan kontribusi bagi penguatan posisi Indonesia dalam percaturan internasional,” ujar Henry.
Ia berharap seminar tersebut dapat meningkatkan kapasitas akademik mahasiswa dan dosen dalam memahami isu hubungan internasional, diplomasi, geopolitik, serta tantangan mempertahankan kedaulatan negara di tengah perubahan tatanan global.
Kehadiran Mani Eriza sebagai pembicara utama memberikan perspektif kebijakan luar negeri dalam pembahasan mengenai dinamika multilateralisme dan posisi Indonesia di tengah perubahan geopolitik internasional. Forum ini juga menjadi sarana untuk mengkaji peran diplomasi Indonesia dalam memperkuat kerja sama antarnegara serta menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Selain Mani Eriza, seminar menghadirkan Marsekal Pertama TNI (Purn.) R. Agung Sasongkojati, pengamat geopolitik dan militer; Ahmad Shaleh Bawazir, Direktur Kerja Sama Politik Keamanan ASEAN Kementerian Luar Negeri RI; Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si., Ketua Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional DPP Partai Golkar; Musa Maliki, Ph.D., dosen Hubungan Internasional UPNVJ; serta Hendrajid, Direktur The Global Future Institute (GFI). Diskusi dipandu oleh Muhammad Ma'ruf, Ph.D.
Melalui perspektif diplomasi, pertahanan, politik, dan akademik, pembahasan diarahkan pada sejumlah persoalan strategis, antara lain eskalasi konflik internasional, tantangan terhadap multilateralisme, penegakan hukum internasional, perlindungan hak asasi manusia, serta upaya negara-negara Selatan membangun hubungan global yang lebih berimbang.
Salah satu perhatian utama forum ini adalah relevansi prinsip politik luar negeri bebas aktif dalam menghadapi perubahan konfigurasi kekuatan dunia. Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk mempertahankan kemandirian kebijakan luar negeri sekaligus memperkuat kemitraan strategis dengan berbagai negara tanpa terjebak dalam persaingan kepentingan kekuatan besar.
Dalam konteks kawasan, ASEAN memiliki posisi penting dalam menjaga stabilitas, memperkuat ketahanan regional, dan membangun solidaritas antarnegara. Kerja sama kawasan menjadi salah satu pendekatan yang dibahas untuk menghadapi ketimpangan hubungan internasional serta berbagai bentuk dominasi politik dan ekonomi yang berkaitan dengan neokolonialisme.
Seminar ini turut melibatkan unsur Kementerian Luar Negeri, kalangan diplomatik, akademisi, mahasiswa, dan pemangku kepentingan di bidang hubungan internasional. Pertemuan lintas sektor tersebut diharapkan dapat memperkaya perspektif peserta sekaligus memperluas pemahaman mengenai tantangan dan peluang Indonesia dalam tatanan dunia multipolar.
Bagi UPNVJ, penyelenggaraan seminar nasional ini merupakan bagian dari penguatan peran perguruan tinggi dalam menghadirkan kajian akademik yang relevan dengan perkembangan global. Kegiatan tersebut juga mendukung peningkatan kompetensi mahasiswa dalam menganalisis persoalan hubungan internasional secara kritis, objektif, dan berbasis keilmuan.
Melalui kegiatan ini, UPNVJ menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan ruang dialog akademik yang berkontribusi terhadap pemahaman isu strategis nasional dan internasional. Langkah tersebut sejalan dengan semangat Bertransformasi Meraih Keunggulan melalui penguatan tridarma perguruan tinggi serta pengembangan pemikiran yang bermanfaat bagi bangsa dan masyarakat global.
Kerabat Kerja
---------------------------------
Penulis: Anisa Triselia | Penyelaras Bahasa: F. Noor